Category Archives: Setengah baya

IBu Kos Berdaster

20
Filed under Setengah baya

hi, namaku jaya matsani saat ini aku mahasiswa PTS di Sidoarjo kota udang. umur 21 tahun berbadan agak gemuk dan yang pasti aku sangat sesuai dengan kepercayaan yang beredar di masyarakat semakin gemuk seseorang maka semakin besar juga nafsu seks nya. aku pengen bagi cerita mengenai skandal seks ku bersama ibu kos ya.. agak tua lah tapi daripada gak ada aku setuju untuk menyetubuhinya. that’s the story:
saat itu adalah minggu tenang di kampusku kebetulan hari itu adalah hari pertama minggu tenang berlangsung dan tentu saja kos2an sepi bukan main karena anak2 yang rumah asalnya deket mereka pada pulang dan seperti minggu2 tenang sebelumnya aku sendirian di kos karena rumahku paling jauh sendiri (banyuwangi bos!) lagipula aku memang gak betah kalo tinggal di rumah. saat itu aku bangun pagi sekitar jam 8 langsung saja aku buka jendela kamarku yang berada di belakang itu dan kamarku berbatasan langsung dengan halaman rumah ibu kos ku. saat itu kulihat bu kos sedang asyik mencuci baju di halaman rumah nya entah sengaja atau tidak bu kos saat itu hanya memakai daster you can see yang sudah usang jadi kain nya udah sangat tipis sekali sehingga aku leluasa melihat cetakan bra dan cd nya seketika itu juga aku perhatikan keadaan itu hingga pikiran ngeres ku muncul bernetetan akhirnya aku buka celanaku lalu mulai kukocok penis besar ku yang sering ku kocok ini bisa sehari 5 kali aku kocok penisku. setelah agak lama daster bu kos semakin basah terkena cipratan air cucian nya sehingga semakin kelihatan cetakan bra nya hal itu semakin menambah naik libido ku dan akhirnya mani ku keluar karena kocokan tangan ku ah… nikmat kali hari ini bangun tidur ku terus ngocok!! setelah keluar maniku aku mencoba keluar untuk mandi di kamar mandi yang bersebelahan dengan tempat bu kos mencuci! aku sengaja bertelanjang dada barangkali bu kos tertarik dengan badan ku. langsung aja aku action mandi di kamar mandi tapi sebenernya aku ngocok lagi di dalam kunikmati sekali belaian tanganku dalam mengocok dan ketika mencapai puncak nya sengaja ku keraskan suaraku agar bu kos mendengar suaraku ketika aku mencapai klimaks! ah…. ini kedua kali nya aku mengeluarkan cairan putih ku. tak berlama-lama lagi aku segera menyelesaikan mandiku dan segera keluar kamar mandi. ketika dalam perjalanan menuju kamarku bu kos yang aku lewati memanggil ku untuk duduk di dekatnya untuk menemani ngobrol. langsung saja aku menyetujui nya.
untuk berbasabasi aku tanya apakah bapak udah berangkat ke kantor? bu kos dengan yakin nya menjawab “sudah kok dik tadi jam setengah tujuh”. batinku berkata “yes pancinganku berhasil”. bu kos pun tak kalah actingnya dengan aku ketika tengah ngobrol beliau tiba2 mencopot daster bagian atas nya dan “berkata basah dik kuatir kalo nanti masuk angin” batinku kembali berkata “yeessss!!!” semakin leluasanya aku untuk melihat payudaranya yang besar walau masih di balut bra warna putih gading seperti kebanyakan wanita setengah baya lainnya. setelah action dengan membuka daster atas nya tak lama beliau membuka semua dasternya yang sudah basah itu merosot dari atas ke bawah beliau beralasan kalo daster nya mau dicuci sekalian sambil bertanya “kamu gak keberatan to kalo ibu gak pake baju kaya gini?” aku langsung menjawab dengan jawaban mantabb “tidak buk gak papa kok” setelah itu beliau melanjutkan mencucinya sembari tanya kepadaku “tadi ngapain di kamar mandi kok sampai teriak ah.. segala?” aku langsung menjawab dengan mantap lagi “gak pa pa kok buk biasa pria2 kesepian”, “ohh…” jawab beliau sembari terus mencuci dasternya. tak lama berselang beliau menawari untuk mencucikan celanaku sekalian, tanpa berpikir lama aku langsung menjawab “iya buk nitip ya” kulepas dengan perlahan celanaku tanpa melepas cd ku. ketika beliau mencuci celanaku kuperhatikan badannya yang masih lumayan kenceng itu dan perlahan-lahan penis ku mulai mengeras.
setelah mencucinya selesai beliau mempersilahkan aku masuk kerumahnya dan dipersilahkan nya aku di ruang tamu beliau yang berhadapan langsung dengan tv flat 21 inch nya. saat itu kami berdua hanya memakai pakaian dalam saja. tak lama berselang beliau minta ijin untuk masuk sebentar ke kamar. aku pikir beliau pasti pake baju di dalam kamar. “waduh hilang deh pemandangan asyik ku” batinku. tapi ketika keluar kamar beliau keluar malah pakai lingerie nya yang semrawang dan mini itu dan kembali beliau bertanya apakah aku keberatan beliau pakai baju itu. lalu kami ngobrol di ruang tamu sembari ngobrol beliau pergi ke arah tv nya sembari menyalakan stereo set nya yang ada di bawah tv aku pikir “pasti ibu mau nyetel bf nich” dan tak lama muncul gambar wanita tanpa busana di layar tv nya. ternyata dugaan ku benar beliau nyetel bf. lalu kami nikmati berdua film itu dengan duduk bersebelahan di sofa nya yang empuk dan halus itu. tak lama berselang setelah film mencapai klimaksnya beliau mulai mengarahkan jarinya ke arah kemaluannya dan beliau mulai mengusap usap kemaluan nya dengan jarinya. “dik aku jadi nafsu nich tolong usapin donk vagina ibu sekalian kalo bersedia jilatin ya biar tambah asyik..” tanpa ba bi bu aku langsung menjilati vagina nya dan beliau pun mulai menggelinjang keenakan “ah… ah….. enak dik jilat lagi dik… teruskan aja” tak sampai dua menit beliau pun menggelinjang hebat karena cairan nya mulai keluar dari lubang kemaluan nya dan “ah ah ah ah…….. bagus dik sekarang dilirianmu ya” sambil di rebahkan aku ke sofa nya dia membuka cd ku dan langsung mengocok penisku clek.. clek…clek “enak nian emutan ibu satu ini terus buk” dikulumnya semua penis ke dalam mulutnya ah.. ah… buk aku mau keluar nich. gak pa pa dik keluarin aja di mulutku. akhirnya aku keluarin cairan putih ku di mulutnya dan langsung beliau telan maniku. dijilat-jilat penisku hingga bersih tak ada mani sama sekali di penisku. sekarang masuk ke vagina ya dik tapi pelan-pelan aja biar asyik jangan terburu-buru. waduh pengalaman bener ibu ini. tanpa keraguan aku mulai memasukan penisku di vaginanya beliau mulai menggelinjang lagi setelah tusukan pertamaku wah… enak nich batinku. lalu mulai ku pompa pelan-pelan penisku ke dalam kemaluannya. ah… ah…. enak dik… semakin lama semakin cepat ya biar tambah asyik. ku tambah kecepatanku dalam memompa penisku tambah cepat tambah cepat dan semakin cepat. seiring dengan bertambahnya kecepatanku erangan bu kos semakin cepat pula. ah….. ahh… ah… ah.. ah…. ah…. terus dik terus tambah kecepatannya…. iya buk saya mau keluar nich… keluarin di dalam aja dik gak pa pa kok…. ibu juga mau keluar nich. ah… ah… dik terus dik… ceplek… ceplek.. ceplek….. ah… ah.. ibu keluar dik…. saat itu kurasakan penisku terjepit di vaginanya aduh buk sedikit lagi… aku terus memompa penisku walau beliau sudha keluar. buk… sebentar lagi….. ah….. ah….. ah…. buk keluar nich…. ah….. cairan putih itu keluar lagi untuk ke empat kalinya. ah hebat kamu dik ibuk kalah ama kamu… sembari berdiri beliau berkata “udah ya main nya besok lagi ya udah siang nich sebentar lagi bapak pulang mau berbenah dulu ya” wah kok cepat sih buk kan baru 1 kali keluar rayuku” iya besok lagi sepuasmu kita main lagi tapi sekarang udah siang sana balik ke kamarmu coli aja sendiri di kamar mu sana. memang bikin penasaran ibu kos ku ini. yah… gak papa lah buk besok lagi ya…. dah…..

Bonus:

Pijatan Guru Olahraga

12
Filed under Setengah baya

Aku adalah seorang isteri dari seorang karyawan swasta. Aku punya anak dua. Yang kedua kelas satu. Aku sering nungguin anakku yang kedua di sekolahnya, terutama waktu olah raga.
Guru olah raga anakku bernama Pak Jono. Ia suka sekali bercanda dan berhumor. Tubuhnya tinggi, kurang lebih 175 cm dan berbadan besar dan kekar. Warna kulit agak hitam. Ia baru saja bercerai dengan isteri 4 bulan yang lalu. Jadi ia seorang duda. Selain ia guru olah raga, ia pun pintar memijat. Banyak guru lain minta dipijet olehnya.
Ketika olah raga seperti biasanya ia memakai celana training. Sambil menunggu anakku aku memperhatikan ia yang sedang olah raga bersama murid-murid kelas dua. Begitu aku memperhatikan diantara selangkangannya aku lihat tonjolan yang memanjang dan besar. Aku berkata dalam hatiku, wuh panjang dan besar sekali barangnya.
Suamiku hobi dipijat. Tukang pijat langganannya selama ini adalah pemijat tunanetra.
“Guru olah di sekolah anak kita pintar memijat, ngerti urat lagi katanya. Coba saja mas!” kubilangi suamiku.
“Boleh juga kita panggil ke sini malam minggu depan. Mau enggak dia ngurut malam-malam?”
“Enggak tahu ya .. Coba aku tanyakan besok ya.”
Keesokan harinya aku pergi ke sekolahan dan bertemu dengan Pak Jono.
“Pak, mau enggak mijetin suami saya?” tanyaku. “Tapi kalo bisa malam hari, Pak.”
“Boleh juga asalkan ongkosnya mahal,” katanya sambil bercanda.
Setelah suamiku pulang kantor sambil makan malam aku ceritakan padanya bahwa Pak Jono mau.
“Boleh panggil ke sini tapi malam sekitar jam 22.00,” kata suamiku.
Sampai waktu yang ditentukan Pak Jono datang ke rumahku. Ia ngobrol dengan suamiku sambil bercanda sehingga baru saja kenal suamiku merasa akrab dengannya. Aku duduk di dekat suamiku menemaninya. Kemudian suamiku menyuruhku merapikan kamar depan dekat ruang tamu.
Mulailah suamiku dipijet oleh Pak Jono sambil ngobrol ngalor-ngidul. Pak Jono banyak ngebanyol karena memang ia hobi bercanda. Aku nonton TV sambil tiduran di sofa ruang tamu ngedengerin obrolan Pak Jono dan suamiku.
Suamiku mulai bercerita agak serius dengan suara pelan-pelan.
“Aku ini tidak kuat dalam dalam hubungan seksual. Kenapa, ya? Jadinya isteriku suka marah-marah kalau hubungan intim. Kalau Pak Jono bagaimana dengan isteri Anda?”
“Saya sekarang duda sudah 4 bulan. Kalau dulu sebelum cerai saya kebalikan bapak. Ia kewalahan dengan kemampuan saya sampai ia minta cerai.”
“Wah, hebat kamu ini, Pak.”
Pak Jono yang biasanya suka bercanda mulai berbicara serius.
“Mungkin Bapak terlalu lelah, atau mungkin punya Bapak terlalu kecil dan pendek. Bapak urut yang membesarkan dan memanjangkan saja. Saya hanya bisa mengeraskan saja. Kalau memanjangkan dan membesarkan aku tidak bisa,” katanya pada suamiku.
“Wah, tukang urut yang memanjangkan dan membesarkan itu banyak yang bohong,” kata suamiku.
“Ada yang bener, Pak. Ada teman saya berhasil dari 13 menjadi 17 cm dan menjadi besar lagi,” kata Pak Jono berusaha meyakinkan.
“Pak Jono pernah nyoba enggak?” tanya suamiku selanjutnya.
“Saya tidak perlu karena punya saya sudah sangat panjang dan besar. Panjangnya 19 cm dan besarnya 4,5 inch,” jawab Pak Jono sambil tertawa. “Kalau punya bapak berapa?”
“Punya saya panjangnya 12 cm besarnya 2,5 inch.”
Mendengar obrolan suamiku dan Pak Jono aku berkata dalam hatiku.
“Wuh… besar dan panjang sekali punya Pak Jono, pantesan tonjolannya panjang dan besar dan itu belum bangun. Apalagi kalau barangnya sudah bangun.”
Aku jadi berkhayal, kalau seandainya…. Wah, nikmat sekali…
Setelah mereka selesai aku pura-pura tidur. Kemudian suamiku membangunkan aku.
“Bagaimana, Mas? Cocok enggak pijetan Pak Jono?” tanyaku setelah Pak Jono pulang.
“Wah bagus sekali, lebih bagus daripada langganan saya. Sekarang saya mau langganan sama Pak Jono saja. Saya sudah bilang kalau saya mau pijet tiap malam minggu.”
“Kalau kamu mau juga, boleh coba malam minggu depan. Pijetannya bagus kok. Badanku rasanya enteng dan enak sekali,” kata suamiku
“Aku mau, tapi malu mas, nanti ia cerita di sekolahan.”
“Ya enggak sih, nanti kita bilangin jangan cerita-cerita pada orang lain.”
Keesokan harinya saya ketemu Pak Jono. Sambil tersenyum, ia langsung bertanya padaku.
“Bagaimana Bu? Cocok enggak Bapak dengan pijetan saya?” tanya Pak Jono padaku.
“Cocok sekali… Malam minggu depan bapak disuruh suamiku pijet lagi. Bahkan suamiku mau langganan.”
“Ya.. Bapak sudah bilang sama saya.”
Setelah suamiku menawarkan untuk diurut oleh Pak Jono, hatiku tidak karuan, membayangkan bermacam-macam, bercampur takut dan ingin merasakan sesuatu. Karena memang aku jarang menemukan kepuasan dengan suami. Selain punya suamiku lemes, barang kecil dan pendek dan tidak tahan lama.
Hampir-hampir setiap malam aku membayangkan penis punya Pak Jono. Aku berkata dalam hati, barang Pak Jono pasti kehitam-hitaman, besar dan panjang. Biasanya orang yang agak hitam itu kuat, mana badannya tinggi, besar dan kekar. Pokoknya sangat jantan. Kayak apa kalau badan yang besar itu menindiku dan memelukku keras-keras, sementara badanku langsing seperti ini, dan tinggiku hanya 155 cm. Apa kuat aku ditindih badan raksasa itu. Apa bisa masuk barang sebesar itu ke lobangku yang kecil ini. Apa tidak mentok kesakitan bila barang yang keras dan panjang ditekan ke lobangku dengan tenaga yang raksasa. Pokoknya aku membayangkan antara takut dan ingin merasakan.
Kata teman-temanku barang gede dan panjang itu sangat nikmat sekali. Saking nikmatnya, katanya sampai ngeyut ke ubun-ubun.
Malam ini malam minggu, Pak Jono akan datang. Hatiku berdebar-debar. Jam menunjukkan 21.30. Tak lama kemudian Pak Jono datang. Suami mempersilahkan masuk, dan bilang padanya bahwa aku mau juga dipijet malam ini, dan suamiku minta tidak bercerita macam-macam ke orang lain. Pak Jono menjawab, “Ya, tidak dong, Pak.”
Suamiku mulai diurut. Kurang lebih jam 23.00 suamiku selesai diurut.
Sekarang giliran aku yang akan diurut. Aku pakai kain sarung. Suamiku tiduran di sofa di ruang tamu sambil nonton TV.
Aku mulai tengkurep, hatiku dag-dig-dug. Pak Jono mulai menyingkap kain sarungku di bagian betis dan memegang betisku sambil mengurut pelan-pelan, aku merinding merasakan urutan Pak Jono, karena sebelumnya aku membayangkan sesuatu yang nikmat.
Kini Pak Jono membisu seribu bahasa tidak seperti biasanya suka bercanda dan berhumor, mungkin menikmati pandangan terhadap betisku yang mulus. Maklum ia menduda 4 bulan. Semakin merinding dan berdebar-debar hatiku ketika Pak Jono meletakkan kakiku ke pahanya. Sambil mengurut ia maju sedikit-sedikit sehingga kakiku menyentuh ke bagian selangkangannya sehingga terasa kakiku menyentuh benjolan yang mulai mengeras.
Dengan suara pelan dan terpatah-patah Pak Jono bertanya.
“Paha ibu mau diurut?”
“Ya pak, memang di bagian itu agak terasa nyilu-nyilu. Pelan ya, Pak,” aku pun menjawab dengan suara pelan.
Pak Jono mulai menyingkap pelan-pelan sarungku sampai di bawah sedikit pinggulku. Ketika Pak Jono mengurut pahaku sampai ke selangkanganku, aku merintih dengan suara pelan-pelan takut kedengaran suamiku. Pak Jono pun terasa meningkat rangsangannya terasa dari sentuhan tangannya yang kadang-kadang mengurut sambil mengelus dan meremas pahaku apalagi ketika sampai di selangkanganku.
Semakin timbul sensasi yang luar biasa ketika Pak Jono membuka kain sarungku di bagian atas pinggulku dan memelorotin cdku sedikit ke bawah. Kini ia mulai mengurut sambil meremas-remas pinggulku, dan rangsanganku semakin tinggi, aku merintih dengan suara pelan. Dan Pak Jono tahu kalau merangsang, aku juga tahu kalau Pak jono juga merangsang.
Aku berkata dalam hatiku: sebelum aku diurut dalam posisi terlentang, aku akan pamit sama Pak Jono untuk buang air kecil sambil aku ingin melihat apakah suami sudak tertidur atau belum.
Ketika Pak Jono menyuruhku terlentang, aku berkata kepadanya: “Aku mau ke kamar mandi dulu untuk buang air kecil.”
Ketika keluar kamar aku lihat suamiku tertidur pulas mungkin karena lelah seharian dan habis diurut.
Di kamar mandi aku berkata dalam hati. Kalau nanti sarungku disingkap sampai ke selangkanganku dalam posisi terlentang, pasti Pak Jono akan melihat bulu jembutku. Ia akan semakin merangsang. Aku menginginkannya meraba vaginaku dan memasukkan jarinya ke lobang vaginaku.
Setelah masuk ke kamar, aku bilang bahwa suamiku tertidur lelap. Ketika mendengar kataku Pak Jono semakin bersemangat.
Kini aku terlentang di hadapan Pak Jono. Dan Pak Jono tidak was-was lagi ia membuka sarungku sampai ke selangkanganku. Aku memenjamkan mata sambil menggigit bibirku.
Kini Pak Jono tidak memijat lagi tetapi ia mengelus-elus dan meremas-rema pahaku dengan gemesnya. Kini ia melihat bulu jembutku dan mengelus-elus bibir vaginaku, dan semakin tidak tahan rasanya aku ingin memegang barangnya Pak Jono sambil penasaran tapi malu. Pak Jono semakin berani menusukkan jarinya ke lobang vaginaku yang sudah membasah dengan ledir.
Aku mulai memberanikan diri meraba selangkangan Pak Jono. Dan Pak Jono membuka resleting celananya. Sambil aku melirik ke selangkangannya, Pak Jono mengeluarkan rudalnya. Aku terkejut astaga besar dan panjang sekali. Warnanya kehitam-hitaman, nampak urat-uratnya mengeras, dan kepala rudal jauh lebih besar lagi dari batangnya. Aku menggenggamnya tapi genggamanku tidak muat saking besar.
Sambil mengelus-elusnya, aku bayangkan kalau rudal yang kepalanya sangat besar ini dimasukkan ke lobangku. Apakah tidak robek lobang vaginaku dan jebol lobang rahimku. Sensasiku semakin meningkat. Perasaanku bercampur ingin menikmati dan takut robek dan jebol.
Pak Jono kini semakin ganas mengocok lobang vaginaku dengan jarinya, dan aku sangat ingin ditindihi dan disetubuhi tapi takut kalau suami bangun kalau mendengar jeritanku. Sambil mengocok Pak Jono menciumi pipiku. Pelan-pelan ia lalu mengecup bibirku, semakin lama ia semakin ganas mencipoki, aku pun terangsang berat.
Kemudian ia memelukku dan menindihku sambil berusaha menyingkap sela-sela samping CD-ku untuk memasukkan rudalnya, tapi tidak berhasil masuk. Kemudian ia menekan lagi.
“Aduh…” jeritku sambil menggigit bibirku tidak tahan.
Tekanan kedua kalinya ini tidak berhasil memasukkan rudalnya ke lobang vaginaku. Kemudian ia menekan lagi dengan tenaga yang super keras dan hampir masuk, tapi terdengar suara suamiku mengegok. Pak Jono dan aku pun kaget terbangun dan menutupkan sarungku ke seluruh tubuh. Dan aku mengakhiri pijetan.
Kemudian aku membangunkan suamiku. Pak Jono pun pamit pulang karena memang sudah larut malam. Kemudian aku mengajak suami masuk kamar, aku sudah tidak tahan. Barang suami juga mengeras tidak seperti biasanya. Kini aku menyalurkan rangsanganku dengan suami sambil membayangkan disetubuhi Pak Jono. Malam itu aku benar-benar merasakan puncak orgasme yang luar biasa tidak seperti biasanya, juga suamiku.
“Ma… Malam ini tidak seperti biasanya. Urutan Pak Jono memang luar biasa membuat kita benar-benar mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa. Kita minggu depan urut lagi ya, Ma…” kata suamiku.
Hari-hari aku hidup dalam bayangan: Kalau malam minggu depan suamiku tidak ada di rumah, aku akan menyiapkan minyak pelumas agar dioleskan ke lobang vaginaku. Aku membayangkan barang Pak Jono yang besar dimasukkan sambil melelukku, menyepokiku dan menggenjotku. Membayangkannya saja sangat nikmat apalagi benar-benar dimasukkan. Sambil rasa khawatir kalau lobangku nanti robek dan lobang rahimku jebol.
Kini malam minggu datang, hatiku berdebar-debar membayangkan sesuatu yang besar dan panjang, membayangkan lobang vaginaku membengkak lebar, dan lobang rahim diterobos barang besar. Pak Jono datang memakan pakaian yang serasi nampak sangat gagah dan manis. Ketika suami ngobrol dengan Pak Jono telpon berdering. Ternyata teman suamiku mengajak ke luar kota untuk mengurus bisnisnya.
“Ya nanti setelah dipijet,” jawab suamiku.
Malam ini aku semakin yakin bahwa aku akan disetubuhi dengan Pak Jono.
“Ma… saya nanti setelah diurut akan pergi ke luar kota,” kata suamiku padaku.
“Jadi, saya tidak usah dipijat, habis tidak ada Mas.”
“Tidak apa-apa pijet saja, Pak Jono orangnya baik, aku sudah percaya kok.”
Mendengar pernyataan suamiku, hatiku girang karena sebentar lagi pasti aku disetubuhi oleh Pak Jono yang berhari-hari aku membayangkannya.
Setelah suamiku selesai diurut ia mandi. Dan Aku bilang pada Pak Jono, “Tunggu dulu ya pak, minum-minum dulu kopinya. Aku mau menyiapkan pakaian bapak untuk ke luar kota.”
Setelah suamiku menyiapkan semua yang akan dibawa ke luar kota, ia pamit ke Pak Jono. Aku mengantarkan sampai pintu gerbang.
Begitu Bapak berangkat hujan turun rintik-ritik. Aku masuk ke ruang tamu dan bilang sama Pak Jono, “Tunggu dulu ya pak, aku pakaian dulu.”
Aku memakai sarung dan kaos… dan sengaja aku tidak memakai BH dan celana dalam.
Begitu aku keluar, sorotan mata Pak Jono menatap payudaraku, aku tersenyum. Aku duduk di kursi sebentar. Aku bayangkan bahwa Pak jono duda selama 4 bulan, berarti ia tidak berhubungan selama 4 bulan. Aku yakin ia tidak jajan sembarangan. Aku begitu yakin malam ini aku akan digenjot berkali-kali dan berjam-jam. Memang aku ingin sekali berhubungan badan sepuas-puasnya.
Sekarang aku memilih kamar untuk urut di bagian belakang, agar jeritanku yang keras nanti tidak terdengar oleh siapapun. Aku mengajak Pak Jono ke kamar belakang, dan hujan turun cukup deras sehingga cuaca dingin mengantarkan impianku, dan tidak akan terdengar suara apa pun kecuali jeritanku, bunyi cipokan yang mengganas, dan bunyi lobang vaginaku yang digenjot oleh kepala rudal besar dan tenaga yang super keras.
Kini aku beduaan yang sama mengharapkan kepuasan seksual dengan sepuas-puasnya. Pak Jono membuka kain sarungku dan tinggal kaos yang menutupi payudaraku. Ia meremas-remas pahaku. Aku mengelinjang-gelinjang. Kemudian Pak Jono membuka celananya. Rudalnya tegang, membesar dan memanjang. Uratnya mengeras dan kepala rudalnya membesar sekali. Ia menciumi pahaku terus ke bibir vaginaku. Aku sudah tidak tahan karena mulai tadi sudah merangsang karena membayangkan kenikmatan yang sebentar lagi akan aku rasakan.
Ia membuka bajunya dan kaosku. Kini kami berdua telanjang bulat. Hujan turun makin lebat, jam menunjukkan 23.00. Ia meremas-remas tetekku sambil mengocokkan jarinya ke lobang vaginaku.
“Pak, masukkan… aku sudah tidak tahan.”
“Aku juga tidak tahan, aku sudah 4 bulan tidak pernah berhubungan badan, aku ingin malam ini benar-benar puas, mungkin aku main sampai pagi,” timpal Pak Jono.
“Aku juga pak… Aku serahkan semua tubuhku pada Pak Jono. Tapi, oleskan minyak pelumas yang kusiapkan ini ke lobang vaginaku dan ke rudal Bapak agar aku tidak merasakan sakit.”
Aku siapkan parfum dan minyak pelumas yang harum.
“Bu… lobang Ibu kecil sekali,” katanya begitu ia mengoleskan minyak pelumas dicampur dengan ludahnya.
Kini Pak Jono mengangkangkan pahaku lebar-lebar. Pelan-pelan ia menindihiku. Aduh rasanya berat sekali. Ia arahkan rudal besar dan panjang itu lobang vaginaku. Ia menekan, tapi tak berhasil masuk. Kedua kalinya ia menekan lagi dan tidak juga berhasil masuk, aku menjerit kesakitan.
“Pertama rasanya agak sakit, karena lobang ibu kecil sekali, dan barang saya besar sekali, jauh tidak ngimbang,” katanya merayuku.
Ketiga kalinya ia mengolesi lobangku dengan minyak pelumas banyak sekali sampai meleleh ke lobang anusku, ia campur air ludahnya. Ia mengolesi juga rudalnya dicampur dengan ludahnya, kemudian ia menekan rudal besar, panjang, hitam dan keras sekali. Ia menekannya dengan tenaga yang super keras, akhir masuklah kepala rudal besar itu, dan aku pun menjerit kesakitan.
Ia terdiam, menahan sejenak, sambil menindihiku dan menciumiku, merayu dan berbisik ke telingaku.
“Ditahan sakit dahulu ya, nanti Ibu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa.”
Aku mengangguk.
“Tahan ya, Bu, aku akan tekan lagi agar masuk semua,” bisiknya lagi.
Ia menekannya dengan tenaga yang keras, aku tidak tahan.
“Aduh.. sakit, Pak,” Jeritku tertahan sambil menggigit bibir.
Akhirnya barang itu trot… bleees… masuk semua. Rasanya rudal itu masuk menembus ke lobang rahimku. Kini beralih dari rasa sakit ke rasa nikmat yang luar biasa.
“Pak .. rasanya nikmat sekali.”
Semakin ganaslah Pak Jono menggenjotnya. Nyaring sekali bunyi lobang vaginaku akibat genjotan yang luar biasa. Nikmatnya luar biasa terasa sampai ke ubun-ubun, aku menggigil, meraung-raung kenikmatan.
“Aah… uuuh… uuh… aku… aku… mau mencapai puncak, Pak…”
Pak Jono menekan keras-keras. Aku pun mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Pak Jono sangat kuat dan bertahan lama, ia belum mencapai orgasme. Aku sudah lemas, tapi karena Pak Jono meremas-remas kembali tetekku dan menjelati vaginaku, aku mulai merangsang lagi.
Pak Jono menyuruhku nungging. Ia menusukkan kembali rudalnya dan mengocoknya dan menggenjot dari belakang, bunyinya semakin keras, ceprok… ceprok.. ceprok… sambil ia mengelus-ngelus lobang anusku. Ia ngambil minyak pelumas dan dioleskan ke lobang anusku, jarinya ditusukkan ke lobang anusku.
“Aduh… Pak!” jeritku.
Tapi ia pintar sekali menciptakan rangsangan baru. Ia kocok lobang anusku pelan-pelang dengan jarinya, lama-lama aku merasakan nikmat.
“Enak.. Pak… Nikmat… Pak.”
Akhirnya Pak Jono menambahi minyak pelumas ke lobang anusku, dan mencabut rudalnya dari vaginaku, ia oles-oleskan kepala rudalnya ke pintu anusku.
“Hangat rasanya, nikmat Pak, nikmat Pak.”
Kemudian menusukkan tepat ke lobang anusku dan menekannya. Akhirnya barang besar itu masuk juga. Cepret… prot… ia tekan pelan-pelan hingga separuh penis itu. Ia mendorongku agar aku tengkurep. Begitu tengkurep ia menindihku, menekankan lagi sisa separuhnya. Aduh nikmat sekali rasanya di anus. Sampai terasa ada cairan muncrat dari dalam lobang anusku. Ia terus mengocok dan menggejot semakin cepat, aku merasakan nikmat sambil menahan genjotan. Prot… prot… druuuuut. Semakin ganas ia menggenjot sampai aku terkentut-kentut dibuatnya. Akhirnya Pak Jono mencapai puncaknya dan muncratlah pejunya memenuhi lobang anusku.
Malam itu aku benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku disetubuhi oleh Pak Jono sampai 4 kali hingga pagi.

Bonus:

Rejeki nomplok saat menunggu rumah (bonus foto bugil)

14
Filed under Setengah baya

Peristiwa ini berlangsung beberapa bulan yang lalu di awal 2006. Di Sabtu malam yang cerah aku terpaksa menunggu rumah sendirian. Keluarga semua pergi ke Jakarta menghadiri acara pernikahan saudara sepupuku.

Aku perkenalkan diri dulu. Namaku Reno, 28 tahun. Tampangku biasa-biasa aja dengan kulit sawo matang. dengan tinggi 170 cm dan berat 70 kg. Pembaca mungkin menyangka aku gendut. Itu sama sekali tidak tepat karena aku rajin fitness hingga otot2ku pun terbentuk walaupun tidak sekekar Ade Rai . Aku bekerja di satu perusahaan swasta di kotaku. Aku tinggal di kota kecil di bagian Barat pantura Jawa Tengah. Dan sekarang aku masih menyandang predikat jomblo. Namun aku selalu enjoy menjalaninya.

Sabtu malam itu tidak seperti biasanya. Teman-temanku yang sebagian jomblo juga (mungkin aku perlu bikin perkumpulan Jomblo Merana, hehehe…) tidak keliatan batang hidungnya. Aku yang nungguin rumah sendirian akhirnya cuma bisa duduk sambil mengisap rokok putih di teras depan rumah sambil cuci mata pada cewe-cewe yang lewat di jalan depan rumahku. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Rasa kantuk sudah mulai menyerang. Aku pun bergegas masuk ke rumah. Begitu tanganku hendak meraih gagang pintu, aku dikejutkan suara becak yang direm mendadak. Spontan aku liat ada yang terjadi. Ternyata seorang wanita kira2 berumur 40 tahunan turun dari becak kemudian membayar ongkos ke abang becak. Aku masih terpaku melihat apa yang akan dilakukan oleh wanita dengan kulit sawo matang dan berwajah sensual itu. Tingginya kira-kira 160 cm dan beratnya mungkin 60 kg dengan payudara yang besar kira2 36C dan pantat yang besar pula serta perut yang sudah tidak rata lagi. Wanita itu memakai baju terusan dengan rambut digelung ke atas menambah kesensualannya. Tanpa dikomando penisku lagi berdiri tegang.

“Permisi…”, suara lembutnya membuyarkan lamunanku. “Eh…iya, Bu…”, jawabku sekenanya. “Pak Atmonya ada?”

Aku jadi bingung karena nama orang tuaku bukan Atmo. Dengan cepat aku baru sadar kalo rumah yang aku tempati sekarang dulu adalah milik Pak Atmo yang sekarang sudah pindah di kota di provinsi Jawa Tengah bagian Selatan.

Akhirnya aku jelaskan padanya tentang keadaan saat ini. Dia pun bingung hendak ke mana karena tidak ada sanak sodara di kota ini. Kemudian aku persilakan masuk wanita itu ke dalam ruang tamu. Setelah melalui percakapan singkat dapat kuketahui kalo wanita itu bernama Tuminah, sepupu Pak Atmo dari Boyolali dan aku tahu kalo dia telah hidup menjanda selama 10 tahun semenjak kematian suaminya.

“Dik Reno, ibu saat ini bingung mau tidur di mana. Lha wong sudah malam begini. Mau melanjutkan perjalanan sudah tidak ada bis lagi,” kebingungan meliputi dirinya.

“Sudahlah Bu Minah…Ibu sementara bermalam di sini dulu. Besok Ibu bisa ke tempat Pak Atmo,” aku coba menenangkannya sambil mataku mencuri-curi pandang ke arah gundukan di dadanya yang membusung itu. Mengetahui hal itu Bu Minah jadi salah tingkah sambil tersenyum penuh arti. Akhirnya Bu Minah setuju untuk bermalam di rumahku. Aku persiapkan kamarku untuk tidur Bu Minah. Tak lupa aku buatkan teh panas untuk menyegarkan tubuhnya. Kemudian aku persilakan Bu Minah untuk membersihkan badan dulu di kamar mandi.

Aku menunggu dengan menonton tivi di ruang tengah. Bayangan tubuh montok Bu Minah menjadikan burungku jadi makin berdiri keras. Ditimpali suara kecipakan air di kamar mandi terdengar dari tempatku.

“Mas Reno…” aku dikejutkan panggilan Bu Minah dari kamar mandi. “Iya Bu… Ada apa?” aku bergegas menuju ke kamar mandi. “Ibu lupa tidak bawah handuk. Ibu boleh pinjem handuk mas Reno?” terdengar suara Bu Minah dari balik pintu kamar mandi. “Boleh kok, Bu. Saya ambilkan sebentar, Bu”, aku ambil handukku di jemuran belakang.

“Ini Bu handuknya” perlahan pintu kamar mandi dibuka oleh Bu Minah. Aku sodorkan handuk ke tangan Bu Minah yang menggapai dari balik pintu. Tak kusangka sodoran tanganku terlalu keras sehingga mendorong pintu terbuka lebar hingga badanku terhuyung ke depan ikut masuk ke kamar mandi. Aku menubruk badan Bu Minah. Aku peluk tubuh bugil Bu Minah agar aku tidak jatuh. Bu Minah pun memeluk tubuhku erat-erat agar tidak terpeleset. “Aahhh…”, Bu Minah menjerit kecil. Aku rasakan buah dada bu Minah yang besar itu dalam pelukanku. Penisku langsung tegang mengenai perus Bu Minah. Beberapa detik kami terdiam.

“Ih, mas Reno kok meluk aku sih…” katanya manja tanpa melepas pelukannya padaku. Wajahku merah padam. Aku tidak bisa menyembunyikan hasratku yang meletup-letup. “Kaalauu…akkuu lepass …nantii akku liat ibu Minah telaanjaang donggg..”, jawabku terbata-bata dengan nafas tersengal menahan gejolak birahi. Aku tekan-tekan penisku yang masih terbungkus celana ke perutnya. “Aacchh…sungguh nikmat sekali,” batinku karena aku baru pertama kali ini memeluk wanita dalam keadaan telanjang bulat. “Burung mas Reno nakal…” katanya manja sambil tangannya merogoh penisku dari balik celana training yang aku pakai. Dielus dan dikocoknya perlahan penisku. “Ouuugghhh…” aku hanya bisa mendesah. “Burung Mas Reno besar sekali…” Aku tidak tahu apakah dengan panjang 16 cm dan diameter 4 cm itu penisku termasuk besar, entahlah mungkin Bu Minah sebelumnya hanya tahu penis dibawah ukuranku. Dan aku pun tidak tinggal diam. aku remes-remes teteknya yang gede itu sambil aku emut putingnya. “Mmmhhh… enak banget mas…”

Tangan kiriku langsung turun ke vaginanya yang mulai basah itu. Aku gesek-gesek dengan jariku dan aku mainkan klitorisnya…

“Mas….” hanya itu yang bisa Bu Minah ucapkan dengan mata sayu sementara tangannya masih mengocok penisku dengan pelan.

“Mas…Mas Reno….aku wis ora kuat….” suaranya parau “Masukin sekarang ya, Mas….”

Aku jadi bingung karena belum pernah ml sebelumnya. Dengan malu-malu aku pun beranikan diri bertanya, “Bu, caranya gimana?” Bu Minah tersenyum genit. “Oh mas Reno masih bujang tong-tong to?” Kemudian Bu Minah membalikan badannya dengan berpegangan pada bak mandi Bu Minah mengambil posisi nungging. Aku yang udah gak sabar langsung mengarahkan penisku ke vagina yang merah merekah dengan rambut kemaluan yang tercukur rapi tapi gagal karena aku tidak tahu lubang kenikmatan itu. “Sini mas Reno biar aku bantu…” Bu Minah yang mengerti keadaanku langsung menyamber batang penisku kemudian diarahkannya ke lubang vaginanya.

Kepala penisku menyentuh bibir vaginanya. Oouugghhh… sungguh kenikmatan yang luar biasa yang baru aku rasakan. Kemudian aku dorong penisku ke dalam vagina Bu Minah. Agak susah memang. “Mas…pelan-pelan. Aku udah lama tidak kaya gini…” suara Bu Minah terdengar lirih tertahan. Aku majukan lagi penisku hingga tinggal setengahnya yang belum masuk ke lubang kenikmatan. Bu Minah memaju mundurkan pantatnya berulang-ulang. Dan… Slleeepppp…. penisku seperti tertelah semuanya oleh vagina Bu Minah. Aku maju mundurkan penisku dengan cepat seperti yang aku liat di BF.

“Ooohhhh….masss….mmmhhhh.. ..” hanya itu yang keluar dari mulut Bu Minah. Aku merasakan sensasi yang sangat luar biasa…

Dan belum ada 30 kocokan aku merasakan akan memuntahkan spermaku.”Bu…. aku mau keluar…” Aku percepat sodokan-sodokan penisku ke vagina Bu Minah. Dengan gerakan yang luwes Bu Minah memutar-mutar pantatnya mengimbangi sodokanku. Melihat goyangan pantat Bu Minah yang erotis itu aku semakin tidak sanggup menahan laju spermaku. Aku percepat sodokanku…. dan… “Ooouuugggghhhh…..” aku tekan kuat2 penisku hingga menyentuh dasar rahim Bu Minah. “Crrootttt…..ccrrrooottt…. cccrrottt….” penisku menyemburkan sperma sebanyak 15 kali ke vagina Bu Minah. Goyangan-goyangan erotis pantat Bu Minah mengiringi siraman spermaku. “Oooohhhhh….” Aku terkulai lemas. Aku peluk tubuh Bu Minah dari belakang dengan tangan meremas2 tetek Bu Minah yang besar walopun sudah agak kendur. Sementara penisku yang masih tegang tenggelam dalam vagina Bu Minah yang enak itu. Nafas kami masih tersenggal-senggal. Lama kami terdiam meresapi sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dilalui.

“Mas Reno….” Bu Minah lirih memanggilku. “Udahan dulu ya Mas.., aku capek banget. Aku mau istirahat dulu”. Aku bisa memahami kondisi tubuh Bu Minah setelah melakukan perjalanan panjang.

Akhirnya aku tidur bareng Bu Minah di kamarku. Dan tentunya masih ada kejadian2 kenikmatan yang kami lakukan berdua setelah itu.

Bonus: Bukan foto bu minah

Gejolak Nafsu Terpendam

114
Filed under Setengah baya

Ini adalah pengalamanku yang kesekian kalinya bersetubuh dengan wanita setengah baya. Kejadiannya pada saat kenaikkan kelas, aku mendapat liburan satu bulan dari sekolah. Untuk mengisi waktu liburanku, aku mengiyakan ajakan Mas Iwan sopir Pak RT tetanggaku untuk berlibur dikampungnya. Disebuah desa di Jawa Barat. Katanya, sekalian mau nengok istrinya. Aku tertarik omongan Mas Iwan bahwa gadis-gadis di kampungnya cantik-cantik dan mulus-mulus. Aku ingin buktikan omongannya.

Dengan mobil pinjaman dari ayahku, kami berangkat ke sana. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sekitar jam 17.00 WIB kami tiba di kampungnya. Rumah Mas Iwan berada cukup jauh dari rumah tetangganya. Rumahnya cukup bagus, untuk ukuran di kampung, bentuknya memanjang.
di rumah Mas Iwan kami disambut oleh Mbak Irma, istrinya dan Tante Sari mertuanya. Ternyata Mbak Irma, istri Mas Iwan, seorang perempuan yang sangat cantik. Kulitnya putih bersih dan bodynya sangat sexy. Sedangkan Tante Sari tak kalah cantiknya dengan Mbak Irma. Meskipun sudah berumur empat puluhan, kecantikannya belum pudar. Bodynya tak kalah dengan gadis remaja. Oh ya, Tante Sari bukanlah ibu kandung Mbak Irma. Tante Sari kawin dengan Bapak Mbak Irma, setelah ibu kandung Mbak Irma meninggal. Tapi setelah lima tahun menikah, bapak Mbak Irma yang meninggal, karena sakit. Jadi sudah sepuluh tahun Tante Sari menjanda.

Sekitar jam 20.00 WIB, Mas Iwan mengajakku makan malam ditemani Mbak Irma dan Tante Sari. Sambil makan kami ngobrol diselingi gelak tawa. Walaupun kami baru kenal, tapi karena keramahan mereka kami serasa sudah lama kenal. Selesai makan malam Mas Iwan dan Mbak Irma permisi mau tidur. Mungkin mereka sudah tak sabar melepaskan hasrat yang sudah lama tak tersalurkan. Tinggal aku dan Tante Sari yang melanjutkan obrolan. Tante Sari mengajakku pindah ke ruang tamu. Pas di depan kamar Mas Iwan.

Saat itu Tante Sari hanya mengenakan baju tidur transparan tanpa lengan. Hingga samar-samar aku dapat melihat lekuk-lekuk tubuhnya yang sexy. Tante Sari duduk seenaknya hingga gaunnya sedikit tersingkap. Aku yang duduk dihadapannya dapat melihat paha mulusnya, membangkitkan nafsu birahiku. Penisku menegang dari balik celanaku. Tante Sari membiarkan saja aku memelototi paha mulusnya. Bahkan dia semakin lebar saja membuka pahanya.

Semakin malam obrolan kami semakin hangat. Tante Sari menceritakan, semenjak suaminya meninggal, dia merasa sangat kesepian. Dan aku semakin bernafsu mendengar ceritanya, bahwa untuk menyalurkan hasrat birahinya, dia melakukan onani. Kata-katanya semakin memancing nafsu birahiku. Aku tak tahan, nafsu birahiku minta dituntaskan. Akupun pergi kekamar mandi. Sampai di kamar mandi, kukeluarkan penisku dari balik celanaku. Kukocok-kocok sekitar lima belas menit. Dan crot! crot! crot! Spermaku muncrat kelantai kamar mandi. Lega sekali rasanya.

Setelah menuntaskan hasratku, aku balik lagi ke ruang tamu. Alangkah terkejutnya aku. Disana di depan jendela kamar Mas Iwan yang kordennya sedikit terbuka kulihat Tante Sari sedang mengintip ke dalam kamar, Mas Iwan yang sedang bersetubuh dengan istrinya.

Nafas Tante Sari naik turun, tangannya sedang meraba-raba buah dadanya. Nafsu birahiku yang tadi telah kutuntaskan kini bangkit lagi melihat pemandangan di depanku. Tanpa berpikir panjang, kudekap tubuh Tante Sari dari belakang, hingga penisku yang sudah menegang menempel hangat pada pantatnya, hanya dibatasi celanaku dan gaun tidurnya. Tanganku mendekap erat pinggang rampingnya. Dia hanya menoleh sekilas, kemudian tersenyum padaku. Merasa mendapat persetujuan, aku semakin berani. Kupindahkan tanganku dan kususupkan kebalik celana dalamnya. Kuraba-raba bibir vaginanya.

“Ohh.. Don.. Enakk,” desahnya, ketika kumasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya yang telah basah. Setelah puas memainkan jari-jariku dilubang vaginanya, kulepaskan dekapan dari tubuhnya. Kemudian aku berjongkok di belakangnya. Kusingkapkan gaun tidurnya dan kutarik celana dalamnya hingga terlepas. Kudekatkan wajahku ke lubang vaginanya. Kusibakkan bibir vaginanya lalu kujulurkan lidahku dan mulai menjilati lubang vaginanya dari belakang, sambil kuremas-remas pantatnya. Tante Sari membuka kedua pahanya menerima jilatan lidahku. Inilah vagina terindah yang pernah kurasakan.

“Oohh.. Don.. Nik.. mat,” suara Tante Sari tertahan merasakan nikmat ketika lidahku mencucuk-cucuk kelentitnya. Dan kusedot-sedot bibir vaginanya yang merah.
“Ohh.. Don.. Luarr.. Biasaa.. Enakk.. Sedott.. terus,” pekiknya semakin keras.

Cairan kelamin mulai mengalir dari vagina Tante Sari. Hampir setiap jengkal vaginanya kujilati tanpa tersisa. Tante Sari menarik vaginanya dari bibirku, kemudian membalikkan tubuhnya sambil memintaku berdiri. Dia mendorong tubuhku ke dinding. Dengan cekatan ditariknya celanaku hingga terlepas, maka penisku yang sudah tegang, mengacung tegak dengan bebasnya.

“Ohh.. Luar biaassaa.. Don.. Besar sekali,” serunya kagum.
“Isepp.. Tante, jangan dipandang aja,” pintaku.

Tante Sari mengabulkan permintaanku. Sambil melepaskan gaun tidurnya, dia lalu berjongkok dihadapanku. Wajahnya pas di depan selangkanganku. Tangan kirinya mulai mengusap-usap dan meremas-remas buah pelirku. Sedangkan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku dengan irama pelan tapi pasti. Mulutnya didekatkan kepenisku dan dia mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku. Aku meringis merasakan geli yang membuat batang penisku semakin tegang.

“Ohh.. Akhh.. Tan.. Te.. Nikk.. matt,” seruku tertahan, ketika Tante Sari mulai memasukkan penisku kemulutnya. Mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang besar dan panjang. penisku keluar masuk di mulutnya. Tante Sari sungguh lihai memainkan lidahnya. Aku dibuatnya seolah-olah terbang keawang-awang.

Tante Sari melepaskan penisku dari kulumannya setelah sekitar lima belas menit. Kemudian dia memintaku duduk dilantai. Dia lalu naik kepangkuanku dengan posisi berhadapan. Diraihnya batang penisku, dituntunnya ke lubang vaginanya. Perlahan-lahan dia mulai menurunkan pantatnya. Kurasakan kepala penisku mulai memasuki lubang yang sempit. Penisku serasa dijepit dan dipijit-pijit. Mungkin karena sudah sepuluh tahun tidak pernah terjamah laki-laki. Meski agak susah, akhirnya amblas juga seluruh batang penisku ke dalam lubang vaginanya.

Tante Sari mulai menaik-turunkan pantatnya, dengan irama pelan. Diiringi desahan-desahan lembut penuh birahi. Sesekali dia memutar-mutar pantatnya, penisku serasa diaduk-aduk dilubang vaginanya. Aku tak mau kalah, kuimbangi gerakkannya dengan menyodok-nyodokkan pantatku ke atas. Seirama gerakkan pantatnya.

Oh, senangnya melihat penisku sedang keluar masuk vaginanya. Bibirku menjilati buah dadanya secara bergantian, sedangkan tanganku mendekap erat pinggangnya. Semakin lama semakin cepat Tante Sari menaik turunkan pantatnya. Nafasnya tersengal-sengal. Dan kurasakan vaginanya berkedut-kedut semakin keras.

“Ohh.. Don.. Aku.. Mau.. Keluarr,” pekiknya.
“Tahan.. Tan.. Te.. Akuu.. Belumm.. Mauu,”sahutku.
“Akuu.. Tak.. Tahann.. Sayang,” teriaknya keras.
Tangannya mencengkeram keras punggungku.
“Akuu.. Ke.. Ke.. Luarr.. Sayangg,” jeritnya panjang.

Tante Sari tak dapat menahan orgasmenya, dari vaginanya mengalir cairan yang membasahi seluruh dinding vaginanya. Tante sari turun dari pangkuanku lalu merebahkan tubuhnya dipangkuan. Kepalanya berada pas diselangkanganku. Tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku. Dan mulutnya mengulum kepala penisku dengan lahapnya.

Perlakuannya pada penisku membuat penisku berkedut-kedut. Seakan-akan ada yang mendesak dari dalam mau keluar. Dan kurasakan orgasmeku sudah dekat. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkanganku. Hingga penisku semakin dalam masuk kemulutnya.

“Akhh.. Tante.. Akuu.. Mau keluarr,” teriakku.
“Keluarin.. Dimulutku sayang,” sahutnya.
Tante sari semakin cepat mengocok dan mengulum batang penisku. Diiringi jeritan panjang, spermaku muncrat ke dalam mulutnya.
“Ohh.. Kamu.. Hebatt.. Don, aku puas,” pujinya, tersenyum ke arahku. Tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati dan menelan sisa-sisa spermaku.

Suara ranjang berderit di dalam kamar, membuat kami bergegas memakai pakaian dan pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Kemudian masuk ke kamar Masing-masing. Beberapa menit kemudian kudengar langkah kaki Mbak Irma ke kamar mandi. Dari balik jendela kamarku dapat kulihat Mbak Irma hanya mengenakan handuk yang yang dililitkan ditubuhnya. Memperlihatkan paha mulus dan tubuh sexynya. Membuatku mengkhayal, alangkah senangnya bisa bersetubuh dengan Mbak Irma.

Sekitar jam 02.00 dinihari, aku terbangun ketika kurasakan ada yang bergerak-gerak di selangkanganku. Rupanya Tante Sari sedang asyik mengelus-elus buah pelirku dan menjilati batang penisku.

“Akhh.. terus.. Tante.. terus,” gumanku tanpa sadar, ketika dia mulai mengulum batang penisku. Dengan rakus dia melahap penisku. Sekitar sepuluh menit berlalu kutarik penisku dari mulutnya. Kusuruh dia menungging, dari belakang kujilati lubang vaginanya, bergantian dengan lubang anusnya. Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya yang basah dan memerah. Sedikit demi sedikit penisku memasuki lubang vaginanya. Semakin lama semakin dalam, hingga seluruh batang penisku amblas tertelan lubang vaginanya.

Aku mulai memaju mundurkan pantatku, hingga penisku keluar masuk lubang vaginanya. Sambil kuremas-remas pantatnya.

“Ooh.. Don.. Nikk.. Matt.. Bangett,” rintihnya.

Aku semakin bernafsu memaju mundurkan pantatku. Tante sari mengimbangi gerakkanku dengan memaju mundurkan juga pantatnya, seirama gerakkan pantatku. Membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Semakin lama semakin cepat gerakkan pantatnya.

“Don.. Donnii.. Akuu.. Tak.. Tahann,” jeritnya.
“Akuu.. Mauu.. Ke.. Keluarr,” imbuhnya.

Kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan menjepit penisku. Tangannya mencengkeram dengan keras diranjang.

“Ooh.. Oo.. Aku.. Keluarr,” lolongnya panjang.

Dan kurasakan ada cairan yang merembes membasahi dinding-dinding vaginanya. Tante Sari terlalu cepat orgasme, sedangkan aku belum apa-apa. Aku tak mau rugi, aku harus puas, pikirku. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kuarahkan ke lubang anusnya.

“Akhh.. Donn.. Jangann.. Sakitt,” teriaknya, ketika kepala penisku mulai memasuki lubang anusnya. Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku lebih keras hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Dan kurasakan nikmatnya jepitan lubang anusnya yang sempit. Perlahan-lahan aku mulai menarik dan mendorong pantatku, sambil memasukkan jari-jariku ke lubang vaginanya. Tante sari menjerit-jerit merasakan nikmat dikedua lubang bawahnya.

“Enak khan Tante?” tanyaku.
“Hemm.. Enakk.. Banget.. Sayang,” sahutnya sedikit tersipu malu.

Semakin lama semakin cepat kusodok lubang anusnya. Sambil kutepuk-tepuk pantatnya. Kurasakan penisku berkedut-kedut ketika orgasmeku akan tiba dan crott! crott! crott! Kutumpahkan spermaku dilubang anusnya.

“Penismu yang pertama sayang, memasuki lubang anusku,” katanya sambil membalikkan tubuhnya dan tersenyum padaku.
“Kamu luar biasa Don, belum pernah kurasakan nikmatnya bersetubuh seperti ini,” imbuhnya.
“Tante mau khan, setiap malam kusetubuhi?” tanyaku.
“Siapa yang menolak diajak enak,” sahutnya seenaknya.

Sejak saat itu, hampir setiap malam kusetubuhi Tante sari. Ibu tiri Mbak Irma yang haus sex, yang hampir sepuluh tahun tidak dinikmatinya, sejak kematian suaminya.

Tak terasa sudah lima hari aku berada di rumah Mas Iwan. Selama lima hari pula aku menikmati tubuh Tante Sari, mertuanya yang haus sex. Tante Sari yang sepuluh tahun menjanda, betul-betul puas dan ketagihan bersetubuh denganku. Meski telah berusia setengah baya, tapi nafsu birahinya masih meletup-letup, tak kalah dengan gadis remaja.

Sore itu, sehabis mandi dan berpakaian, Mas Iwan mengajakku jalan-jalan. Katanya mau ketemu seorang teman yang sudah lama dirindukannya. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, sampailah kami di rumah teman Mas Iwan. Sebuah rumah yang berada dikawasan yang cukup elite. Kedatangan kami disambut dua orang wanita kakak beradik, Mbak Rina dan Mbak Vira. Keduanya sama-sama cantik dan sexy. Mas Iwan memperkenalkanku pada kedua teman wanitanya.

“Mas Iwan, aku kangen banget,” katanya sambil memeluk Mas Iwan.
“Aku juga Rin,” sahut Mas Iwan.

Sambil meminum kopi susu yang disuguhkan Mbak Rina, kami bercakap-cakap. Mbak Rina duduk dipangkuan Mas Iwan. Dan Mas Iwan merangkulnya dengan mesra. Mbak Rina tanpa malu-malu menceritakan, kalau Mas Iwan adalah pacar pertamanya dan Mas Iwanlah yang membobol perawannya.

Mbak Vira hanya tersenyum mendengar cerita kakaknya yang blak-blakan. Makin lama kelakuan Mbak Rina makin mesra saja. Tanpa malu-malu, dia mengecup dan melumat bibir Mas Iwan dan Mas Iwan menyambutnya dengan sangat bernafsu. Aku jadi risih menyaksikan kelakuan mereka. Sekitar sepuluh menit mereka bercumbu di depan kami.

“Kita lanjutin di kamar aja say,” kata Mbak Rina pada Mas Iwan. Mas Iwan mengangguk tanda setuju, sambil membopong tubuh Mbak Rina ke dalam kamar.
“Kalian jangan ngintip ya,” kata Mas Iwan pada kami sambil tersenyum.

Aku dan Mbak Vira hanya bengong melihat kemesraan mereka. Tanpa menghiraukan larangan Mas Iwan, Mbak Vira beranjak dari tempat duduknya sambil meraih tanganku menuju kamar Mbak Rina. Kami kemudian berdiri di depan pintu kamar Mbak Rina yang terbuka lebar. Dari situ aku dan Mbak Vira melihat Mas Iwan merebahkan tubuh Mbak Rina diatas ranjang dan mulai melepaskan gaun Mbak Rina. Aku terkesima melihat mulusnya dan sexynya tubuh Mbak Rina, ketika seluruh pakaiannya dibuka Mas Iwan.

Nafsu birahiku tak tertahankan lagi, penisku menegang dibalik celanaku. Tanpa sadar kupeluk tubuh Mbak Vira yang berdiri di depanku. Mbak Vira diam saja dan membiarkanku memeluknya. Malah tangan dibawa ke belakang dan disusupkan ke balik celanaku. Mendapat perlakuan seperti itu, nafsuku semakin memuncak dan penisku semakin menegang. Apalagi saat Mbak Vira menggerak-gerakkan tangannya mengocok-ngocok batang penisku.

Sementara di dalam kamar, Mas Iwan menarik tubuh Mbak Rina ketepi Ranjang. Kedua paha Mbak Rina dibukanya lebar-lebar. Maka terpampanglah vagina Mbak Rina yang indah, dihiasi bulu-bulu yang dicukur rapi. Mas Iwan kemudian berjongkok dan mendekatkan mulutnya kebibir vagina Mbak Rina.

“Ohh.. Say.. Yang.. Nikk.. Mat,” desah Mbak Rina tertahan, ketika Mas Iwan mulai menjilati vaginanya. Lidah Mas Iwan menari-nari dan mencucuk-cucuk vagina Mbak Rina. Pantat Mbak Rina terangkat-angkat menyambut jilatan Mas Iwan. Kedua pahanya terangkat dan menjepit kepala Mas Iwan.

“Sudah.. Say.. Aku.. nggak tahan.. Masukin punyamu say,” pinta Mbak Rina penuh nafsu. Mas Iwan kemudian berdiri dan melepaskan semua pakaiannya.

Dengan sedikit membungkukkan badannya, Mas Iwan memegang penisnya dan mengarahkannya ke lubang vagina Mbak Rina yang telah basah dan merah merekah. Slepp! Kepala penis Mas Iwan mulai memasuki vagina Mbak Rina.

“Aow.. terus.. Say.. terus.. Genjot,” seru Mbak Rina, ketika Mas Iwan mulai mendorong pantatnya naik turun. Penisnya keluar masuk dari vagina Mbak Rina.

Melihat Mas Iwan dan Mbak Vira sedang bersetubuh di depanku, membuat nafsu birahiku semakin tinggi. Kususupkan tanganku ke balik celana dalamnya. Dapat kurasakan vaginanya yang telah basah, pertanda Mbak Vira juga bangkit nafsu birahinya. Kucucuk-cucuk vaginanya dengan jari-jariku. Dia mendesah penuh nafsu. Mbak Vira mengimbangi dengan semakin cepat mengocok-ngocok penisku. Sekitar sepuluh menit Mbak Vira mengocok penisku. Mbak Vira kemudian menyudahi kocokkannya dan membalikkan badannya, menghadap ke arahku. Ditariknya celanaku hingga terlepas.

Setelah celanaku terlepas, keluarlah penisku yang tegang penuh dan mengacung-acung dengan bebasnya. Mbak Vira terpukau melihat penisku yang besar dan panjang. Mbak Vira kemudian berjongkok dikakiku, wajahnya berada pas di depan selangkanganku. Mbak Vira mendekatkan mulutnya kebatang penisku. Mula-mula dia menjilati penisku dari kepala hingga pangkalnya. Terus dia mulai mengulum dan menghisap kepala penisku.

Kemudian sedikit demi sedikit batang penisku dimasukkannya ke dalam mulutnya sampai kepala penisku menyodok ujung mulutnya. Dan mulutnya penuh sesak oleh batang penisku. Dengan lihainya, Mbak vira mulai memaju-mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar-masuk dari dalam mulutnya. Mataku merem-melek merasakan nikmat dan badanku serasa panas dingin merasakan kulumannya.

Mbak Vira sangat lihai mengulum penisku. Kudorong maju pantatku dan kujambak rambutnya, membenamkan kepalanya ke selangkanganku. Sekitar lima belas menit berlalu Mbak Vira menyudahi kulumannya, dan melepaskan seluruh pakaiannya. Kemudian dia berdiri menghadap ke dinding.

“Oohh.. Akhh.. Akuu.. nggak tahann.. Don,” serunya tertahan.
“Entot aku.. Entott.. Don,” imbuhnya.

Kutarik sedikit tubuhnya dari belakang, hingga dia menungging. Kuraih batang penisku dan kuarahkan pas ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong maju pantatku, hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.

“Aow.. Pelan-pelan Don,” pekiknya, ketika seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya yang masih sempit. Pekikkan yang keluar dari mulutnya membuatku semakin bernafsu dan pelan-pelan kumaju-mundurkan pantatku.

“Akhh.. Enakk.. Don.. Enakk.. Banget,” desahnya sambil menoleh ke belakang sambil tersenyum padaku.
“Akhh.. Akuu.. Ke.. luarr, Rin,” teriakkan Mas Iwan dari dalam kamar mengejutkanku, namun tak menghentikan sodokkanku pada Mbak Vira.
“Aku.. jugaa.. Sayang,” sahut Mbak Rina pada Mas Iwan.

Sedetik kemudian Mas Iwan dan Mbak Rina mencapai orgasme bersamaan. Mas Iwan menumpahkan spermanya di dalam vagina Mbak Rina. Kemudian Mas Iwan merebahkan tubuhnya disamping tubuh Mbak Rina, dan tertidur pulas.

Sementara itu, aku semakin cepat memaju-mundurkan pantatku, membuat Mbak Vira berteriak-teriak saking nikmatnya. Kurasakan vaginanya berkedut-kedut semakin lama semakin cepat dan menjepit penisku.

“Donn.. Donii.. Akuu.. Mauu.. Keluarr,” teriaknya panjang.
“Tahann.. Mbak.. Aku.. Belum.. Apa-apa,” sahutku.
“Akhh.. Akuu.. Tak.. Tahan.. Don.. Akuu,” jawabnya terputus dan vaginanya semakin keras menjepit penisku.

Tak lama kemudian Mbak Vira mencapai orgasme. Kurasakan ada cairan-cairan yang merembes didinding vaginanya. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kusuruh dia berjongkok dihadapanku. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkangku. Mbak Vira mengerti maksudku. Dia mulai menjilati dan menghisap-isap penisku lalu mengulumnya. Sambil tangan kirinya mengusap-usap buah pelirku.

Sedetik kemudian Mbak Rina datang membantu, dan langsung berjongkok dihadapanku. Lidahnya dijulurkan untuk menjilati buah pelirku. Tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku. Secara bergantian, kakak beradik, Mbak Rina dan Mbak Vira, mengocok-ngocok, menjilati dan mengulum penisku. Penisku keluar dari mulut Mbak Vira kemudiam masuk ke mulut Mbak Rina, kemudian keluar dari mulut Mbak Rina lalu masuk kemulut Mbak Vira, begitulah seterusnya. Hingga kurasakan penisku berkedut-kedut.

“Mbakk.. Akuu.. Mauu.. Ke.. Keluarr,” jeritku.
“Keluarin di mulutku Don,” sahut mereka hampir bersamaan.

Dan crott! crott! crott! Spermaku muntah dimulut Mbak Vira yang sedang kebagian mengulum. Mbak Vira menelan spermaku tanpa rasa jijik sedikitpun. Kemudian Mbak Rina merebut penisku dari Mbak Vira dan memasukkan ke mulutnya. Dan tak mau kalah dengan adiknya, sisa-sisa spermaku dihisap dan dijilatinya sampai bersih.

“Kamu puas Don,” kata Mbak Vira.
“Puas sekali Mbak, Mbak berdua luar biasa,” sahutku.
“Kamu mau yang lebih seru nggak,”kata Mbak Rina.
“Mau, mau Mbak,”sahutku.

Mereka kemudian mengajakku ke kamarnya, dimana Mas Iwan sedang tertidur pulas sehabis bersetubuh dengan Mbak Rina. Mbak Rina menyuruhku tidur terlentang diranjang. Mbak Rina kemudian menarik kakiku, hingga pantatku berada ditepi ranjang dan kakiku menjuntai kelantai. Lalu Mbak Rina berjongkok dilantai dengan wajah berada pas di depan selangkanganku. Mbak Rina mulai mengusap-usap dan mengocok-ngocok batang penisku yang masih layu, sehabis orgasme. Kurasakan sedikit ngilu tetapi kutahan.

Mbak Rina menyudahi usapan dan kocokannya. Dan mulai menjilati dan menghisap-isap penisku dimulai dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Lidahnya berputar-putar dan menari-nari diatas batang penisku. Puas menjilati penisku, Mbak Rina kemudian memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk kemulutnya. Dan kurasakan sedikit demi sedikit penisku mulai menegang didalam mulutnya, hingga mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang sudah tegang penuh. Mbak Rina sangat pintar membangkitkan birahiku. Mulutnya maju mundur mengulum penisku. Pipinya sampai kempot, saking semangatnya mengulum penisku.

Melihat kakaknya yang sedang menjilati dan mengulum batang penisku, Mbak Vira nafsunya bangkit lagi. Dia meraba-raba dan memasukkan jari-jari tangan kirinya ke dalam vaginanya sendiri, sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah dadanya hingga mengeras dan padat. Diiringi desahan-desahan penuh birahi.

Puas bermain-main dengan vagina dan buah dadanya sendiri, Mbak Vira kemudian naik ke atas tubuhku. Dan mengangkangi wajahku. Lubang vaginanya berada pas diatas wajahku. Dia menurunkan pantatnya, hingga bibir vaginanya menyentuh mulutku. Kujulurkan lidahku untuk menjilati vaginanya yang telah basah. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya, dia mengerang-erang merasakan nikmat. Mbak Vira menarik rambutku, membenamkan wajahku diselangkangannya. Kepalaku dijepit dengan kedua paha mulusnya.

Kini kami bertiga, aku dan kakak beradik sedang berlomba mencari kepuasan. Mbak Vira sedang kujilati vaginanya, sedangkan pada bagian bawah tubuhku Mbak Rina dengan asiknya mengulum batang penisku. Beberapa waktu berlalu Mbak Rina melepaskan kulumannya, dan berjongkok diatas selangkanganku. Dengan tangannya, diraihnya batang penisku dan diarahkannya ke lubang vaginanya. Bless! Dengan sekali dorongan pantatnya, masuklah seluruh batang penisku ke dalam vaginanya yang basah tapi hangat.

Lalu Mbak Rina menaik turunkan pantatnya, sambil mengeluarkan desahan-desahan nikmat dari mulutnya. Sesekali pantatnya diputar-putar hingga penisku serasa dipelintir. Saat menikmati goyangan Mbak Rina, aku terus menjilati vagina Mbak vira sambil memasukkan jari-jariku ke lubang anusnya. Sedang asiknya aku menjilati vagina Mbak Vira, kurasakan vaginanya berkedut-kedut.

Beberapa detik kemudian ada cairan yang keluar dari dalam vaginanya. Mbak Vira mencapai orgasme. Pahanya makin keras menjepit kepalaku. Tanpa rasa jijik kusedot dan kutelan cairan vaginanya.
Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, Vagina Mbak Rina juga berkedut-kedut, otot-otot vaginanya menegang.

“Ohh.. Don.. Aku.. Keluar,” teriak Mbak Rina.

Air maninya mengaliri deras dan membasahi batang penisku. Kemudian dia terkulai lemas sampingku. Membuat penisku yang masih tegang terlepas dan mengacung-acung. Mbak vira yang kondisi sudah pulih sehabis orgasme, kemudian berjongkok diatas selangkanganku, menggantikan kakaknya. diraihnya penisku dan diarahkannya ke lubang anusnya. Mbak Vira menurunkan pantatnya sedikit demi sedikit hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Kurasakan penisku seperti dijepit dan dipijit-pijit oleh sempitnya lubang snusnya.

“Oohh.. Mbak.. Nikk.. Matt.. Enakk,”teriakku, ketika Mbak Vira mulai menaik turunkan pantatnya, membuat penisku keluar masuk dari lubang anusnya. Sesekali dia menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, membuatku merasakan nikmat yang luar biasa. Sekitar tiga puluh menit Mbak Vira menggenjot tubuhku.

“Mbakk.. Akuu.. Ke.. Keluarr,” jeritku.

Kurasakan penisku berkedut-kedut dan crott! crott! crott! kutumpahkan seluruh spermaku di dalam lubang anusnya. Mbak Vira kemudian merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Sambil menindihku dia tersenyum puas. Malam itu, aku dan Mas Iwan menginap disana. Dan berpesta sampai pagi, sampai kami sama-sama puas dan kelelahan.

Panasnya sinar matahari yang menerobos jendela kamarku, membangunkanku dari tidurku yang lelap. Setelah hampir semalam penuh aku merasakan nikmatnya bersetubuh dengan Mbak Rina dan Mbak Vera. Dan aku baru pulang dari rumahnya kerumah Mas iwan jam 05.00 dinihari.

Dengan sedikit bermalas-malasan, aku pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Selesai mandi badan rasanya segar sekali. Siang itu kurasakan lain dari biasanya, rumah Mas Iwan tampak sepi sekali. Oh ya, aku baru ingat kalau hari ini, Mas Iwan mengantar Tante Sari kondangan ke kampung sebelah. Jadi yang ada di rumah hanya Mbak Erna dan Aku.

Dengan hanya mengenakan handuk yang kulilitkan dipinggangku, aku pergi ke dapur. Membuat secangkir kopi. Sampai didapur kudapati Mbak Erna sedang mencuci piring.

“Pagi Mbak,” sapaku.

Mbak Erna tak menjawab sapaanku. Mukanya cemberut. Aku heran, tumben Mbak Erna begitu, biasanya dia sangat ramah padaku.

“Ada apa sih Mbak, kok cemberut begitu,” tanyaku lagi.
“Mbak marah sama aku? atau Mbak nggak senang ya, aku disini,” imbuhku.

Mbak erna masih diam saja, membuatku tak enak hati dan bertanya-tanya dalam hati.

“Ok, Mbak. Kalau Mbak nggak senang, aku pulang aja deh,”
“Jangan-jangan pulang Don, aku nggak marah sama kamu,” sahutnya sambil menarik tanganku.
“Habis Mbak marah sama siapa? Boleh tahu kan Mbak?” tanyaku lagi.
“Ok, Mbak akan kasih tahu, tapi jangan bilang sama siapa-siapa ya!,” jawabnya.
“Aku janji Mbak,” kataku meyakinkannya.
“Don, aku lagi kesal sama Mas Iwan,” kata Mbak sari.
“Kesal kenapa Mbak,” selaku.
“Belakangan ini, Mas Iwan dingin sekali padaku Don,” katanya sambil merebahkan kepalanya didadaku.
“Setiap aku pingin begituan, dia selalu menolak,” imbuhnya sambil tersipu malu.
“Mungkin Mas Iwan lagi lelah Mbak,” hiburku sambil kuusap-usap rambutnya.
“Ah, masak setiap malam lelah,” sahutnya.
“Mungkin ada yang bisa aku bantu, untuk menghilangkan kekesalan Mbak,” pancingku.

Mbak Erna tak menjawab pertanyaanku. Sebagai orang yang cukup berpengalaman soal sex, aku tahu Mbak Erna sangat kesepian dan menginginkan hubungan sexsual. Maka dengan memberanikan diri, kukecup lembut keningnya. Dan kurasakan remasan halus tangannya yang masih memegang tanganku.
Merasa mendapat respon positif, kugerakkan bibirku menciumi kedua pipinya dan berhenti dibelahan bibir mungilnya.

Mbak Ernapun membalas kecupanku pada bibirnya dengan kuluman yang hangat, penuh gairah. kukeluarkan lidahku, mencari lidahnya. Kuhisap-hisap dan kusedot-sedot. Kulepaskan tanganku dari genggamannya dan kugerakkan menggerayangi tubuh Mbak Erna. Dan perlahan-lahan kususupkan tangan kananku kebalik gaun tidurnya. Dan kurasakan halusnya punggung Mbak Erna. Sementara tangan kiriku meremas-remas pantatnya yang padat. Mbak Erna melepaskan seluruh pakaiannya. Agar aku lebih leluasa menggerayangi tubuhnya.

Setelah semua terlepas maka terpampanglah pemandangan yang luar biasa. Dengan jelas aku bisa melihat buah dadanya yang montok, perutnya yang ramping dan vaginanya yang dicukur bersih. Membuat nafsu birahiku semakin menjadi-jadi dan kurasakan penisku menegang. Akupun melepaskan kulumanku pada bibirnya dan dengan sedikit membungkukkan badanku. Aku mulai menjilati buah dadanya yang mulai mengeras, secara bergantian.

Puas menjilati buah dadanya, jilatanku kupindahkan ke perutnya. Dan kurasakan halusnya kulit perut Mbak Erna. Mbak Erna tak mau ketinggalan, ditariknya handuk yang melilit dipinggangku. Dengan sekali sentakan saja, handukku terlepas.

“Aow, besar sekali don penismu,” decaknya kagum, sambil memandangi penisku yang telah menegang dan mengacung-ngacung setelah handukku terlepas. Mbak Erna menggerakkan tangannya, meraih batang penisku. Diusap-usapnya dengan lembut kemudian dikocok-kocoknya, membuat batang penisku semakin mengeras.

Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu, Kusudahi jilatanku pada perutnya. Kuangkat tubuhnya dan kududukkan diatas meja dapur. Kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Dan terpampanglah di depanku bukit kecil yang dicukur bersih. Bibir vagina yang memerah dengan sebuah daging kecil yang tersembul diatasnya. Kubungkukkan tubuhku dan kudekatkan wajahku ke selangkangannya. Dan aku mulai menjilati pahanya yang putih mulus, dihiasi bulu-bulu halus. Sambil tanganku meraba-raba vaginanya.

Beberapa menit berlalu, kupindahkan jilatanku dari pahanya ke vaginanya. Mula-mula kujilati bibir vaginanya, terus kebagian dalam vaginanya. Lidahku menari-nari didalam lubang vaginanya yang basah.

“Ohh.. terus.. Don.. terus.. Nik.. Matt,” serunya tertahan. Membuatku semakin bersemangat menjilati lubang vaginanya. Kusedot-sedot klitorisnya. Pantat Mbak Erna terangkat-angkat menerima jilatanku. Ditariknya kepalaku, dibenamkannya pada selangkangannya.

“Ohh.. Don.. Aku.. Tak.. Tahan.. Masukin Don.. Masukin penismu,” pintanya menghiba.

Kuturuti kemauannya. Aku kemudian berdiri. Kuangkat kedua kakinya tinggi-tinggi, hingga ujung jari kakinya berada diatas bahuku. Kudekatkan penisku keselangkangannya. Mbak Erna meraih penisku dan menuntunnya ke lubang vaginanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.

Aku diam sejenak mengatur posisi supaya lebih nyaman, lalu kudorong pantatku lebih keras, membuat seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Kurasakan penisku dijepit dan dipijit-pijit lubang vaginanya yang sempit. Vaginanya penuh sesak karena besarnya batang penisku.

“Aow.. Pelan-pelan.. Don.. penismu gede sekali,” pekiknya, ketika aku mulai memaju mundurkan pantatku, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.

Tak terasa sudah tiga puluh menit aku memaju mundurkan pantatku. Dan kurasakan vagina Mbak Erna berkedut-kedut. Dan otot-otot vaginanya menegang.

“Ohh.. Don.. Aku.. Keluarr.. Sayang,” teriaknya lantang. Sedetik kemudian kurasakan cairan hangat keluar dari vaginanya. Dan Mbak Erna mencapai orgasmenya. Mbak Erna tahu kalau aku belum mencapai puncak kenikmatan. Dia turun dari atas meja dapur. Kemudian berjongkok dihadapanku. Diraihnya penisku dan dikocok-kocok dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya meremas-remas buah pelirku.

“Akhh.. Mbak.. Enak.. Nikk.. Mat.. terus,” seruku, ketika Mbak Erna mulai menjilati batang penisku. Dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Mataku merem melek merasakan nikmatnya jilatan Mbak Erna. Aku semakin merasa nikmat ketika Mbak Erna memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Dan mulai mengulum batang penisku. Mbak Erna memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar masuk dari mulutnya. Sementara tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku.

“Oohh.. Mbak.. Akuu.. Tak.. Tahan,” teriakku.

Dan kurasakan penisku berkedut-kedut semakin lama semakin cepat. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya diselangkanganku.

“Mbak.. Akuu.. Ke.. Luarr,” teriakku lagi lebih keras. Mbak Erna semakin cepat memaju mundurkan mulutnya. Dan crott! crott! crott! penisku memuntahkan sperma yang sangat banyak di mulutnya. Mbak Ernapun menelannya tanpa ragu-ragu. Dan tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati sisa-sisa spermaku sampai bersih.

“Terimakasih Don, kamu telah memberiku kepuasan,” pujinya sambil tersenyum.
“Sama-sama Mbak, aku juga sangat puas,” sahutku.
“Mbak masih mau lagi kan,” tanyaku.
“Mau dong, tapi kita mandi dulu yuk,” ajaknya.

Kemudian kami meraih pakaian masing-masing untuk selanjutnya bersama-sama pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Sehabis mandi, masih sama-sama telanjang, kubopong tubuhnya menuju taman disamping rumah. Aku ingin melaksanakan impianku selama ini, yaitu bersetubuh ditempat terbuka.

“Don.. Jangan disini sayang, nanti dilihat orang,” protesnya.
“Kan nggak ada siapa-siapa di rumah Mbak,” sahutku.

Mbak Ernapun tidak protes lagi, mendengar jawabanku. Sambil berdiri kupeluk erat tubuhnya. Kulumat bibirnya. Mbak Erna membalas lumatan bibirku dengan pagutan-pagutan hangat. Cukup lama kami bercumbu, kemudian aku duduk dikursi taman. Dan kusuruh Mbak Erna berjongkok dihadapanku. Mbak Erna tahu maksudku. Diraihnya batang penisku yang masih layu. Dielus-elusnya lembut kemudian dikocok-kocok dengan tangannya.

Setelah penisku mengeras Mbak Erna menyudahi kocokkannya, dia mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Lidahnya dijulurkan dan mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku, kemudian turun kepangkalnya.

“Oohh.. terus.. Mbak.. Nikmat banget,” desahku.
“Isepp.. Mbak.. Isep,” pintaku. Mbak Erna menuruti kemauanku.

Dimasukkannya penisku kemulutnya. Hampir sepertiga batang penisku masuk ke mulutnya. Sambil tersenyum padaku, dia mulai memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku maju keluar masuk dimulutnya.

“Mbak.. Aku.. Tak.. Tahan,” seruku. Mbak Erna kemudian naik ke pangkuanku. Vaginanya pas berada diatas selangkanganku. Diraihnya penisku dan dibimbingnya ke lubang vaginanya. Mbak Erna mulai menurunkan pantatnya, sedikit demi sedikit batang penisku masuk ke lubang vaginanya semakin lama semakin dalam. Hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Sesaat kemudian Mbak Erna mulai menaik turunkan pantatnya. Sesekali digoyang-goyangkan pantatnya kekiri-kekanan. Aku tak mau kalah, kusodok-sodokkan pantatku ke atas seirama dengan goyangan pantatnya.

“Ohh.. Don.. Aku.. Mauu.. Ke.. luarr,” teriaknya setelah hampir tiga puluh menit menggoyang tubuhku. Dan kurasakan otot-otot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram dadaku dengan keras. Sesaat kemudian kurasakan cairan hangat merembes dilubang vaginanya.

“Aku tak ingin mengecewakanmu Don,” katanya sambil tersenyum. Dia menarik penisku keluar dari lubang vaginanya, kemudian memasukkannya ke lubang anusnya. Mbak Erna rupanya tahu kesenanganku. Meski agak susah, akhirnya bisa juga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Perlahan tapi pasti Mbak Erna mulai menaik turunkan pantatnya. Membuatku merasakan nikmat yang tiada taranya.

Cukup lama Mbak Erna menggoyang-goyangkan pantatnya, kemudian kami berganti posisi. Kusuruh dia menungging, membelakangiku dengan tangan bertumpu pada kursi taman. Kugenggam penisku dan kuarahkan tepat ke lubang anusnya. Kudorong sedikit demi sedikit, sampai seluruhnya amblas tertelan lubang anusnya. Lalu kudorong pantatku maju mundur. Kurasakan nikmatnya lubang anus Mbak Erna. Sambil kucucuk-cucuk lubang vaginanya dengan jari-jariku. Membuat nafsu birahi Mbak Erna bangkit lagi. Mbak Erna mengimbangi gerakkanku dengan mendorong-dorong pantatnya seirama gerakkan pantatku.

Aku semakin mempercepat gerakkan pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme. Demikian juga jari-jariku semakin cepat mencucuk vaginanya.

“Mbak.. Mbak.. Akuu.. Mau.. Keluar,” seruku.
“Akuu.. Juga.. Don,” sahutnya.

Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, kami mencapai orgasme. Kutarik penisku dari lubang anusnya, dan kutumpahkan spermaku dipunggungnya. Mbak Erna kemudian membalikkan badannya dan berdiri, sambil memintaku duduk kursi taman. Didekatkannya selangkangannya kewajahku. Ditariknya rambutku dan dibenamkannya kepalaku keselangkangannya. Dan akupun mulai menjilati vaginanya sambil duduk. Kuhisap dan kusedot-sedot cairan hangat yang keluar dari lubang vaginanya. Mbak Erna sangat puas dengan perlakuanku.

Hari itu kami melakukan persetubuhan sampai puas, dengan berbagai macam gaya. Sungguh luar biasa Mbak Erna, meskipun tinggal dikampung. Tapi dalam soal bersetubuh dia tak kalah dengan orang kota. Memang sungguh nikmat istri Mas Iwan. Vagina dan lubang anusnya sama nikmatnya. Membuatku ketagihan menyetubuhinya.

Tak terasa sudah satu bulan aku berlibur dikampung Mas Iwan. Malam-malam yang kulewati bersama Mbak Erna dan Tante Sari membuat waktu satu bulan terasa cepat sekali. Sudah saatnya aku kembali kekotaku, karena tiga hari lagi aku harus ke sekolah.

Saat berangkat dari kampung Mas Iwan, aku tidak sendirian. Ada Vivi, anak kandung Tante Sari menemaniku. Gadis cantik berkulit putih dan bertubuh langsing ini, baru tamat SMP dan akan melanjutkan SMU di kota. Tante sari meminta tolong padaku agar mengantarkan Vivi, mencari rumah kost di dekat sekolah.

Dengan menempuh dua jam perjalanan, sampailah kami di kota. Dan setelah berpuar-putar cukup lama, akhirnya kudapatkan rumah kost untuk Vivi. Pemilik rumah adalah seorang janda cantik berusia sekitar 32 tahun, namanya Yeni. Setelah memberikan kunci kamar pada Vivi, Tante Yeni meninggalkan kami berdua.

Sehabis membantu Vivi mengangkat barang-barangnya ke dalam kamar, aku merasa haus. Kusuruh Vivi ke warung untuk membeli minuman. Sambil duduk menunggu kedatangan Vivi, iseng-iseng kunyalakan VCD. Ngawur aja kusetel salah satu film. Aku terkejut, ternyata isinya film porno.

Adegan-adegan difilm itu, membangkitkan nafsu birahiku. Kurasakan batang penisku mengeras dan berdiri tegak di balik celanaku. Kuturunkan celanaku, dan kukeluarkan batang penisku. Kuelus-elus dan kukocok-kocok batang penisku. Saking asiknya aku mengocok-ngocok batang penisku, sampai kedatangan Vivi tak kurasakan.

“Mas, Doni lagi ngapain,” suara Vivi mengejutkanku.
“Akh, nggak ngapa-ngapain,” sahutku.
“Itu apa?” tanyanya lagi sambil memandangi celanaku.

Astaga! Aku lupa menaikkan celanaku. Sehingga Vivi dengan jelas melihat penisku yang sedang berdiri tegak. Merasa sudah kepalang basah, kulanjutkan saja mengocok penisku.

“Kamu bisa membantuku Vi?,” tanyaku.
“Bantu apa Mas?,” katanya balik bertanya.
“Kocokkin penisku Vi,” pintaku.

Vivi menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kutarik tangannya dan kuletakkan diatas penisku. Vivi yang juga sudah terangsang akibat ikut nonton film porno, menggenggam batang penisku. Dengan lembut dia mengelus-elus dari kepala sampai kepangkal penisku. Aku merasa seperti melayang.

Aku melepaskan seluruh pakaianku sambil memeluk tubuh Vivi yang sedang mengocok penisku. Kutarik kaosnya dan kususupkan tanganku kebalik BHnya. Kuraba-raba buah dadanya. Perlahan-lahan buah dadanya mengeras. Cukup lama aku meraba-raba buah dadanya, kemudian kutarik Bhnya hingga terlepas. Setelah terlepas, terlihatlah buah dadanya yang padat dan mengeras. Aku melanjutkan lagi meremas-remas buah dadanya. Vivi mendesah-desah merasakan nikmat, tangannya semakin cepat mengocok penisku.

Sekitar lima belas menit berlalu kami berganti posisi. Sambil menarik rok mininya, kodorong tubuhnya hingga terlentang diranjang. Hanya celana dalamnya saja yang melekat menutupi selangkangannya. Kutindih tubuhnya dari atas lalu kukecup bibirnya, kujulurkan lidahku mengisi rongga mulutnya yang terbuka. Vivi menyambutnya dengan hisapan yang tak kalah hebatnya.

Setelah cukup lama berpagutan, kuputar tubuhku. Membentuk posisi 69. Selangkanganku berada diatas wajahnya, sedangkan selangkangannya berada dibawah wajahku. Kujulurkan lidahku menjilati bagian bawah perutnya, sambil tanganku melepas celana dalam Vivi. Vivi mengangkat pantatnya memudahkan aku melepaskan celana dalamnya dan meleparkannya ke lantai kamar. Lidahku bergerak turun menyapu bibir vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis.

“Ohh.. Mas don.. Enakk,” desahnya ketika aku mulai menjilati vaginanya yang basah, membuatku semakin bersemangat menjilati vaginanya. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya yang sebesar biji kacang.

Saat aku menjilati lubang vaginanya, Vivi juga sedang asyik menjilati penisku. Sambil tangan kirinya mengocok-ngocok pangkal penisku sedangkan tangan kanannya mengelus-elus buah pelirku dengan lembut. Sesaat kemudian Vivi memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk ke mulutnya. Kudorong pantatku ke atas dan ke bawah, sehingga penisku keluar masuk dimulutnya.

Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu. Aku bangkit dan berdiri dilantai kamar. Kutarik tubuhnya, hingga pantatnya berada ditepi ranjang. Kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Kuarahkan penisku tepat ke lubang vaginanya.

“Ja.. Jangan.. Mas, aku masih perawan,” katanya.

Aku tak memperdulikan kata-katanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku menyeruak masuk. Vivi berteriak lebih keras ketika aku mendorong lebih keras dan penisku menembus selaput daranya. Akupun lebih bersemangat mendorong pantatku dan amblaslah seluruh batang penisku ke lubang vaginanya yang sangat sempit. Penisku serasa dijepit sempitnya lubang vaginanya. Beberapa detik kubiarkan penisku di dalam vaginanya.

Kupandangi wajahnya yang meringis menahan sakit. Dengan perlahan-lahan kuangkat pantatku lalu kuturunkan lagi. Membuat penisku keluar masuk dilubang vaginanya. Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Beginikah rasanya menyetubuhi seorang perawan.

“Ohh.. Mas.. Enakk,” desahnya yang mulai merasakan

Nikmatnya disetubuhi. Pantatnya digerakkan naik turun seirama gerakkan pantatku. Rasa sakitnya telah hilang berganti dengan rasa nikmat. Sekitar tiga puluh menit berlalu, kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan otot-otot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram seprei dengan keras.

“Ohh.. Mas.. Akuu.. Mauu,” desahnya terputus.
“Mau keluar sayang,” sahutku.
Vivi mengangguk sambil tersenyum.
“Aku juga Vi,” imbuhku. Semakin cepat kudorong-dorong pantatku.
“A.. Akuu.. Ke.. Luarr,” teriaknya lantang.

Kurasakan cairan hangat merembes didinding vaginanya. Sedetik kemudian kurasakan penisku berkedut-kedut. Dan Crott! crott! crott! Kutumpahkan sperma yang sangat banyak dilubang vaginanya. Dan tubuhku ambruk menindih tubuhnya.

“Kamu menyesal Vi,” tanyaku sambil tersenyum puas, karena baru kali ini aku menyetuBHi seorang perawan.
“Nggak Mas, semua sudah terjadi,” sahutnya.
“Kamu mau lagi khan,” godaku. Vivi tersenyum padaku, senyum penuh arti.

Kira-kira satu jam kami tertidur. Akupun terbangun dan bergegas ke kamar mandi membersihkan badan. Mengingat kejadian tadi, bersetubuh dengan Vivi, membuat nafsu birahiku bangkit lagi. penisku yang tadi telah layu, kini tegang dan mengeras. Setelah mengelap tubuhku dengan handuk akupun bergegas ke kamar, dimana Vivi sedang tertidur pulas. Dan ia terbangun ketika aku lagi asyik menjilati lubang vaginanya.

“Oh.. Mas.. Apa yang kamu lakukan,” tanyanya.
“Aku pingin setubuhi kamu lagi sayang,” sahutku sambil tersenyum.

Vivi membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga aku lebih leluasa menjilati vaginanya. Beberapa menit berlalu kusuruh dia menungging. Aku mengambil posisi dibelakangnya. Dari belakang, aku menjilati lubang anusnya, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya.

Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong maju pantatku. Sedikit demi sedikit penisku masuk ke lubang vaginanya. Semakin lama semakin dalam penisku memasukinya, sampai seluruhnya amblas, tertelan lubang vaginanya. Akupun mendorong pantatku maju mundur, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.

“Ohh.. Nikk.. Matt.. Mas.. Enakk,” jeritnya tertahan. Sekitar tiga puluh menit berlalu, kutarik penisku dari lubang vaginanya hingga terlepas. Kemudian kugenggam penisku dan kuarahkan ke lubang anusnya.

“Jangan, Mass sakitt, ja.. “jeritnya sambil meringis. Belum habis dia bicara, kudorong pantatku dengan keras. Dan Bless! Seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Kukocok lubang anusnya dengan irama pelan semakin lama semakin cepat, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Dan Vivipun merasakan sensasi yang luar biasa dikedua lubangnya. Jeritan-jeritannya berganti dengan desahan-desahan nikmat penuh nafsu.

Aku semakin bersemangat mendorong-dorong pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme. Sepuluh menit kemudian penisku menyemburkan sperma didalam anusnya. Dan tak lama berselang Vivi menyusul, tubuhnya mengejang hebat. Kemudian Vivi terkulai lemas dan tertidur.

Aku kemudian berdiri dan mengenakan celanaku. Saat aku akan mengambil handuk ke dalam almari, tanpa sengaja aku menoleh keluar jendela. Samar-samar aku melihat sesosok bayangan wanita yang sedang berdiri dibalik jendela kamar. Rupanya orang itu sedang mengitip aku dan Vivi yang sedang bersetubuh dari balik korden yang lupa aku tutup.

Saat aku keluar mencarinya, wanita itu bergegas pergi. Aku membuntuti wanita itu. Melihat potongan tubuhnya dari belakang aku yakin kalau wanita itu adalah Tante Yeni, ibu kostnya Vivi. Dan aku keyakinanku semakin kuat, saat wanita itu masuk kekamar tidur Tante Yeni dan langsung menutup pintu. Aku berjalan mendekat dan berdiri di depan pintu kamarnya.

Aku mengintip dari lubang kunci. Dan memang benar, wanita yang tadi mengintipku adalah Tante Yeni. Sampai didalam kamar Tante Yeni melepaskan seluruh pakaiannya. Aku terkesima melihat tubuh Tante Yeni yang putih mulus dan sexy, meski sudah berumur sebaya ibuku. Membuat jantungku berdetak kencang. Nafsu birahiku yang baru saja tersalurkan bersama Vivi, perlahan-lahan bangkit lagi.

Pemandangan selanjutnya lebih seru lagi. Tante Yeni merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan kedua kaki terbuka lebar-lebar, memperlihatkan indahnya bentuk vaginanya. Tante Yeni meremas-remas buah dadanya sendiri dengan tangan kirinya. Perlahan buah dadanya mulai mengeras. Sedangkan tangan kanannya meraba-raba selangkangannya. Desahan-desahan nikmat keluar dari bibirnya, membuatku semakin tak tahan. Batang kemaluanku sudah berdiri tegak.

Dengan sangat hati-hati, aku membuka pintu kamarnya. Dan ternyata tidak terkunci. Sambil melepaskan celanaku, aku berjalan mengendap-endap mendekatinya. Tante Yeni yang sedang asyik meraba-raba tubuhnya sendiri, tidak tahu kalau aku masuk ke kamarnya.

Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menindihnya. Tante Yeni sangat terkejut melihat kehadiranku. Aku segera menyumpal mulutnya yang sedang Terbuka saat dia hendak berteriak dengan mulutku. Dan aku langsung melumatnya. Tante Yeni yang sedang dirasuki nafsu birahi, membalas lumatanku dengan pagutan-pagutan yang tak kalah hebatnya.

Cukup lama aku melumat bibirnya, kemudian aku menjilati lehernya, terus turun ke buah dadanya yang sudah mengeras. Kedua buah dadanya aku jilati secara bergantian, membuat desahannya semakin keras. Aku menyudahi jilatanku pada kedua buah dadanya, kemudia aku berlutut ditepi ranjang, diantara kedua kakinya. Tanganku yang nakal mulai meraba-raba bibir vaginanya yang dicukur bersih.

Tanpa berfikir lama, aku menjulurkan lidahku, menjilati, menghisap dan sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vagina Tante Yeni dan lidahku menari-nari di dalam lubang vaginanya. Tante Yeni mengangkat-angkat pantatnya, menyambut jilatanku. Rintihan-rintihan kecil keluar dari mulutnya setiap kali lidahku menghujam lubang vaginanya. Disaat dia sedang menikmati jilatanku, aku memasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya. Sambil sesekali aku menjilati lubang anusnya. Tante Yeni sangat menikmati perlakuanku, dia menekan kepalaku dan membenamkannya diselangkangannya.

Sepuluh menit berlalu, aku menyudahi jilatanku. Aku kemudian berdiri, sambil menarik pinggulnya ketepi ranjang, kedua kakinya kubuka lebar-lebar. Tanpa membuang waktu lagi, batang kemaluanku yang sudah tegang dari tadi langsung kuhujamkan ke lubang vaginanya. Tante Yeni menjerit saat batang kemaluanku yang besar dan panjang menerobos masuk ke lubang vaginanya. Aku merasakan jepitan bibir vaginanya yang begitu seret. Aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Tante Yeni sangat menikmati setiap gerakkan pantatku, dia menggeliat dan mendesah disetiap gerakan kemaluanku keluar masuk dari lubang vaginanya.

Aku semakin mempercepat memaju mundurkan pantatku saat Tante Yeni memperlihatkan tanda-tanda orang yang mau orgasme.

“Ohh.., Don.., akuu.., mau.., keluarr,” jeritnya cukup keras. Tante Yeni menggelinjang hebat, kedua pahanya menjepit pinggangku. Rintihan panjang keluar dari mulutnya saat klitorisnya memuntahkan cairan kenikmatan. Aku merasakan cairan hangat yang meleleh disepanjang batang kemaluanku. Aku membiarkan Tante Yeni beristirahat sambil menikmati orgasmenya. Setelah Tante Yeni berhasil menguasai dirinya, tanpa membuang waktu lagi aku membalikkan tubuhnya dalam posisi menungging.

Lalu aku menciumi pantatnya. Tante Yeni mengeliat menahan geli saat lidahku menelusuri vagina dan anusnya. Kemudian aku meludahi lubang anusnya beberapa kali. Setelah kurasakan daerah itu benar-benar licin, aku membimbing batang kemaluanku dengan tangan kiriku sementara tangan kananku membuka lubang anusnya. Tante tak bereaksi apa-apa dan membiarkan saja apa yang kulakukan. Perlahan kudorong pantatku. Tante Yeni merintih sambil menggigit bibirnya menahan rasa perih akibat tusukan kemaluanku pada lubang anusnya yang sempit. Setelah beberapa kali mendorong dan menarik akhirnya seluruh batang kemaluanku masuk ke lubang anusnya.

Sambil menikmati jepitan lubang anusnya, aku mendiamkan sebentar batang kemaluanku disana untuk beradaptasi. Tante Yeni menjerit saat aku mulai menghujamkan kemaluanku. Tubuhnya terhentak-hentak ketika sodokkanku bertambah kencang dan kasar. Sambil terus meningkatkan irama sodokkan, tanganku dengan kasar mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Akibat menahan sensasi nikmat ditengah-tengah rasa ngilu dan perih pada kedua lubang bawah tubuhnya, Tante Yeni sampai menangis. Setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke lubang anusnya, dia mengaduh namun dia tak mau aku menyudahinya. Sampai akhirnya kurasakan suatu perasaan yang sangat nikmat mengaliri sekujur tubuhku.

Aku mengerang panjang, saat mengalami orgasme yang pertama. Tanganku mencengkeram keras pantatnya. Aku menumpahkan seluruh spermaku didalam lubang anusnya. Tubuhku menegang beberapa saat, kemudian terkulai lemas. Tak lama kemudian Tante Yeni menyusul, dia mengeram sambil tangannya mencengkeram bantal kuat-kuat. Cairan hangat dan kental meleleh dari lubang vaginanya.

Dengan nafas yang masih memburu dan tubuh yang masih lemas, Tante Yeni bangkit kemudian duduk ditepi ranjang. Dia meraih batang kemaluanku lalu memasukkan ke mulutnya. Tante Yeni menjilati sisa-sisa sperma yang masih blepotan dibatang kemaluanku sampai bersih tanpa tersisa setetespun. Tante Yeni tersenyum puas merasakan nikmat yang sudah cukup lama tidak dirasakannya, sejak dia bercerai dengan suaminya.

Tanpa malu-malu dia meminta aku agar menyutubuhinya lagi. Aku menuruti permintaannya, kami bersetubuh sampai pagi. Sampai kami benar-benar kelelahan. Pagi-pagi sekali aku meninggalkan Tante Yeni yang masih tidur tanpa busana dan masuk kekamar Vivi. Dimana Vivi juga sedang tidur pulas. Aku mengenakan seluruh pakaianku, kemudian pergi tanpa pamit. Meninggalkan kenangan-kenangan nikmat untuk mereka berdua. Sekali waktu aku mengunjungi Tante Yeni dan Vivi untuk menikmati lagi tubuh mereka.

image hosted by ImageVenue.com

Hasrat & Nafsu Part 2

37
Filed under Setengah baya

Kapan suamimu pulang .. Marisa ..?”, bisikku letih kepadanya, sejenak setelah hampir sekitar kurang lebih 1 jam aku menggeluti dan menyetubuhinya sebanyak dua kali. Kami berbaring kelelahan diatas kasur kamarnya. Kuelus-elus mesra bukit kemaluannya yang sedikit basah berkeringat sehabis kusenggamai. Begitu tebal dan montok bukit kemaluan mbak Marisa ini. Kucubit gemas berulang kali belahan bibir labia mayoranya yang empuk dan kenyal. ” Nggghhhh ….. akhir bulan depan Er … kenapa ..?”, ujarnya setengah merintih menikmati elusanku.

” Apa katanya nanti Marisa … ?”, tanyaku sedikit khawatir. ” Aahh … selalu itu saja yg kau tanyakan Ery … ngghhh … dia harus tahu diri karena ia sendiri yg mengusulkan ide ini …..” ” Bisa-bisa aku dibunuhnya Marisa …?”, tanyaku masih tak puas.
Mbak Marisa membuka kedua matanya yg setengah terpejam lalu memandangku gemas. ” Ery … bagaimanapun juga suamiku pasti ingin tahu siapa bapak anak yg sedang kukandung ini … setidaknya kamu mesti ketemu dengannya …” ” Suamimu benar-benar gila Marisa … ?” ” Kita yg gila Er … dan kau yg gila Ery … kamu sendiri khan yg nekat dan berani-beraninya merayuku sampai hamil begini …ahhh …”, bisiknya lirih masih kelelahan.

Mulutnya tersenyum kecil. ” Kenapa kamu juga mau dirayu ….?”, ujarku tak mau kalah. ” Bodo aahh …”, sahutnya malas. Kupandangi wajah cantiknya yg terlihat letih. Bibirnya yg sedikit tebal tampak basah. Kupandangi tubuh bugilnya yang putih mulus dan begitu montok nan aduhai, kedua buah dadanya mengacung tegang bak buah melon dengan puting-putingnya yg keras berwarna coklat kemerahan. Pinggulnya bundar padat dengan kedua paha serta kaki seksinya yg putih merangsang, bukit kemaluannya yang mulai tertutup dengan rerimbunan jembutnya yang halus dan kehitaman tampak basah merangsang birahi. ”

Suamimu benar-benar menyia-nyiakanmu Marisa …”, bisikku gemas. Kuremas dan kukocok alat vitalku yg mulai menegang lagi. Dalam sekejab rudal tomahawk ku telah kembali perkasa. Kepala penisku membesar bak buah sawo manis. Urat-urat disekujur batang penisku mulai bertonjolan keluar menandakan ereksi-ku yang telah sempurna. Mbak Marisa melirikku sekilas dan hanya bisa tersenyum letih. ” Aaah .. kadang kupikir aku sudah tak sanggup lagi melayanimu Ery …”, bisiknya lemah. Aku tersenyum menyeringai senang. Dengan penuh gairah aku kembali menaiki dan menindih tubuh mbak Marisa yang telanjang. Kupentang lebar kedua belah paha mulusnya. Dan ia hanya memekik kecil dan merintih panjang saat untuk kesekian puluh kalinya batang alat vitalku kembali menembus dan mengoyak liang kemaluan hangatnya sampai mentok kandas. ” Aawww … ooh .. Ery .. kau ini benar-benar hipersex …”, bisiknya letih.

Aku tahu mbak Marisa sudah tak sanggup lagi melayani nafsu sex ku lagi…. Sayang aku tak peduli. Ia hanya bisa mengeluh dan merintih berulang kali ketika aku mulai mengayuh pinggulku turun naik menyetubuhinya lagi beberapa saat lamanya, sebelum akhirnya air maniku kembali tersembur keluar dengan hebatnya memenuhi liang vaginanya, menyebar benih-benih spermaku kedalam rahimnya. Perlu juga saya ceritakan sedikit tentang kelainan sex yg dimiliki mbak Marisa …. Selain ia senang menyuruhku meminum cairan lendir orgasmenya, mbak Marisa juga suka melihat air maniku ditumpahkan keatas kemaluannya.

Pernah suatu malam saat kami berhubungan badan yg biasanya paling tidak kami lakukan sebanyak 2 ronde, pada ronde pertama kami bersenggama ketika kurasa air maniku sudah hendak muncrat keluar tiba-tiba mbak Marisa berbisik kepadaku. ” Eryyy … keluarkan diluar sayang ….nnnggghh …. cabut dulu penismu Er ….”, erangnya manja. Semula aku agak kaget juga mendengar permintaannya yg aneh, karena biasanya bila air maniku hendak keluar kedua paha mulusnya langsung dijepitkan kuat-kuat ke pinggangku dan vaginanya langsung merapat ketat sekali sampai alat vitalku tak kuat lagi menahan rasa nikmat, namun kali ini mbak Marisa malah mendorong tubuhku yg sudah mulai meregang nikmat hendak enjakulasi, dengan cepat tubuhnya yg berada dibawah tindihanku langsung bergeser sedikit keatas sehingga otomatis batang penisku langsung tercabut keluar dari dalam liang vaginanya.

Belum juga habis kagetku, jemari tangan kanannya menyambar alat vitalku … diremasnya kuat dan dikocok naik turun dengan cepat … kepala penisku diarahkannya keatas permukaan bukit kemaluannya yg besar montok ditumbuhi dengan bulu jembutnya yg mulai rimbun dan tebal, belahan kedua bibir kemaluannya masih setengah terbuka sehabis kusenggamai tadi dan tampak basah berlendir bekas cairan kewanitaannya yg bercampur dengan cairan orgasmenya yg berwarna keruh kekuningan. …. Crraatttt …crreeeettt ……. Crrreeett ……. Crrrettt t……. ccreeeeetttt……. Air maniku yg putih setengah kental langsung berhamburan keluar banyak sekali membasahi seluruh permukaan bukit kemaluannya yang merangsang. Bulu jembutnya yg mulai tebal seakan tertutup oleh leleran air maniku yg putih seolah seperti sedang dikeramasi.

Saking kuatnya semburan spermaku itu sampai membentuk garis-garis putih dan panjang diseluruh bukit kemaluannya dan sekitar perut serta pusarnya, sebagian besar meresap masuk disela-sela belahan bibir kemaluannya dan memasuki liang vagina merahnya yang setengah terbuka. Kedua mata mbak Marisa tampak berbinar-binar melihat cairan mani kentalku yg begitu banyak melumuri bukit kemaluannya. Ia mendesis gemas dan lidahnya setengah terjulur keluar menjilati bibirnya yg basah merekah. ” mmmmhh ..pantas saja begitu cepat aku hamil Er …. Spermamu sebanyak ini ….”, bisiknya kagum. Aku tersenyum bangga diantara rasa nikmat enjakulasiku, kuraih alat vitalku yg mulai sedikit lemas karena air maniku seakan terkuras habis dari remasan jemari tangan mbak Marisa … dengan gemas kuusap-usapkan alat vitalku yg masih setengah ngaceng ke seluruh permukaan bukit kemaluannya yg penuh leleran maniku sendiri lalu dengan sedikit susah payah berusaha kubenamkan kembali kepala penisku yg sudah loyo itu kedalam liang vaginanya.

Tapi sayang…. Alat vitalku terlalu lemas untuk memasuki liang vagina mbak Marisa yg sangat rapat … hingga meski aku berusaha menekan tetap saja hanya ujung kepala penisku yg bisa masuk sekitar 3 centi saja … ” Aaaahhhh …. Marisa ….”, bisikku gemas menyaksikan semua itu. Aku terkulai lemas disampingnya. Dengan mesra mbak Marisa mengusap lembut jidatku yg penuh keringat sebelum akhirnya ia mengusap-usap perut dan bukit kemaluannya sendiri yg penuh leleran maniku sampai berjatuhan dan membasahi sprei tempat tidurnya. Beberapa kali aku juga sering minta kepada mbak Marisa untuk mencoba merasakan senggama lewat lubang anusnya, karena sering aku melihat di film2 porno anal sex seperti itu kelihatannya sangat nikmat sekali karena lubang anus sudah pasti sangat sempit dan jauh lebih rapat dibanding liang vagina. Namun dengan tegas mbak Marisa selalu menolak dengan alasan kotor dan takut sakit.

Untuk menghiburku biasanya ia menyuruhku agar menjepitkan batang alat vitalku diantara payudaranya yg memang sangat besar. Aku sangat menyukainya karena rasanya juga nikmat… empuk, kenyal dan hangat. Dan bila air maniku sudah hendak tumpah keluar maka mbak Marisa akan memintaku untuk memasukkan penisku kedalam liang vaginanya kembali. Ia memang lebih senang kalo air maniku ditumpahkan disitu karena katanya ’sense of good’ nya luarbiasa kalo liang senggamanya dialiri cairan hangat.

Namun selama kami berhubungan badan belum pernah sekalipun mbak Marisa mau mengulum dan menghisap batang penisku (blow job) sebagai pemanasan, padahal aku sangat kepingin sekali bisa merasakan kuluman dan sedotan mulutnya yg menawan itu. Pernah suatu kali ketika air maniku hendak tumpah keluar setelah kurang lebih 15 menit kujepitkan dan kugesekkan diantara kedua buah dadanya, aku meminta mbak Marisa untuk mencoba merasakan dan meminum air maniku, pada mulanya dia menolak karena ia risih kalo harus mengulum dan menghisap batang penisku namun setelah kubujuk agar ia membuka mulutnya saja karena jemari tanganku sendiri yg akan mengocoknya akhirnya mbak Marisa bersedia meski setengah ragu.

Saat air maniku telah sampai diujung leher kepala penis pertanda enjakulasiku telah sampai dengan cepat kusodokkan kepala penisku memasuki mulut mungilnya dan langsung kusemburkan air maniku dengan sekuatnya kedalam kerongkongannya. Kurang lebih 3 semburan kuat. Ia terperangah dan mendelik kaget dan kurasakan gigi-gigi mulutnya seakan menggigit penisku. Sejenak kemudian mbak Marisa memalingkan mukanya lalu terbatuk-batuk sambil memuntahkan air maniku kembali keluar. Aku sedikit kecewa karena ulahnya tsb, sebagai pelampiasan kusemburkan sisa-sisa air maniku yg masih ada ke atas pipi dan rambutnya sampai basah semua. Akibatnya ….. ia juga kesal atas ulahku. Selama 4 hari mbak Marisa tak mau kutemui sama sekali. Aku sangat menyesal sekali.

Namun kejutan ketika di hari kelima tiba-tiba ia muncul ditempat kostku sambil meminta maaf telah mengabaikanku. Sebagai gantinya ia mengajakku rekreasi dan menginap di Klub Bunga kota Batu, disana kami berdua melampiaskan semua nafsu birahi kami yg serasa mau meledak karena 4 hari tak ketemu. Kalo kupikir heran juga kami saat itu, masa dalam 1 hari 1 malam di hotel aktifitas terbanyak kami hanya diatas ranjang, siang sewaktu kami tiba di hotel … langsung masuk kamar untuk berhubungan badan, 1 ronde selesai kami turun untuk makan,
lalu 1,5 jam kemudian kami berdua masuk kamar lagi dan berhubungan badan lagi … setelah itu tidur selama kurang lebih 3 jam … ketika bangun kami bercumbu lagi dan diteruskan dengan bersetubuh lagi ….setelah selesai dan mandi kami turun untuk makan malam … 1 jam kemudian masuk kamar lagi bercumbu lalu berhubungan badan lagi … selesai kami tidur sejenak sampai pukul 9 malam, ketika bangun kami nonton TV tetapi malah kebetulan sedang memutar film bertema romantis. … kami jadi terpengaruh lalu bercumbu dan bersenggama lagi … selesai kami tidur lagi sampai hampir pukul 2 malam .. aku terbangun karena haus sekali. Bersenggama berkali-kali membuat tubuhku sangat lemas kurang cairan. Aku membangunkan mbak Marisa untuk minum bersama-sama.

Semula ia ogah-ogahan karena ngantuk namun begitu aku menggodanya dengan meremas gemas buah dadanya yg montok dan kenyal ia jadi terpengaruh. Disibakkannya selimut penutup tubuhnya. Mbak Marisa masih setengah telanjang karena ia memang hanya mengenakan celana dalam saja. Dengan perlahan ia lalu memelorotkan dan melepas kain penutup tubuh satu-satunya itu, lalu dengan manja ia memintaku untuk menyetubuhinya lagi. Edaan … kupikir. Tapi itulah kenyataannya malam itu mbak Marisa sangat hipersex …. Kuminum separuh gelas anggur putih dan separuhnya kuberikan padanya sebelum akhirnya aku menaiki tubuh bugilnya lagi untuk kusetubuhi sampai ia merintih keras mereguk puncak kepuasan sex. Benar-benar 1 hari yg tak kan pernah terlupakan ….. capek tapi membawa nikmat …

9 Nopember …. Siang itu setelah salon tutup, aku bersiap hendak mengantar Silvi pulang. Perlu pembaca ketahui Silvi sudah resmi jadi pasanganku sejak seminggu lalu meski masih dalam taraf penjajakan. Dengan mesra kucium dahinya yg putih dan halus sbg tanda sayang. Silvi tertunduk malu, ia benar-benar polos sekali. Kadang kupikir benar juga kata Agus … Silvi ini belum pernah dijamah laki-laki, atau mungkin malah belum pernah pacaran sama sekali. Aku tak pernah menanyakan hal tsb kepada Silvi, karena itu bukan masalah penting buatku. ” Vi … aku pipis dulu yaa ..”, ujarku padanya mesra.

” Iiih ada aja sih kamu … cepetan dong …”, bisiknya tak kalah mesra. Kadang lucu juga ia memanggilku dgn sebutan ‘mas’ padahal usianya setahun lebih tua dariku. Dengan penuh semangat aku bergegas ke kamar mandi belakang rumah mbak Marisa. Kulihat mbak Diana, Erna, Santi dan juga mbak Marisa masih asyik memberesi peralatan salon. ” Hai … everybody … “, sapaku gembira kepada mereka semua. ” Hai juga … mau nganter Silvi pulang Er ..?”, tanya mbak Marisa sembari tersenyum penuh arti padaku.

Kelihatannya mbak Marisa masih terkenang dengan keganasanku semalam ketika menyetubuhinya. ” Iyaa .. mbak … but kencing dulu nih ..”, ujarku sambil ngibrit ke belakang. Setengah berlari aku menuju ke kamar mandi belakang dekat dapur. Karena sudah kebelet aku langsung membuka pintu dan masuk kedalam dan … Astaga …. Ternyata Sherly ada disitu sedang buang air kecil juga, kebetulan kulihat ia masih berjongkok mengeluarkan air kencingnya … bunyinya mendesis-desis seperti suara ular. ” Eehh ….” ” Eeehh …” Kami berdua sama-sama kagetnya.

Karena kebetulan saat itu Sherly sedang mengangkat roknya keatas, sehingga dapat kulihat jelas kedua belah pahanya yg seksi dan putih mulus, begitu juga bagian terlarangnya yg lain. Wiiiihhh …. Mataku sampai mendelik kagum menyaksikan keindahan bukit kemaluan Sherly yang cukup besar. Bulu jembutnya yg merangsang tidak terlalu lebat sekali sehingga aku dapat melihat jelas celah bibir vaginanya yg ternyata masih menutup rapat, namun dari sela-sela celah sempitnya itu kulihat sebuah air mancur kecil sedang menyembur-nyembur dengan hebatnya. Sherly dengan wajah merah padam segera menutup bagian bawah tubuhnya dengan rok pendeknya lalu ia langsung berdiri, setengah terburu-buru ia segera membalikkan badan karena malu.

Celana dalamnya yg masih tersangkut diantara kedua pahanya yg putih mulus segera ditarik keatas dan dipasang kembali. Wooww … indahnya bentuk pinggulnya itu. Baru kali ini aku menyadari betapa indahnya bentuk tubuh mbak Sherly ini. Tak kalah dengan Marisa. Bokongnya terlihat bulat mekal dan padat, menandakan ia termasuk cewe yg nikmat untuk disetubuhi. Mukanya masih merah padam ketika dengan cepat Sherly menghampiriku dan Plokk … tiba-tiba saja pipiku terasa panas dan pedih. Aku benar-benar maklum kenapa ia menamparku.

” Maaf Sherly … saya nggak sengaja … kenapa pintunya nggak dikunci ..?”, ujarku pelan sembari meraba pipiku yg panas. ” Saya bukan cewe murahan yg bisa kau pandangi seenakmu Ery … kamu sengaja khan mengintipku …?”, katanya dengan pandangan berapi-api. ” Astaga … swear Sherly …untuk apa aku mengintipmu …”, ujarku membela diri. ” Ery … kau bisa saja mempermainkan mbak Marisa tetapi itu bukan berarti kau juga bisa mempermainkanku …”, katanya ketus. Aku tersenyum melihat kemunafikan di wajah cantiknya. Aku tahu Sherly sedang berpura-pura menutupi rasa malunya sendiri. Bagaimanapun juga aku tahu ia punya hasrat kepadaku. ” Maaf Sherly .. saya nggak perlu berdebat denganmu lagi …saya ingin kencing ..”, ujarku rada jengkel juga. Aku membalikkan badan memunggunginya. Setengah memancing sengaja setengah kuplorotkan celana jeans dan celana dalamku. Ingin kulihat seberapa jauh reaksinya. Kalau ia keluar berarti ia punya konsekuensi tersendiri, jika tidak berarti ia bohong dan menginginiku.

Alat vitalku yg masih lemes segera kuluruskan agar air kencingku tak sampai mengotori dan membasahi celanaku. Benar saja beberapa saat kemudian ketika air kencingku mulai mengalir keluar, kurasakan sebuah dekapan lembut memeluk pinggangku, aahh … aku sedikit terlena merasakan desakan dua gumpalan bulat yg lunak dan kenyal menempel dan menekan punggungku ketat sekali. Seraut wajah cantik muncul dari sebelah pundak kananku seakan mengintipku yg sedang buang air kecil. Aku tersenyum penuh kemenangan. ” Aku tahu kau menginginiku Sherly … kau tidak bisa membohongi itu dariku …” ” Maafkan aku Ery … maafkan kemunafikanku …”, bisiknya lembut. Aku mendesah nikmat saat jemari tangan kanannya yg halus lentik menggantikan jemariku yg sedang memegangi alat vitalku. ” Aaahhh …. Sherly … awas tanganmu kecipratan …”, bisikku mulai bergairah.

Hanya 5 detik saja, alat vitalku langsung menegang dalam genggaman jemari tangannya yg halus. ” Iiihh … punyamu besar sekali Ery …!”, bisik Sherly lirih disebelahku. Jemari tangannya mulai mengurut batang alat vitalku yg mulai ngaceng …. Air kencingku masih menyembur beberapa saat. Sedikit kerepotan juga kencing dalam keadaan ngaceng seperti ini. Seperti ngganjel. ”

Sini aku cucikan punyamu Er …”,kata Sherly perlahan. Diambilnya secebok air lalu pelan-pelan disiramkannya membasahi kepala penisku sampai ke tengah-tengah batang penisku yg ngaceng. ” Kau ereksi sekali Ery …”, katanya lagi begitu lembut, seolah alat vitalku yg sedang ngaceng ini hanya sekedar barang mainan anak-anak. Diusapnya lubang saluran kencingku dengan ujung jemari telunjuknya beberapa kali sampai bersih membuat tubuhku sampai menggeliat kegelian. ” Sudah Sherly …aaaahhhh …geliii …”, bisikku keenakan. Dengan perlahan penuh kelembutan Sherly lalu melepaskan genggamannya pada batang penisku yg ngaceng. Kubalikkan badan dan dengan segera kuraih tubuh Sherly dalam pelukanku. Dalam 2 detik bibir kami sudah saling bertautan mesra. Kunikmati bibirnya yang hangat merekah dan kuhisap dengan penuh nafsu.

Begitu hangat dan lembut bibirnya membalas cumbuanku seakan kekasih yg memendam rindu. Sementara itu dengan terampil kedua jemari tanganku telah berada diatas dadanya lalu dengan gemas dua bulatan payudara Sherly yg cukup besar itu kuremas-remas berulang-ulang. Ooouhh …. Begitu kenyal dan padat. Sherly merintih pelan diantara cumbuan bibirku. Namun hanya sebentar, 2 menit kemudian Sherly melepaskan ciumanku. Ia hanya memandangku dengan gemas penuh dengan sejuta keinginan. ” Sudahlah Er … jangan diteruskan … bagaimanapun juga kau milik mbak Marisa khan ..”, bisiknya sedikit memburu. ” Tapi Sher …..”, bisikku setengah kecewa. Ia tak menjawab hanya kedua jemari tangannya segera meraih celana dalamku dan ditariknya keatas menutupi alat vitalku yg masih ngaceng. Seakan masih bingung dgn pikiranku, Sherly dengan cepat telah memasangkan kembali celana jeansku dan mengancingkannya sekaligus. ” Aku menginginimu Sher ….”, bisikku bernafsu. Aku segera memeluknya hendak mencium bibir merahnya sekali lagi. ” Eryy .. sudahlah nanti ada yg lihat …”, katanya setengah memberontak. Namun jemari tanganku lebih cepat, dalam sekejab tanganku itu telah memasuki roknya dan menyelip liar ke dalam celana dalamnya.

Kurasakan rerimbunan lebat bulu jembutnya menggelitik telapak tanganku. Aaah ….bukit kemaluan Sherly yang montok dan berbulu lebat itu telah berada dalam genggaman telapak tanganku … aku meremasnya gemas karena kehangatan dan keempukan daging kemaluannya itu. ” Eryyy … lepaskan tanganmu …ja …jangan …”, pekik Sherly setengah gugup. Tiba-tiba …..Krrriieeeeetttt…….. Mbak Marisa telah berada didepan pintu kamar mandi. Kami berdua langsung mendelik kaget setengah mati. Apalagi mbak Marisa pula. ” Haaiiii ….apa yg kalian lakukan disini …. Eryy ….sedang apa kamu ..”, seru mbak Marisa kepada kami. Perlahan-lahan segera kutarik kembali tanganku dari sela-sela selangkangan kemaluan Sherly.
Ada rasa kecewa juga. Sherly segera merapikan pakaiannya yg awut-awutan. “M ..mm …mbak …. Maafkan kami mbak ….”, ujar Sherly begitu gugupnya. ” Keluaaar kamu Sherly …!”,pekik mbak Marisa setengah marah. Sherly kelihatan ketakutan sekali. Setengah tergopoh-gopoh ia segera menyingkir, namun dengan sigap kuraih pinggangnya lebih dulu. ” Eryy …lepaskan …”, bisik Sherly padaku setengah memohon. ” Sher …kamu jangan khawatir soal mbak Marisa….” ” Ery ….apa yg kamu lakukan ..”, gertak mbak Marisa makin marah. Aku menyuruh Sherly untuk segera pergi, lalu sejenak kemudian kuhampiri mbak Marisa yg masih setengah melotot kearahku. Secepat kilat kukecup bibirnya yg merah merekah. Cuppp ….cupp …

mbak Marisa memekik kaget. ” Eryy ……” ” Marisa bagaimana kalo dia membongkar rahasia kita ….”, ujarku sambil meninggalkannya pergi menemui kekasihku Silvi yg mungkin sudah lama menunggu. ” Erryyyy …aku belum selesai bicara …”, kata mbak Marisa sekali lagi kearahku. ” Apa sayang …” Wajahnya yg cantik memandangku gemas. ” Kamu khan yg memulai tadi …?”, katanya setengah marah. ” A .. aku memang terangsang tadi Marisa ….”, kataku terus terang ” Jangan berbuat gila Eryy …” Aku mendekatinya lagi. ” Marisa … kalo boleh … ehm …tapi kalo mbak melarangnya aku akan menjauhinya …”, ujarku pelan penuh arti sambil mengedipkan mata. Sekali lagi ia hanya memandangku gemas. Lama sekali …sampai akhirnya ia mengatakan ” Oke …oke .. Er … kalo itu juga maumu .. hehh .. kamu ini memang maniak … mm .. oke … tapi satu hal .. aku tidak ingin mendengar nanti ia sampai hamil olehmu ….”, katanya pelan seolah mengingatkan. Aku tersenyum puas mendengar jawabannya Sore itu dirumah Silvi yg kebetulan sedang ada arisan RT, membuat kesempatanku berkencan dengan Silvi jadi tertunda. Padahal aku sudah merencanakan untuk mencumbunya. Maklum semenjak jadian baru sekali saja aku menikmati kelembutan bibir manisnya.

” Ramai ya Mas ….aduuh harus ngebantu ibu nih mas …!”, katanya setengah kecewa juga. ” Ya udah deh Vi …. Nanti malem aja aku kesini lagi ….salam aja deh sama mama-mu ..”, bisikku kesal. ” Jangan marah dong mas … cuppp …”, kata Silvi gemas sembari mencium mesra pipi kananku. ” Eeeh … Silvi ntar ketahuan mama-mu berabe kita …” ” Biarin biar kita dinikahin aja sekalian …”, katanya manja. Sepeninggal situ, aku kembali balek ke tempat mbak Marisa untuk menemui Agus. Sengaja aku lewat pintu samping tempat kost agar kedatanganku tak terlihat mbak Marisa atau oleh yg lain. Di depan pintu kamar Agus kulihat ada 4 pasang sendal cewe yg sangat kukenal. Aku sedikit kaget karena disitu terdapat juga sandal Mona, cewe kost paling cantik yg menurut Agus belum pernah disentuhnya. Gilaa … entah kenapa aku jadi cemburu melihatnya. Ingin rasanya kudobrak saja pintu kamar si Agus ini. Sudah begitu gilanya kah si Agus sampe ia langsung menggilir 4 cewe sekaligus … dan kenapa harus Mona ikut serta. Kuberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar itu, aku benar-benar tidak rela kalo Mona sampe digarapnya. Kuhajar dia karena mestinya dia tahu kalo aku menyukai Mona. Tok …tok …tok … ” Masuk Gus …”, terdengar sahutan suara cewek dari dalam kamar.

Itu suara Yeni. Kletek …. Daun pintu dibuka dan kulihat wajah menawan Mona telah berada di depan pintu. Aku terhenyak kaget begitu juga dia. ” Eh … mas Ery … si ..silahkan masuk Mas …”, katanya sambil hendak berlalu keluar. ” Lhoh … kamu mau kemana Mona …?”, tanyaku heran setengah menyelidik melihatnya terlihat agak pucat. Jangan-jangan ia sudah digarap …. ” Nnngg …kepala saya pusing mas …”, katanya lagi sambil berlari masuk kamar. Setengah bingung kulongokkan wajahku kedalam kamar, kulihat si Agus tak berada disitu, pasti dia masih di kampus pikirku lega. Didalam hanya ada Farida, Nani dan Yeni yg kini terlihat sedikit kaget melihat kedatanganku. ” Eehh …mas Ery …. Masuk mas ..”, sahut mereka hampir berbarengan. Rada heran juga aku dengan keadaan pakaian mereka yg sedikit awut-awutan.
Mereka semua mengenakan kaos longgar dengan celana pendek ketat sehingga terlihat jelas betapa mulus dan seksinya paha dan kaki mereka. Ya … ampuun …pantes pikirku setelah kutahu mereka semua ternyata sedang menonton film porno lewat laserdisc milik Agus. Gila … karena sempat kulirik film yg mereka tonton sedang memperlihatkan seorang gadis bule muda belia sedang digarap bergantian oleh empat orang pria. 2 orang bule dan 2 orang negro. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja aku sudah duduk bergabung bersama Farida, Nani dan Yeni. Menurutku gadis di film itu masih sangat muda sekali, mungkin sekitar 14-17 tahun karena kulihat garis wajahnya yg masih imut-imut. Begitu pula dengan bentuk payudaranya yg masih kecil dan kencang dengan puting susunya yg berwarna kemerahan. Bodi tubuhnya pun masih terlihat mungil dengan bentuk pinggul dan kedua pahanya yg masih kecil. Kasihan juga gadis kecil itu yg menjadi bulan-bulanan keempat laki-laki kekar itu. Yang negro dengan alat vitalnya yang begitu besar dan panjang berwarna hitam legam tampak begitu buas dihunjamkan kedalam lubang vaginanya yg terlihat sempit sekali.

Daging vaginanya sampai tertarik keluar saking besarnya alat vital pria negro itu. Gadis itu menjerit histeris namun sembari menggeram nikmat cowo negro itu menghentak-hentakkan pinggulnya maju mundur membenamkan alat vitalnya yg segede terong itu sampai kandas kedalam lubang kemaluannya. Sementara ketiga pria lainnya tampak antri menunggu giliran sambil mengurut alat vitalnya masing-masing yang rata-rata sangat panjang dan besar. Mungkin sekitar 18-19 centian.

Aku melirik kesamping kiriku dan kulihat Yeni sedang asyik mengusap-usap selangkangannya sampai celana pendek yg dikenakannya jadi semakin tertarik keatas. Duh .. putih mulus sekali kedua belah pahanya itu. Mau tak mau batang penisku jadi ikutan ngaceng. Aku jadi semakin blingsatan karena kulihat Farida dan Nani juga melakukan hal yg sama. Astaga … mereka ini rupanya korban kebejatan si Agus. Mereka jadi maniak sex semua. Kualihkan perhatianku kembali ke layar TV 21 inchi didepanku. Kini kulihat pria negro itu dengan cepat mencabut alat vitalnya yg sebesar terong dari dalam lubang kemaluan gadis kecil itu lalu sedetik kemudian terjadilah banjir lokal yg luar biasa banyaknya. Air mani pria negro itu disembur-semburkan dengan nikmat menyirami alat kelamin gadis itu …. Sampai meresap disela-sela bibir kemaluannya yg mungil. Belum tuntas pria negro itu enjakulasi kembali dibenamkannya lagi alat vitalnya yg masih memuntahkan air mani itu ke dalam liang vaginanya lagi. Tampaknya ia ingin memuntahkan air mani kentalnya itu kedalam kemaluan gadis kecil itu. Gila … gadis kecil itu menjerit dan merintih kesakitan, sampai akhirnya kulihat negro itu tampak puas sekali. Begitu kontol raksasanya dicabut dari jepitan liang vaginanya, ketiga temannya yg sudah antri dibelakang langsung berebutan ingin ganti menyetubuhi gadis kecil itu …. Aku tak tahan lagi, segera kuberdiri hendak keluar dari kamar bejat itu. Namun sebuah jemari halus menarik lenganku. ” Mau kemana mas Ery … ?” Aku menoleh, ternyata Yeni yg menarikku tadi. ” Kepalaku pusing Yen … aku menunggu diluar saja ..” ” Disini saja mas … Yeni ada obatnya kok …”, katanya dengan pandangan sedikit aneh. ” O..obat apaa ..?”, tanyaku semula tak curiga.

Yeni menarikku ke dalam kembali lalu langsung menutup pintu. Aku mulai curiga melihat sikapnya. Benar saja begitu kulihat ia menutup pintu, tanpa ragu-ragu dan tanpa kuduga sama sekali. Yeni langsung menarik kaos ketatnya keatas sampai lepas sehingga kedua buah dadanya yang sama sekali tak mengenakan BH langsung mencuat keluar dengan indahnya. Woow …aku mendesah pelan terpesona dengan keindahan tubuh Yeni yg setengah telanjang. Kedua buah dadanya yang montok tidak terlalu besar dan terlihat kencang. Puting-puting nya berwarna coklat kemerahan. Wajah Yeni yang cantik membuat hatiku berdebar tak karuan. Lututku seakan goyah ketika dengan perlahan Yeni mulai menurunkan celana pendeknya dan aaahhh …. Tanpa dapat kucegah lagi alat vitalku mulai menegang didalam celanaku.

Masih dengan hanya mengenakan celana dalamnya yg berwarna merah muda, Yeni berjalan menghampiriku sambil tersenyum sedikit malu. Aku pikir dia pasti nekat berbuat seperti itu dihadapanku. ” M … mas …”, ujarnya pelan sedikit ragu melihatku masih bersikap pasif. ” Kau cantik sekali Yeni …” Ia tersenyum manis dan menunduk malu. Aku tak mampu menahan diri lebih lama lagi, kurengkuh tubuhnya dalam dekapanku dan seakan pasrah Yeni membiarkanku mulai menciumi dan mencumbu bibirnya yg basah. Kuremas gemas dua bulatan bokongnya yg padat dan mekal lalu kuplorotkan celana dalam yg dikenakannya sampai ke lutut. Aku seakan melupakan kehadiran Farida dan Nani yg masih berada disitu. Yeni menjerit kecil ketika celana dalamnya kubetot kebawah dengan kasar selanjutnya ia hanya merintih pelan ketika bokongnya yang telanjang kuremas dan kupuntir gemas. Cuupp …cuppp …aaahh….. ” Aahh ..massss …..”, erang Yeni lirih begitu pagutan mulutku pada bibirnya terlepas.

Dengan cepat aku segera membuka seluruh pakaianku sampai telanjang bulat hanya dalam tempo 10 detik. ” Aaaaahhhh …” Mereka bertiga menjerit kecil bersamaan ketika celana dalamku kuplorotkan kebawah sampai lepas, sehingga batang penisku yg telah ngaceng langsung meloncat keluar sambil manggut-manggut naik turun. Begitu ngacengnya sampai urat-urat disekujur batang penisku bertonjolan keluar mirip saluran pipa air. Kepala kontolku yg besar bak sawo manis tampak memerah dan keras sekali. Farida dan Nani yg semenjak tadi juga ikut menonton kami berdua sampai melongo menyaksikan alat kejantananku yg sangat ngaceng dan berjembut lebat. Bahkan Farida langsung muntah-muntah saking kagetnya melihat batang penisku yg tampak sangar. Hueeekk ….hueeekkkk …ia langsung lari keluar dan muntah di halaman.

Mungkin ia mules menyaksikan rerimbunan bulu jembutku yg mulai tumbuh subur dan awut-awutan karena sudah lama belum kucukur. Aku menghampiri Nani yg masih duduk kebengongan diatas karpet. Wajahnya yg manis sedikit takut-takut melihatku. Dengan gemas aku segera menariknya berdiri lalu belum sempat ia berkata apa-apa dengan cepat kuplorotkan celana pendek yg dikenakannya sekalian celana dalamnya sekalian. Sreeennggg … bau khas alat kemaluannya langsung menyengat hidungku. Mmmmm …. Baunya enak juga … Nani pintar sekali memelihara kebersihan alat kemaluannya. Kulihat alat kelaminnya itu seperti baru saja dicukur sehingga terlihat jelas bukit kemaluannya itu sampai nonong kedepan saking besarnya. Belahan bibir labia mayoranya yg tebal dan putih merangsang masih menutup rapat menyembunyikan celah liang vaginanya. ” M..mas .. E..ery .. jangan mas …..”, ujarnya ketakutan. ” Kenapa Nani … bukankah ini yg kau inginkan ….”, sahutku gemas sambil berusaha mencopot kaos ketat yg masih dikenakannya. ” Ja…jangan mas … “, katanya ketakutan dan mulai memberontak. ” Dia masih perawan mas Ery ….”, tiba-tiba Yeni menyahuti dari sebelahku. Kini ia telah telanjang bulat sama sekali.

Celana dalamnya telah dilepas sehingga aku dapat melihat rerimbunan rambut kemaluannya yg ternyata sangat lebat menutupi alat kemaluannya. Ck …ck ..ck ….gilaa … merangsang sekali. ” Be ..benarkah…?”,tanyaku setengah kaget. Tapi kata Agus ..??? pikirku rada bingung …. ” Benar mas … biarkan saja dia mas …”, sahut Yeni kemudian. Jemari tangannya menggamit lenganku diajak naik keatas ranjang. Setengah terisak Nani mulai memasangkan kembali celana dalamnya, aku jadi tak tega melihatnya. Seakan kerbau yg dicocok hidungnya, manut saja aku ketika Yeni yang sudah polos telanjang bulat itu mengajakku beradu keatas ranjang. Dihempaskannya tubuhnya yang montok putih mulus diatas kasur, kedua buah dadanya bulat mekal dengan kedua puting-puting susunya yg kemerahan bergoyang lembut. Tetapi seolah tersadar … tiba-tiba saja aku teringat akan Silvi, mbak Marisa ataupun Sherly, aku jadi bingung dan risih apa mesti harus kutambah lagi perbuatan gilaku. Apalagi apa nanti kata Agus kalo sampai ia tahu Yeni tidur bersamaku. ” Se …sebaiknya jangan Yen …”, bisikku padanya. Ia menatapku heran. ” Kenapa mass …?..” ” Tidak … tidak apa-apa Yen …”, bisikku sambil menahan nafsu.

Ingin rasanya diriku menyentuh tubuhnya lagi yg kini masih terlentang pasrah dan bugil. Mas Er kenapa …?…. tanyanya mengejar. ” Aaaaahhh ….”. Melihat kecantikan wajahnya dan kemolekan tubuh mulusnya aku jadi tak tahan. Bagaimana mungkin aku bisa menolak hasrat keinginan Yeni kalo aku sendiri juga sangat mengingininya. Kubuang jauh-jauh bayangan Silvi dan mbak Marisa, toh ini hanya sekedar permainan sex suka sama suka bukan cinta. 5 detik kemudian Yeni telah berada dalam tindihan dan dekapanku. Uuuhhh … lututku seakan gemetar menikmati kemolekan, kemulusan dan kehangatan tubuh Yeni. Alat vitalku yg ngaceng menekan nikmat bukit kemaluannya yg berjembut lebat. Empuk. ” M …mmass …. Kita lakukan cepat saja … ntar mas Agus keburu datang ….”, bisik Yeni sedikit malu karena kejadian yg tak dinyana ini. Aku tersenyum penuh nafsu. Mmmm … tanpa pemanasan dan langsung bersetubuh. Uhuuiii …. ” Masss Ery … pake ini yaa mass ….”, bisik Yeni kemudian sambil menyerahkan sebungkus kondom sutra. Entah kenapa aku jadi semakin tegang karena birahi mendengar permintaannya itu. Rupanya Yeni takut juga kalo sampai hamil. ” Nggak usahlah Yen … nanti dikeluarkan di luar saja …”, balasku bernafsu.

Yeni tak menjawab dan hanya menganggukpelan. Kuangkat pinggulku ke atas mulai mengambil posisi. Seolah mengerti kurasakan sebuah jemari halus menggenggam batang penisku yg ngaceng lalu diarahkannya moncong kepala penisku ke rerimbunan kemaluannya sebelah bawah. Aku merasa bibir labia mayoranya telah menjepit ujung kepala penisku. Yeni memandangku sambil mengedipkan mata pertanda aku sudah boleh menekan. Srrrtt ….. kutekan pinggulku kebawah … dan perlahan aku merasa sebuah daging hangat dan sempit mulai mencengkeram kepala penisku ketat sekali. ” Aaawwww … mass …..”, rintih Yeni seketika. ” Uhhhhh sakit Yen ….?”, tanyaku kuwatir.

Sejenak ia menggigit kedua bibirnya lalu sambil tersenyum manis ia berujar. ” ehhhh … nggak papa mas …. Jangan kuatir Yeni sudah nggak perawan lagi kok …. Teruskan saja ..nanti juga terbiasa ….”, bisiknya setengah terbata-bata. Aku semakin terangsang dan kembali menekan kebawah perlahan-lahan. Mili demi mili kurasakan batang penisku mulai memasuki liang vaginanya yg hangat. Rasa nikmatnya terasa sampai ke tulang sumsum. Kupikir liang vagina milik Yeni ini jauh lebih rapat dibanding milik mbak Marisa, mungkin karena usia Yeni yg masih muda sekitar 25 tahun. ” Ooouuhh …Yeniii …. Sempit sekali sih …..”, pekikku keenakan menikmati jepitan ketat liang vaginanya yg mulai terbuka menyambut kedatangan tamu istimewa. ” Nngghkkkkk ……nggghhhhh ……..”, rintih Yeni lirih antara rasa sakit dan nikmat ketika sudah hampir seluruh batang alat vitalku telah memasuki dan mengoyak liang vaginanya. Aku merasa begitu seretnya liang kemaluan milik Yeni ini. Rasa Hangat, empuk, kenyal, dan basah seolah menjadi satu. ” Mass Er …. Aahhhhh ….nggghkkk ……”, pekiknya lirih ketika alat vitalku menembus semakin dalam ke liang kemaluannya yg sempit. Ooouuuh….. begitu terasa nikmatnya cengkeraman ketat liang kewanitaannya sampai lututku seolah gemetar ikut merasakan kenikmatan. ” Yenii … aahhh …. Aku tekan lagi yaaa ….”, erangku nikmat sambil kuhentakkan pinggulku ke bawah …. Srrrtttt … slllepppssss …. Akhirnya kurasakan ujung penisku mentok sampai menyentuh dan menekan liang peranakannya. Nikmatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata. Seluruh batang penisku seakan diremas lembut, dikenyot-kenyot dan diurut-urut oleh daging hangatnya. ” Aaawwww … masssssss…….”, pekik Yeni lirih.

Kedua matanya dipejamkan dan bibirnya yg merah terkatup rapat seakan menahan perih, lalu sejenak kemudian matanya perlahan terbuka. Ia memandangku mesra. Bibirnya malah tersenyum manis padaku. ” Yen…. Enak sekali yaaa ….”, bisikku nakal. Ia hanya mencubitku gemas. Kedua tangannya memelukku mesra dan hangat. Kedua pahanya yg mulus sekarang ditekuk keatas dan diapitkan ke pinggangku kuat-kuat. ” Mas Er … Yeni nggak akan melepaskan mas Er … sebelum mas Er puas ….”, bisiknya manja. ” Oouuuhhh …Yenii .. kau cantik sekali sih …”, bisikku gemas. Ia tersenyum senang lalu bibir merahnya yg hangat dan lembut mulai mengecupku dan mengajak bercumbu. Aku membalasnya dengan tak kalah bernafsu. Sejenak kubiarkan alat vitalku yg sudah seluruhnya terbenam didalam liang vaginanya itu tak bergerak sedikitpun, memberi kesempatan agar liang vaginanya itu terbiasa dengan kebesaran alat vitalku. Cukup lama juga kami bercumbu sampai akhirnya dengan bisikan nafsunya Yeni berbisik…. ” Maasss ….. mulai dong …”, katanya manja. Aku benar-benar terangsang mendengar permintaan nakalnya itu. ” Ooouhhh ..Yen …kuhamili kau sayang …”, bisikku gemas sambil kumulai mengayuh pinggulku turun naik mengeluar masukkan alat vitalku dari liang vaginanya. ” Iiiihhhh ….. aaawww … mass ….nngghhh…”, pekik Yeni keenakan merasakan gesekan batang penisku yang mulai menghunjam keluar masuk liang kemaluannya. ” kuhamili kau Yen ….aaahhhh ….kuhamili kau Yen …..aaahhhhh …..ngghhha aaaghhhh …. Kuhamili kau Yen …..”, erangku nikmat berulang-ulang. ” mmm …mass …ngggghhhh …nnggghh …..”

Sempat kudengar pintu kamar ditutup … aku melirik sekilas kesamping kiri …. Kulihat Nani sudah tak berada lagi disitu, mungkin ia risih melihat kami berdua berhubungan intim didepan matanya. Aku tak peduli dan kembali mencumbu bibir Yeni dengan mesra sambil terus kukayuh biduk kenikmatanku berulang-ulang. Turun ..naik..turun …naik …. Makin lama makin cepat membuat rasa nikmat senggama itu semakin terasa dan memuncak. Begitu hebatnya liang vagina Yeni yg rapat dan hangat itu mengenyot, menyedot dan mengurut-urut batang alat vitalku membuat jiwaku seakan melayang-layang ke pusaran kenikmatan sorga dunia. Pinggulku yg tadi mengayuh lembut turun naik kini menghentak-hentak kuat sampai setiap kali aku menghentak ke bawah membenamkan alat vitalku kedalam liang vaginanya, buah zakarku yg menghantam pantatnya sampai menimbulkan bunyi keras ..plekk …plekkk …plekk .. Tak kupedulikan lagi rintihan dan erangan Yeni, entah kesakitan atau keenakan … yg jelas aku sendiri merasakan kenikmatan yg sangat luar biasa. Dan tak lama lagi pasti cairan kenikmatan itu akan kutumpahkan keluar. ” Mmm …cup ..cup …ahhh …Yen ..ngghhh … enak sekali sayanggghhhh …oouhhh ….”, erangku keenakan. ” M..mas ….awwaaww ….ngghhhhh ….. aauuuuuuwwwwwgghghghhhghghh ……” Tiba-tiba ia mengerang keras …keras sekali sambil kurasakan pelukan kedua tangannya makin kuat…. Kedua pahanya pun menjepit makin kuat ….pinggulnya bergoyang-goyang lembut dan gemetaran. Kuku kedua jemari tangannya seakan menembus kulit punggungku dan terakhir kurasakan vaginanya merapat dan menjepit alat vitalku kuat-kuat.

Aku serasa dipilin-pilin. ” Nnnggghhhh …Yennn …….aahhhh …enaaakk .. Yennnnnnngghhhhhhhh……” Sejenak kemudian aku merasa cairan hangat melumuri alat vitalku yg sedang berada didalam kemaluannya. ” Maaaaaaasssssssssssss ……………..aagghhhghnnng ggghnnnngnggg ……”, Yeni merintih keras. Tubuhnya mengejan beberapa saat sebelum akhirnya lemas kembali. Kedua pahanya yg tadi mengapit pinggangku kini malah terkulai lemas. ” Yenniii …kau orgasme sayang ….”, bisikku senang. Aku jadi geram sendiri dan gemas melihatnya. Kuselipkan kedua telapak tanganku ke balik bokongnya yg bulat dan kenyal. Lalu kuhunjamkan turun naik pinggulku beberapa kali sebelum akhirnya kuhentakkan sekuatnya pinggulku ke bawah sampai seluruh alat vitalku benar-benar tenggelam semuanya kedalam liang kemaluan Yeni. Aku merasa mentok lalu sambil kugoyang-goyangkan pinggulku memutar menikmati jepitan dan urutan liang vaginanya, 5 detik kemudian mulai kusemburkan air maniku yg kental didalam situ. Crreeet ………ccreeeetttttt ………..crraaaaattttttttttt t ….. Wuuuiiihhhhh …. Rasanya nikmat luar biasa. Aku mengerang-ngerang nikmat melepas ejakulasi. Rohku seakan terbang keatas sorga.

Kuresapi setiap mili jepitan daging liang kemaluan Yeni sambil kusemburkan nikmat air maniku di dalam situ. ” Oouuuhh …. Mass …kok di dalem mass ….”, rintih Yeni masih lemas. ” Ennghhhhggkkkkk …y..y..ya ..sa.yang …. biar ka..kamu hamil …”, erangku gemas di antara rasa nikmat ejakulasiku. Aku merasa ia sama sekali tidak protes atas tindakanku, mungkin ia senang melihatku bisa menikmati tubuhnya seutuhnya. Jemari kedua tangannya yg halus memijit dan mengusap-usap mesra pantatku yg sedang gemetar melepas kenikmatan sex. Crreeeett…….. crrattttt ……… crrreeettttttttt …………….. ” Oouuhh Yen …. enaaaknya sayaaaang ……..nnggghhghghkkkkkk….. “, erangku masih keenakan. Sebelum akhirnya kurasakan air maniku semakin habis dan terkuras keluar seluruhnya ke dalam liang vaginanya.

” Oouuuhhhh …. Masssss …….”, rintih Yeni senang melihatku sangat terpuaskan. Aku terkulai lemas di atas tubuh bugilnya yg berkeringat. Begitu nikmat terhempas di antara keempukan payudaranya yg kenyal. Puting-puting susunya yg terasa keras menusuk tajam dadaku. Kubiarkan alat vitalku yang baru saja menikmati enjakulasi itu tetap berada didalam liang vaginanya. Meresapi kehangatan dan kelembutannya serta sisa-sisa kenikmatan sex. ” Yen. …aaahhhhhhh …. Aku puas sekali sayangghhhh …”, bisikku lemas. ” Ya …masss … Yeni juga ….cup ….cup….”, ujarnya lirih sambil mengecup dahiku mesra. 10 menit kemudian kami lalu berbenah dan merapikan kamar Agus sebelum akhirnya aku juga pamit padanya untuk pulang. Kami berdua bahkan berjanji untuk melakukan perbuatan itu lagi setiap saat. Sampai sekarang walaupun aku dan Yeni sudah berulang kali berhubungan badan rahasia ini tetap terjaga tanpa sepengetahuan Agus. Karena biasanya hubungan sex itu lebih sering terjadi di tempat kostku atau kalo tidak kami terpaksa mencari tampat2 sepi di alam terbuka seperti di Coban Rondo atau Lembah Dieng untuk sekedar dapat menikmati sorga dunia sesaat.
Untuk mencegah kehamilan aku selalu membawa tissue anti hamil (Female contraceptive film) untuk kuberikan pada Yeni sebelum kami melakukan senggama. Dengan Yeni aku mendapatkan segala keinginanku akan fantasi sex yg selama aku bersama mbak Marisa tak pernah kudapatkan. Bersama Yeni aku mendapatkan pengalaman pertama bersenggama lewat anus (sodomi). Aku masih ingat saat itu hari Sabtu atau malam minggu, kebetulan Silvi sedang ada acara bersama keluarga ke Singosari, jadi hari itu aku cuti kencan. Sebelumnya aku sudah mengontak Yeni untuk acara sambung raga. Sore hari kami berdua berangkat ke kota Batu dan menyewa sebuah Villa kecil untuk menginap. Sepanjang perjalanan kami berdua ngomong ngelantur karena membayangkan segala kenikmatan-kenikmatan sex yg akan kami lakukan nanti. ” Pasti enak ya mas … kita bersenggama di udara dingin …”, katanya padaku dengan tatapan penuh birahi. Sampai di Villa yg kusewa, kami berdua langsung saling membuka pakaian sampai bugil.

Yeni dengan gayanya yg aduhai dan merangsang berjalan melenggang dan langsung tidur tengkurap diatas sofa. Bokongnya yang bulat mekal dan putih begitu mulus mempesona. Belahan putih vertikal bibir kemaluannya yg tebal terlihat saling mengatup rapat dari belakang menyembunyikan liang vagina merahnya. Yeni memang tahu kegemaranku menyetubuhinya dari sebelah belakang, karena ia tahu aku sangat terangsang sekali dengan bagian tubuh belakangnya yang seksi terutama pinggul dan bokongnya yang bulat mekal. Dan biasanya memang alat vitalku dalam posisi seperti itu tak sanggup dijepit terlalu lama dalam liang vaginanya karena Yeni selalu mengapitkan kedua belah pahanya rapat-rapat sehingga jepitan liang vaginanya sangat ketat sekali. Paling lama cuman 15 menit air maniku sudah tumpah keluar, itu juga kalo Yeni sambil mengajakku mengobrol. Memang setiap kali kami berdua berhubungan badan kami selalu menyelingi dengan obrolan-obrolan kecil dan lucu agar kenikmatan bersenggama itu dapat berlangsung lebih lama. { Oh yaa … semenjak setelah intercourse pertama, Yeni telah mencukur rambut alat vitalku dengan shavernya sampai gundul dan licin, begitu pula dengan rambut kemaluannya sendiri, katanya ia risih kalo harus bersenggama dengan rambut2 yang mengganggu kenikmatannya. Mbak Marisa sendiri juga lebih bergairah dengan keadaanku sekarang, birahinya langsung naik dan menggebu bila melihat alat vitalku yang tampak bersih dan licin}

Melihat Yeni sudah mengambil posisi siap untuk kusetubuhi, tanpa dikomando alat vitalku langsung tegang dan ngaceng keras sekali. Dengan gemas aku menyusulnya dan menindih tubuh mulusnya yg tengkurap dan dengan cepat kuselipkan penisku yg ngaceng diantara kedua belah pahanya sebelah atas persis sekitar 2 centi dibawah lubang anus dan kutekan perlahan-lahan sampai seluruh batang penisku memasuki liang vaginanya yg rapat. Aku mulai menaik turunkan pinggulku menggesekkan alat vitalku dengan liang vaginanya. Kami berdua mengerang-erang nikmat berulangkali sampai sekitar 10 menitan aku merasa tak mampu lagi menahan rasa nikmat jepitan liang vaginanya lalu kusemburkan air maniku dengan sejuta rasa nikmat yg tiada tara kedalam rahimnya. Waktu itu Yeni sempat lupa memasukkan tissue anti hamilnya kedalam liang kemaluannya.

Sewaktu aku selesai enjakulasi ia terpekik kaget dan mendorong tubuhku kesamping, alat vitalku yg sudah loyo tercabut dari dalam kemaluannya. Ia ngibrit ke kamar mandi katanya mau kencing dulu sekalian ngeluarin spermaku yg sudah terlanjur bersemayam dalam kemaluannya. Aku hanya terkekeh geli melihat tingkahnya. Gimana caranya ia bisa memuntahkan seluruh spermaku yg sangat banyak dan kental itu. 2 jam kemudian sewaktu kami berada didalam kamar tidur sambil menonton TV, aku nekat mengajak Yeni untuk mencoba berhubungan badan lewat lubang anusnya.
Semula ia kaget karena tak terpikir sama sekali baginya untuk mencoba melakukan anal sex seperti itu. Namun karena melihatku begitu kepingin sekali, Yeni akhirnya tersenyum dan mengiyakan permintaanku. Waahh … senengnya hatiku. Alat vitalku langsung ereksi membayangkan nikmatnya memasuki dan menggesek lubang anusnya. Aku langsung mengambil minyak ‘baby oil’ yg sudah kupersiapkan sejak dari rumah. ” Iiiihh ..mas Ery …mmm … rupanya udah siap-siap yaa …”, katanya terheran-heran. Aku hanya tersenyum-senyum sendiri menahan nafsu birahi. Kulumuri batang penisku yg ngaceng dengan baby oil itu sampai rata dan terasa licin. Kulihat Yeni sempat bergidik juga membayangkan alat vitalku yg besar dan panjang itu bakal memasuki lubang duburnya. ” M …m..mass Er … ka..kalo Yeni terasa sa..sakit …jangan dipaksa yaa ..?”, katanya sedikit gugup.

Aku tersenyum senang melihat ketakutannya, entah kenapa sikapnya itu membuat birahiku semakin bergelora. Kuraih tubuh bugilnya yg bahenol itu kedalam pelukanku, kucumbu nikmat bibir merahnya yg basah merekah sambil kuremas-remas gemas kedua buah dadanya yg kenyal secara bergantian beberapa saat.” Mmmm …cup… jangan kuatir sayang …aku tak akan sekasar itu …” Yeni tersenyum manis sambil membalas kulumanku. ” Mass … nanti kalo spermanya mau keluar …nggg …itunya dicabut yaa ..”, ujarnya genit. ” Ouuh …Yen ..ngg ….kau cantik sekali …”, bisikku penuh nafsu. Aku menyuruhnya untuk menelungkup diatas kasur dan dibawah perutnya kuselipkan sebuah bantal sehingga pantatnya yg bulat mekal dan seksi itu agak terangkat keatas.

Kedua pahanya sedikit agak kurenggangkan agar posisiku lebih mudah saat menyodominya. Yeni kelihatan sangat pasrah sekali dengan apa yg akan aku lakukan, meski ini adalah pengalaman pertama anal sexnya. Setengah berdiri aku mengangkang diatas kedua paha mulusnya lalu kuturunkan pinggulku kebawah. Kulihat belahan vertikal bibir kemaluannya yg menutup rapat sangat merangsang sekali menyembunyikan liang vagina merahnya yg basah. Mau tak mau aku jadi terangsang juga kepingin menjepitkan alat vitalku kedalam liang vaginanya. Dan memang kulakukan, dengan gemas kuselipkan kepala penisku diantara belahan bibir kemaluannya dan kutekan alat vitalku perlahan-lahan sampai seluruhnya masuk kedalam liang vagina. Uuuuhhhh ….nikmat sekali merasakan jepitan hangat dan basah kemaluannya itu. Yeni tertawa kecil melihat ulahku. Mukanya yg tadi disembunyikan diatas sprei setengah menoleh kearahku sambil tersenyum geli. ” Aduuuhh ….nggak tahan ya masss …. Kok dimasukin kesitu lagi …hi..hi..” ” Eehhhh … habis itumu merangsang sekali sih Yen …. Aku khan jadi kepingin ngerasain jepitannya lagi …”

Ia tertawa makin nyaring, namun sejenak kemudian ia memekik kecil saat jemari kedua tanganku menyibakkan belahan pantatnya sehingga aku dapat melihat lubang duburnya yg berkerut dan berwarna coklat susu itu. Wooww …. Benar-benar sangat menggemaskani. Kelihatan begitu mungil dan rapat sekali, seolah-olah ujung jaripun nggak bakalan bisa masuk. Aku jadi penasaran. Dengan telunjuk jemari kananku kucoba kuselipkan kedalam lubang anusnya ….rasanya rapat sekali namun empuk dan kenyal …. Perlahan-lahan jari telunjukku mulai terbenam kedalam lubang duburnya sampai ke pangkal …. Waahh ..rasanya sangat hangat dan lembek didalam situ. ” Aaaahh …mm..mas Er …geliii …ahhh …..nggghhh…”, rintih Yeni pelan. Wajahnya kembali disembunyikan diatas sprei.
Kuputar-putar jari telunjukku didalam situ secara perlahan-lahan. Yeni semakin kegelian. Sambil kuputar telunjukku kutarik keluar masuk seperti sedang senggama. Waahh … ternyata tidak terlalu susah juga meski terasa sangat sempit karena ternyata lubang duburnya bisa sedikit melar dan elastis. Sampai disitu aku baru mengerti kenapa di film-film porno begitu enaknya bintang pria menyodomi yg cewe karena memang sangat elastis. Kucabut jari telunjukku dari lubang duburnya dengan perlahan dan kulihat ternyata liang duburnya yg ternyata juga berwarna sangat merah itu tidak langsung mengatup rapat namun menutup dengan perlahan-lahan pula. Yeni merintih kecil kegelian. Kugoyangkan pinggulku maju mundur. Beberapa saat kunikmati jepitan dan gesekan lembut liang vagina Yeni yang hangat dan basah. ” Oouuuuh…mass ..Er….nggghhh ….nnnnggghhh …..”, rintih Yeni keenakan. 2 menit kemudian kucabut alat vitalku dari dalam lubang kemaluannya lalu ganti kuarahkan ujung kepala penisku kesebelah atas persis dimulut lubang anusnya.

Sambil kusibakkan belahan pantatnya dengan tangan kiri aku mulai menekankan ujung kepala penisku yg besar ke mulut lubang duburnya. Uugghh … semula aku merasa seperti memasuki jalan buntu, namun 5 detik kemudian setelah berulangkali kutekan akhirnya secara perlahan-lahan lubang anusnya itu mulai melar sehingga kepala penisku dengan cepat masuk kedalam. ” Aaawww ……”, Yeni memekik kecil. Sebaliknya aku malah meram melek merasakan jepitan lubang duburnya pada kepala penisku yg besar. ” Aaahhhnngghhh … sakit Yen ..?”, bisikku keenakan. Kepala penisku telah tenggelam kedalam lubang duburnya, rasanya sedikit kesat dan ketat luarbiasa.
” Oooohhhh …. It’s so tight baby ….eehhhhh …..”, bisikku nikmat. Aku menekan terus perlahan-lahan alat vitalku menembus ke dalam liang duburnya … mili demi mili … sampai akhirnya separuh dari batang penisku berhasil masuk. Wuuuiiihh .. ketatnya luarbiasa sekali. Lubang duburnya terasa berdenyut-denyut keras seakan meremas-remas batang penisku yg besar…. Terasa sangat hangat dan lembek didalam situ. Kulihat tubuh Yeni bergetar pelan seolah menahan sakit. ” Aaahhh …Yen …sakitkah sayang ..?”, tanyaku cemas. ” Mmm …ngggghhhh …ssedikit mass …teruskan saja mass …”, rintihnya lirih menambah gairahku. Hheeekkkgghh …. Aku menekan batang penisku kembali kedalam lubang duburnya ..dan srrtt … perlahan-lahan alat vitalku terus menelusup kedalam …kedalam …kedalam dan aahhhhgghhhh ….aku merasa ternyata semakin kedalam semakin rapat dan lembek. Kepala penisku seakan diremat-remat hebat didalam anusnya. ” Aaagghhh ..Yen …nngghhhh ….”, erangku keenakan. ” Auuwwww …mass …udah mass …jangan terlalu dalam …. Ngganjel nih …auuww … “, pekik Yeni pelan. ” Nnngghhhh …tinggal sedikit lagi Yen ….aaahhhgghh …”, erangku nikmat melihat batang penisku hanya tinggal sekitar 4 centi saja yg masih berada diluar. Aku berusaha menekan lagi namun kulihat tiba-tiba tubuh Yeni meregang kecil seolah kesakitan. ” Sakit sayang …?”,bisikku setengah kaget. Yeni tak menjawab namun kudengar mulutnya merintih-rintih pelan. Kasihan juga aku melihatnya. Tak kupaksakan untuk menekan lebih jauh lagi, karena dengan jepitan lubang anusnya yg sedalam ini saja sudah membuat batang penisku seperti diremat kuat sekali … apalagi aku merasakan liang anusnya itu juga berdenyut-denyut seperti mengurut-urut memberiku kenikmatan luar biasa pada alat vitalku.

Tak pernah kusangka sama sekali begitu nikmatnya bersenggama lewat jalan belakang. ” M..mmassss …… “, rintih Yeni tanpa arti … entah kesakitan atau mungkin dia juga merasakan nikmat tersendiri. ” Sakitkah sayang …?”, tanyaku sekali lagi sambil menahan rasa nikmat. ” Nnnnggghhhh …. Ng…nggak juga mass …… hanya sedikit ngganjel …”, ujarnya pelan. Aku tersenyum lega. Kutarik perlahan batang penisku dari dalam lubang anusnya …uuughghhh aku merasa seret dan kesat meski baby oil yg kulumurkan sudah cukup banyak. Lubang anusnya itu seakan mencengkeram dan membetot seolah menahan laju gesekan keluar alat vitalku. Aku mengerang nikmat, kulihat batang penisku yg tertarik keluar seolah tergencet sampai mengecil saking kuatnya rematan liang duburnya. ” Nnnnnngggghh …………” . Ketika sudah sampai leher (aku memang sengaja masih menjepitkan kepala penisku agar tetap berada didalam liang duburnya) segera kutekan lagi secara perlahan batang alat vitalku kedalam lubang anusnya sampai kurasakan pinggul Yeni bergetar lagi pertanda agar aku menyetop sodokanku. Mmmmm … nikmatnya tak terbayang.

Akhirnya aku mengambil posisi setengah menindih tubuh bugil Yeni yg menelungkup karena aku tak mungkin merapatkan tubuhku kepadanya, karena bila itu kulakukan berarti aku harus menekan sampai mentok seluruh batang penisku kedalam lubang duburnya. Itu berarti menyakiti Yeni … aku nggak bakalan tega melakukannya. Setengah memeluknya kuciumi kulit punggungnya yg halus dengan lembut sementara pinggulku kugerakkan turun naik dengan sangat perlahan sekali …. Naik turun..naik turun ..mengeluar masukkan batang alat vitalku kedalam anusnya. Kuresapi setiap gesekan dan rematan daging tubuhnya yg hangat dan lembek itu. Denyutannya yg lembut memberikanku rasa nikmat tak terkira. ” Mm …mass ….ngggghhhh …aawww ….nngghhhh …….”, rintih Yeni perlahan. Kuremasi kedua buah payudaranya yg kenyal secara perlahan dengan gerakan memutar menambah rintihannya semakin menggila. ” Yeniii ….ooohhh ….yeniii …..”, erangku keenakan. Brrruttt ….. bbrrruuttttt ………………………… ….bbrrrruuuurtttt ……. Beberapa kali terdengar bunyi yg cukup keras dari pantat Yeni, setiap kali batang alat vitalku yang ngaceng keras dan berlendir itu kubenamkan kedalam lubang duburnya.

Persis seperti suara kentut. Aku mengira mungkin karena udara didalam lubang duburnya yg tertekan saat penisku masuk itu terdorong keluar. Wuuiiihhhh ….. suaranya membuatku jadi makin terangsang dan bergairah. Saat itu aku merasa begitu perkasa, meski rasa nikmat pada alat vitalku sangat berlebihan namun aku mampu melakukan persetubuhan dengan timing yg cukup lama …mungkin sekitar setengah jam-an bahkan lebih. Ini adalah pengalaman pertama anal kami dan tak kan pernah terlupakan. Ketika sampai akhirnya kenikmatan itu hampir mencapai puncaknya, dan sengaja aku tak memberitahukannya kepada Yeni .. setelah kutimbang dan kupikirkan sekilas dan berharap tak berakibat efek apapun … kuputuskan untuk menumpahkan saja sekalian air maniku didalam lubang duburnya.

Kutekan sedalamnya batang alat vitalku didalam situ lalu sambil pinggulku kuputar perlahan air maniku menyembur keluar dengan diiringi sejuta kenikmatan yg tak terkira. Tubuhku menggeletar dan meregang mencapai puncak enjakuasi. Crrreetttt ……….ccreeettttttt ……crreeetttttt ………..crrrrrrrreeeeeeettt tt. ……….. Semburan demi semburan kutumpahkan dengan nikmat didalam lubang duburnya. Yeni memekik kaget dan merintih pelan. Tubuhnya tetap diam tak bergerak hanya sekali-kali bergetar pelan. Ia seolah benar2 pasrah dan mengijinkanku melakukan semua itu. Lengkap sudah kenikmatan itu. Anganku seakan melayang tinggi terhempas dalam pusaran kenikmatan. Air maniku masih mengalir sebanyak kurang lebih 4 semburan lagi sampai akhirnya kurasakan puncak kenikmatan yg sempurna itu berakhir. Selama beberapa menit masih kubiarkan alat vitalku terbenam didalam lubang dubur Yeni menikmati sensasi terakhir jepitan rapat dan hangat miliknya. Aku merasa sperma yg kukeluarkan saat itu lumayan banyak karena kenikmatan yg kualami sangat luarbiasa.

Tak bisa kubayangkan didalam saluran anusnya itu tergenang cairan mani. Wuuuiiihh …. 5 menit kemudian aku menggeletak lemas disamping kiri Yeni. Meski dengan ekspresi letih sedikit pucat ia mencumbu bibirku dengan sangat mesra sekali seolah ia ikut merasakan kenikmatan yg sedang kualami. Aku tahu ia belum orgasme sampai saat itu, sedangkan alat vitalku rasanya belum mampu untuk berdiri lagi. Malam itu kupuaskan dirinya dengan sapuan kenikmatan bibir dan mulutku pada alat kemaluannya. Selama kurang lebih tiga perempat jam aku melakukan cumbuan pada belahan bibir kewanitaannya …. Kucium ….kuhisap …kujilat …sampai akhirnya clitorisnya yg sensitif itu ganti kuremat dan kukenyot-kenyot tanpa pernah kulepaskan barang sedetikpun … akibatnya sampai Yeni orgasme berulang-ulang kali. Mulutku sampai terasa licin dan berlendir kecipratan cairan orgasmenya yg keruh kekuningan itu.
Setelah ia benar-benar sangat puas dan letih baru kuhentikan cumbuanku pada alat kemaluannya dan kami berdua tertidur nyenyak kelelahan sampai pagi. Pagi harinya ketika aku bangun mendahuluinya iseng sengaja kulihat bagian belakang tubuhnya yg tadi malam kusetubuhi. Kulihat lubang duburnya yg berwarna coklat susu itu menutup rapat sekali namun dari sela-selanya terlihat keluar leleran lendir berwarna putih kental banyak sekali sampai mengalir keatas pantatnya dan jatuh kebawah membasahi kain sprei tempat tidur. Agak sedikit mengering.

Rupanya tanpa Yeni sadari air maniku yg kutumpahkan didalam lubang duburnya semalam terdesak keluar lagi. Aku lega sekali melihatnya, bagaimanapun aku khawatir kalo sampai membawa efek jelek bagi tubuh Yeni. Minggu siang sebelum kami kembali ke Malang dengan manja Yeni memintaku untuk menyetubuhinya sekali lagi hanya kali ini penetrasi itu kulakukan melalui liang vaginanya. Saat itu kami bersetubuh cukup lama sekali… mungkin hampir 1,5 jam-an karena kami melakukannya dengan diselingi obrolan-obrolan kecil dari soal sex sampai masalah politik. Lucu juga ….tapi asyik dan nikmat bisa berlama-lama menyatukan alat kelamin. Sampai detik ini, itu adalah pengalaman anal sex pertama dan terakhirku karena semenjak peristiwa itu Yeni tak pernah mau lagi diajak sodomi karena menurut sepengetahuan yg pernah dibacanya anal sex seperti itu sangat tidak sehat dan bisa membawa penyakit.

Willy nilly aku membenarkan juga omongannya dan sampai sekarang ini bila kami ingin berhubungan badan saya melakukan penetrasi hanya melalui vaginanya saja. Dengan mbak Marisa sendiri rutinitas sex-ku juga tetap tak berkurang sama sekali sebanyak seminggu 2-3 kali, begitu pula dengan Yeni. Ia sama sekali tak mengetahui perselingkuhanku dengan Yeni, mbak Marisa malah mengira aku sudah berhubungan dengan Sherly padahal hingga saat ini malah aku belum berhasil mengajaknya tidur bersama, karena katanya ia sangat menghormati mbak Marisa yg dianggapnya seperti kakaknya sendiri. Dengan Silvi sampai saat ini sama sekali belum pernah aku mengajaknya sampai begituan, hanya sekali dua kali saja kami bercumbu bibir atau necking sambil meremasi payudaranya yg bulat kenyal. But intercourse .. Not yet!.

image hosted by ImageVenue.com

Hasrat & Nafsu Part 1

30
Filed under Setengah baya

Ini adalah pengalaman unik saya sendiri yang kejadiannya masih berlangsung sampai sekarang ini. Ini benar-benar terjadi. Sebelumnya perkenalkan nama ( panggilan ) saya Ery, asal kota Surabaya dan sekarang masih berstatus mahasiswa sebuah PT di kota Malang. Umur saya masih 23 tahun dan saat ini sebenarnya saya baru saja lulus kuliah ( tinggal menunggu wisuda ). Sebenarnya awal kejadian nya baru berlangsung sejak 1 bulan yang lalu dan masih berlangsung hingga sekarang, tepatnya dimulai sekitar akhir bulan September 1998 kemaren. Keunikan pengalaman sex saya ini karena saya melakukannya dengan ibu kost teman kuliah sekaligus sahabat saya sendiri yaitu Agus ( panggilan ).

Ibu kost sahabat saya ini sebenarnya bisa dikatakan masih muda juga, sekitar usia 34 tahun. Namanya mbak Marissa. Sudah bersuami namun seperti yang saya lihat sendiri, rumah tangga mereka tidak pernah akur. Mbak Marissa sendiri tidak pernah mengatakan ada apa sebenarnya yang menyebabkan ia tidak pernah akur dengan sang suami. Namun dari selentingan yang pernah dan sering Agus dengar ketika mereka bertengkar, intinya adalah karena keinginan mbak Marissa untuk memiliki anak, sedangkan sang suami walaupun sebenarnya bukan mandul ( menurut gosip pegawai salon milik mbak Marissa ) bibit spermanya lemah. Pak Herman ( suaminya ) katanya sudah berusaha berobat kesana kemari tetapi belum ada perkembangan yang meyakinkan. Mungkin karena keinginan yg begitu besar dari mbak Marissa inilah yang menyebabkan Pak Herman sampai kehilangan gairah sex nya lagi. Dan ini menurut Agus sudah terjadi semenjak pertama kali dia kost di tempat itu, atau semenjak 2 tahun yang lalu, karena sebelumnya memang Agus kost di kawasan kampus STIE MK. Saya sendiri baru sekitar 1 tahun yang lalu kerap ke tempat Agus yang sekarang ( di kawasan perumahan Purwantoro Agung ), dan saya sendiri kost dikawasan Blimbing.

Dengan mbak Marissa sendiri sebenarnya saya juga barusan akrab sekitar 2 bulan yang lalu. Itu juga gara-garanya karena wajahnya yang benar2 sangat mirip dengan Esmeralda yang selalu diputar SCTV saban hari. Saya sering menggodanya dengan sebutan mbak Esmeralda Indonesia. Mbak Marissa ini asli orang Manado sehingga nggak heran wajahnya begitu cantik dan putih rada-rada indo seperti orang Manado kebanyakan. Sedang suaminya Pak Herman bekerja sebagai kapten kapal sebuah perusahaan pelayaran swasta. Sehingga dapat dibilang selama setahun hanya beberapa kali saja Pak Herman pulang ke rumah, selebihnya tentu banyak berlayar keluar negeri. Rumah mbak Marissa ini bisa dikatakan lumayan besar dan mewah. Maklumlah pekerjaan sang Suami pasti sangat mendukung sekali dalam soal materi. Selain dibuat tempat kost, mbak Marissa juga membuka usaha Salon yang cukup maju. Sehingga bisa dibilang tempat kost si Agus ini tak pernah sepi, selain Agus masih ada 5 orang lagi yang kost di situ, kesemuanya kebetulan cewek single yang sudah bekerja semua.

Si Agus memang benar2 mujur diterima disitu karena kebetulan mbak Marissa memang ingin setidaknya ada penghuni cowok yang bisa menjaga dan mengawasi rumahnya. Maklum selama Pak Herman berlayar isi rumah itu memang cewek semua. Dan mbak Marissa bukanlah orang yang begitu peduli dengan aturan budaya ketimuran. Semua tamu cowok dan cewek boleh bebas masuk bertamu ( kebanyakan masuk kedalam kamar kost ) asal jangan sampai diatas jam 11 malam. Perlu saya jelaskan sebelumnya tempat tinggal Mbak Marissa ini bentuknya seperti huruf U dilihat dari depan, antara tempat kost dengan rumah induk berdiri sendiri-sendiri hanya terpisahkan dengan taman dan kolam ikan yang cukup lebar, sedang ruang untuk salon kecantikannya jadi satu dengan rumah induk.

Jadi tidak heran, saking bebasnya bisa dikatakan hampir saban hari tamu2 pria atau wanita entah pacar atau teman ketiga cewek tsb termasuk juga Agus leluasa bebas keluar masuk bahkan tidak jarang ada yang sampai nginap segala. Seringkali ketika mampir ke sini, sewaktu saya berjalan menuju kamar si Agus yang berada diujung belakang sendiri, di salah satu kamar cewek penghuni kost itu sering terdengar suara lenguhan atau rintihan pelan orang yang sedang asyik masyuk bersenggama ria. Kalau sudah begitu saya tinggal mencari ada nggak sendal si Agus diantara salah satu pintu depan kamar cewe2 tersebut. Kalau tidak ada berarti bukan si Agus yg sedang ngerjain cewek2 itu. Memang si Agus sekali lagi benar2 mujur. Dari kelima cewek tersebut 3 diantaranya bisa diajak ngentot ( just for fun tentunya ), meskipun sebenarnya mereka bukan pelacur. Edannya mereka semua juga cantik2 sekali dan berasal dari luar daerah. Tetapi dibanding mbak Marissa kecantikan mereka masih kalah, selain lebih putih mbak Marissa kelihatan jauh lebih menarik dan anggun.

Di tempat tersebut Agus sudah dikenal sebagai Ayam Jago alias tukang nidurin cewek. Sahabatku ini memang bejat dan maniak sex, 3 dari 5 cewek penghuni kamar kost tempat mbak Marissa itu sudah digarap semuanya. Salah satunya, Si Nani menurut Agus masih perawan ketika ia pertama kali menggagahinya. Aku tak bisa membayangkan sudah berapa kali temanku Agus ini menggilir Farida, Nani dan Yeni selama 2 tahun ini. Edannya …. Gratis lagi. !!!! Andai saja mau, bisa saja aku ikut mencicipi kemulusan dan kemolekan tubuh mereka dan mereguk kenikmatan sex bersama mereka, tapi saya bener-bener ogah dapet bekasnya si Agus. ” Ogah Gus … barang bekas pakaimu …”, teriakku ketus.

Haa ….. hhaaa …ha …… kalo sudah gitu dia pasti ketawa ngakak. ” Alaaa .. Ery….Ery …. munafik banget si kau …apa bedanya friend … khan masih mending bekas sahabat sendiri … ha ..ha…”, celetuk Agus dengan logat bataknya yg kental. ” Ogaaaaaaaaahhhhh ……..” ” He…hee … kao nggak kasihan sama Farida, ama Nani en juga Yeni …. mereka kepingin banget bisa ngerasain kejantanan kontol kau kawan … he..hee …” ” Kalo sama Mona atau mbak Marissa mungkin aku mau Gus …. “, kataku kesal. ( Mona adalah salah satu penghuni kamar yg termasuk cewe baik2 dan paling manis menurutku ) ” Haaah … beneran nih Er … he..he … rayuanku aja belum berhasil Er …mmm …. Terus terang aku pengen sekali menidurinya …. He…he …” ” Edaan … masih mau nambah juga …. awas kau Gus…”, ujarku kesal. Terus terang kadang aku sendiri kasihan juga dengan Farida, Nani atau Yeni yg cantik…. Kok mau-mau nya digarap Agus yg notabene udah item kaya pantat panci … gendut lagi ( Agus memang postur tubuhnya rada gendut dan berkulit agak kehitaman karena sering keluyuran )

Sore itu selesai bimbingan skripsi aku langsung mampir ke tempat Agus hendak pinjam film VCD nya yg katanya baru dibelinya kemaren. Ia memang kolektor film2 bioskop. Saat itu suasana tempat mbak Marissa sedikit lebih sepi dibanding biasanya. Salonnya pun sudah ditutup. Kamar mbak Marissa kulihat dari seberang taman kelihatan gelap karena lampunya dimatikan. Mungkin sedang pergi pikirku.

Aku bergegas menuju ke kamar Agus yg berada di ujung belakang dan kulihat pintu kamarnya sedikit terbuka dan lampunya dihidupkan. Aku sudah hendak menerobos masuk untuk ngagetin dia karena aku tahu Agus orangnya gampang kagetan dan penakut namun niatku segera kuurungkan ketika didepan pintu kamarnya kudengar ada suara erangan dan rintihan wanita. Siall … pikirku. Sore-sore begini mau Maghrib bisa-bisanya ……Agus sedang … Dari suara erangannya aku bisa menduga itu pasti si cantik Farida yg sedang digarapnya. ” Ooouuuhhh …. Guusss … nnngggghhhhh …… nnnngggghhhhhhhhhhhhhhgggggg …..” Syittt …. Bisikku. Si Farida tampaknya pas lagi orgasme. ” Nnnnnnngggghhhh ….. ooouuuuuhhhh ….Guss …..nnnggggngggghhh…..” ” Enaak khan Rida ….”, bisik Agus terdengar dengan napas memburu. Keliatannya dia belum enjakulasi. Penasaran juga aku mendengarnya, mau tak mau alat vitalku tegang juga. Gimana-gimana sebenarnya aku kepingin juga bisa ngerasain yg rasanya senggama.

Saya memang masih perjaka ting-ting dan saat ini bahkan belum punya pacar sama sekali. Lucu memang, terus terang menurut orang saya ini tergolong sangat tampan, dan saya pun menyadari itu, banyak cewek2 cantik yg sebenarnya naksir tapi saya lebih senang menghabiskan waktu di Cyber Cafe surfing internet atau kalo tidak kongkow ke tempat Agus saban waktu, daripada cari pacar. Selain kata orang sangat tampan, tubuh saya sangat atletis karna saya juga rajin fitness dan olahraga, tinggi tubuh saya 172 cm, warna kulit sawo matang dan kalo boleh saya sebutkan juga ukuran alat vital saya panjang kurang lebih 16,5 centi.

Dengan rasa penasaran saya mencoba mengintip dari celah pintu kamar Agus yang sedikit terbuka. Astaga …. Selama ini baru pertama kali ini saya melihat Agus ngerjain cewek. Untung kebetulan posisi senggama mereka agak sedikit membelakangi pintu kamar. Dan kulihat Agus dgn posisi setengah berdiri ( dog style ) sedang menggarap tubuh bugil Farida yang tidur setengah menelungkup diatas tempat tidur, pinggul Farida kelihatan begitu padat, putih mulus dan seksi sekali. Sambil memeluk sebuah guling Farida menunggingkan pantatnya kearah tubuh Agus yg juga telanjang bulat. Kulihat betapa buasnya si Agus mengayuh pinggulnya kedepan belakang menghunjamkan batang penisnya yg ternyata berwarna coklat kehitaman kedalam liang kemaluan milik Farida yg berwarna putih kemerahan. Aku benar2 kagum dengan bentuk bukit kemaluan milik Farida itu.

Besar montok dan berjembut lebat kehitaman. Sedang liang vaginanya yg merah itu kelihatan masih sempit, terbukti dengan ketatnya jepitan daging vaginanya saat menjepit batang penis milik Agus yg ternyata relatif kecil ( mungkin diameternya cuman 3 centi saja ), saya tidak menyangka penis si Agus sekecil itu. Daging liang vagina milik Farida itu sampai tertarik keluar begitu Agus menarik batang penisnya yg hitam panjang itu keluar sebelum dihunjamkannya kembali dengan buas sampai kandas ke liang kemaluan Farida. ” Oooooouuuuhhhhh ..nnnnggggghhhhh ….. enaaak sekali Guss ….nnngggghhhh …. Yaaahhhhh …… oowwwwwwwooowww ……..”, rintih Farida penuh kenikmatan. ” Yeeaaaahh … “, teriak Agus gemas melihat Farida sedang mereguk kenikmatan orgasmenya, digoyangkannya dengan membabi buta pinggulnya ke depan belakang, batang penis milik Agus yg kehitaman itu tampak basah berlendir ketika berulang kali dihunjamkan keluar masuk ke dalam liang vagina Farida yg terlihat sempit mungil itu.

Kontras sekali rasanya melihat tubuh Farida yg bahenol putih mulus dengan pinggulnya yg seksi aduhai sedang disetubuhi oleh tubuh Agus yg hitam sedikit gembrot. Persis orang negro sedang ngerjain cewe bule. Edaan sekali ketika pada akhirnya kulihat tubuh Agus kelihatan bergetar hebat, goyangan pinggulnya bergerak semakin cepat seperti piston sambil mulutnya menggeram hebat. ” Aaaaaaaaarggghhhhhhhhhh …….. yeeaaaaahhhh ……. aaaagggkgkgkggghhhhhh …..” pekik Agus keenakan. Gila pikirku, rupanya Agus sedang meregang melepas enjakulasinya. ” Ridaaaa … aaaahhhggggggkkkgggffffhhh …… maniiiku keluuuaar ….. yyaaahgghhh ..aaaggghhh ….” Aku mendelik gemas melihat tubuh Agus menggeliat-geliat keenakan mirip cacing kepanasan, sementara pinggulnya dihentak-hentakkan dengan kuat ke pantat Farida yang montok seksi. Aku membayangkan Agus sedang memuntahkan air maninya yang kental ke dalang liang vagina Farida yg terlihat sempit itu. Edan pikirku … tidak pake kondom lagi si Agus, gimana kalo Farida hamil.

Tanpa terasa alat vitalku jadi tegang ngaceng membayangkan puncak kenikmatan yg sedang Agus alami. ” Aaawwww …. aaawww …..Gus … pelan-pelan dong …. vaginaku sakit …. Guss …. aawww …. Iiiihhhh …. Gussss … kok .. manimu dikeluarin di dalam sih … “, pekik Farida kesakitan setengah protes karena si Agus memuntahkan air maninya ke dalam tubuh Farida. Tapi Agus sama sekali tak peduli, sambil terus menggeram hebat dan meregang keenakan terus dihentak-hentakkannya dgn kuat pinggulnya menghantam pantat Farida, sembari mengeluar masukkan batang penisnya yg sedang meledak memuntahkan air mani ke dalam liang vaginanya. Jemari kedua tangan Agus yg kekar begitu kuat memegangi pinggang Farida hingga cewe cantik itu tak bisa bergerak sama sekali. ” Aduuuuhhhh … Gus …. sakkiiiitt … aawww …. kok dikeluarin di dalem sih ….. iihhh … sudah ..Gus … sudah … iihhh … aku bisa hamiil gus ….iihh kentaalnya ….aaawww ..”, pekik Farida semakin kesakitan. Gilaaa … si Agus pikirku. Mau enaknya aja dia.

Aku tak tahan menyaksikan adegan merangsang itu lebih lama lagi. Setengah berlari aku menuju ke kursi taman disamping kolam ikan yg persis berada ditengah2 komplek rumah mbak Marissa itu. Kuhempaskan pantatku diatas kursi panjang yg tepat berada dibawah lampu taman. Suasana senja itu semakin bertambah temaram. Aku mencoba menghapus bayangan2 hot yg mungkin masih berlangsung di kamar Agus. Sambil menunggu mereka selesai main, kurenggangkan otot-otot dan perasaanku sendiri yg sempat tegang tadi. Alat vitalku masih sedikit ngaceng membayangkan kejadian hot tadi.

Dan tanpa terasa 10 menit telah berlalu …. Namun kulihat pintu kamar si Agus masih belum juga terbuka menandakan kedua insan bejat itu masih berada dalam kamar. Aku mulai heran ngapain aja si Farida lama-lama disitu … khan tadi sudah sama-sama puas. …. Atau barangkali mereka masih teler keenakan dan tertidur disitu …. Waaah sialan … jadi obat nyamuk nih aku. Kenyataanya memang saat itu tubuhku mulai gatal-gatal dikerumuni nyamuk. Ketika aku hendak memutuskan untuk balik pulang saja tiba-tiba kurasakan ada seseorang yg menepuk pundakku dari belakang. ” Heii … dik Ery …!” Aku terhenyak kaget dan menoleh ke belakang. Oooohhhh … aku mengelus dada lega. Ternyata mbak Marissa yg datang. ” Eeeeh ….. Mbak Esmeralda … bikin kaget aja mbak …”, ujarku lega. ” Kok ada disini dik Ery …si Agus kemana … apa sedang keluar..?”, tanyanya sambil tersenyum manis padaku. Duuh … wajah mbak Marissa ini bener2 cuaaaaantiiiknya selangit …. nggak heran kalo banyak yg naksir … termasuk juga aku … he…hee…. ” Ngghhh … anu ..mbakk ….ada siihh ….sedang …nggggg..”, sahutku bingung harus mengatakan apa kepada mbak Marissa tentang si Agus ….

Masa aku harus bilang dia sedang maen kuda-kudaan dengan Farida…. Hee…he… ” Sedang apa ….?”, tanya mbak Marissa sambil memandang heran melihatku rada gugup. Namun sejenak kemudian kulihat mukanya yg cantik mempesona itu bersemu merah … ” Ooohhhh ….”, ujarnya lirih. ” Kenapa mbak..?”, tanyaku setengah heran melihat perubahan roman mukanya yg tiba-tiba itu. ” Nggak pa-pa …. Saya ngerti kok …!” “Ngerti apa sih mbak..?”, tanyaku masih kurang paham. ” Alaaaa … kamu ini dik Ery … pura-pura lagi … yaah … mbak sudah tahu kok dari dulu …”, sahutnya pelan sambil tersenyum manis kembali. ” Tahu apa sih mbak …?”, tanyaku makin bingung. Aku memang benar-benar nggak ngerti arah pembicaraannya. ” Iiiiih …. hik..hik…. dik Ery ini …. itu yang dik Ery liat tadi di kamar si Agus …”, ujarnya tanpa basa-basi lagi. Deggg … aku kaget juga mendengarnya.

Ternyata mbak Marissa sudah mengetahui perselingkuhan yg terjadi di tempat kostnya ini. ” Mbak … su ..sudah tau …”, tanyaku pelan setengah malu2. ” Sudahlah dik Ery … mereka toh sudah dewasa semua …. biarkan mereka sendiri yg menanggung segala resikonya …. Mbak bisa mengerti …. boleh saja … asal jangan bikin ribut saja … yuk masuk ….dik Ery tunggu dirumah mbak saja … yukkk …”, ujarnya kemudian sambil mengajakku masuk kerumahnya lewat pintu belakang. Bagai kerbau dicocok hidungnya. Aku manut saja ketika jemari tangannya menggamit lenganku. Kami berjalan berdampingan menuju kepintu belakang rumahnya. Ada rasa bangga tersendiri melihat nyonya rumah yang cantik bak bidadari itu menggandengku seperti seorang istri terhadap suaminya. Memang semenjak 2 bulan yg lalu aku sudah sangat akrab sekali dengan mbak Marissa ini, gara2nya aku sering menggodanya dgn sebutan mbak esmeralda … dan iapun kelihatan malah senang sekali dipanggil seperti itu karena selain cantik wajahnya juga mirip sekali dgn esmeralda yg di TV itu.

Gara2 itu jugalah ia sering mengajakku mengobrol berdua apabila kebetulan si Agus sedang keluar. Dari masalah politik sampai ekonomi, dari masalah salon sampai soal keluarganya di Manado pernah kami obrolkan. Ia memang sangat terbuka dalam segala hal, kecuali satu masalah rumah tangganya. Dan khusus kepadaku sajalah mbak Marissa betah lama2 mengobrol. Terkadang ia sering cemberut kalo aku permisi hendak menemui si Agus yg baru datang dari kuliah atau hendak pamit pulang. Kalo sudah begitu ia pasti menanyakan kapan datang lagi. He…he … padahal hampir saban hari aku datang ngendon di kamar Agus, dia sendiri saja yg terlalu sibuk dgn urusan salon kecantikannya. ” Heh ..kok ngelamun … ntar nabrak pintu lho …. hi ..hi …” ” Eeehh … nggak kok mbak sapa bilang ….?”, sahutku gugup. Mbak Marissa menatapku sambil tersenyum semakin manis. ” Ngelamunin apa sih Er … atau kamu kepingin yaa .. !”, bisiknya perlahan.

Aku sedikit kaget juga mendengar ucapannya yg to the point itu. Aku jadi teringat nasehat sinting si Agus, katanya kalo seorang wanita sudah berani ngomong sedikit nyerempet2 soal sex … itu berarti 50 % ia sudah mau untuk ditiduri, 50 % sisanya tinggal mampu nggak kita merangsangnya dengan sejuta rayuan …. kalo berhasil pasti takluk … Edaan … entah kenapa aku begitu ingin membuktikan teori gila si Agus ini ….. ” Kepingin sekali mbak …”, ujarku pura2 bloon.

Sambil bicara begitu aku pura-pura mengalihkan perhatianku ke pintu kamar Agus yg masih tertutup. Aku sedikit khawatir mbak Marissa akan marah dengan ucapan ngawurku …. Namun ternyata tidak ada sahutan sama sekali darinya. Tanpa menatapnya aku terus melangkah ke dalam ruang tengah dimana disana terhampar sebuah karpet tebal dan lebar dengan beberapa buah bantal besar dan kecil untuk tempat istirahat ataupun bersantai sambil menonton TV. Aku langsung duduk selonjor diatas karpet, sementara mbak Marissa minta ijin kebelakang dulu. Di tempat inilah sejak 2 bulan yg lalu saya bersama mbak Marissa biasa mengobrol sampai terkadang lupa waktu. Banyak pegawai salon mbak Marissa yg terkadang juga ikutan nimbrung apabila langganan sedang kosong.

Dari 5 pegawainya yg kesemua cewek ada 2 orang yg usianya hampir sebaya saya yaitu Santi dan Silvy, selebihnya sebaya dengan mbak Marissa (Diana, Erna dan Sherly ). Kesemuanya cantik-cantik sekali dan bahenol. Mbak Marissa memang pandai memilih pegawai2 nya untuk lebih menarik calon pelanggannya, apalagi kalo yg datang itu kaum pria. Sudah bukan rahasia lagi kalo sama-sama cocok salah satu pegawai mbak Marissa ini bisa di booking. Tetapi setahu saya juga tidak semuanya, menurut Agus yg bisa di booking cuman Sherly, Santi dan Erna saja, sedang yg lain tidak. Lucunya meskipun demikian, sekalipun si Agus belum juga berhasil mengajak salah satu dari mereka untuk bermain cinta. Kalo aku tanya apa sebabnya, Agus pasti cuman bisa nyengir kuda … he..he … mungkin gara-gara postur tubuhnya yg udah item gembrot lagi.

Menurut cerita Agus, ia pernah mencoba merayu Santi untuk diajaknya main kuda-kudaan di kamarnya, tetapi ia malah dikasih hadiah tempeleng, dan katanya ia bersedia diajak begituan kalo yg mengajaknya adalah saya … waaah … mendengar itu saya sempat ngaceng juga .. tapi waktu itu terus terang saya takut kehilangan keperjakaan saya apalagi saya juga takut sama cewe yg agresif.
Begitulah semenjak itu Agus rada2 mikir kalo mau ngajak ‘main’ pegawai salon yg lain. Jangankan begitu, masuk ke ruang tengah rumah mbak Marissa seperti yg kulakukan sekarang inipun Agus tidak berani .. he ….he.. Memang semenjak 2 bulan ini aku seolah sudah begitu dipercaya 100 %, mbak Marissa malah menyuruhku untuk jangan sungkan jika berada rumahnya, bahkan tidak jarang pula ia mengajakku makan siang bersamanya kalo kebetulan pas aku berada disana sedang Agus belum juga datang dari kuliahnya. Banyak pegawai salonnya yg ngiri melihatku begitu di servis lebih dibandingkan mereka sendiri yg notabene adalah karyawan disitu sedang aku khan cuman temannya si Agus yg nge-kost disitu. Kalo sudah begitu biasanya selagi mbak Marissa beresin piring ke belakang, maka mbak Sherly, mbak Erna atau Santi pasti serentak menghampiriku sambil mencubit pinggangku gemas … ” Iiiiiihhhhh …. enak yaa kamu Er … kita-kita aja belon makan …kok kamu udah kenyang duluan …. Iihhh… aku cubit nih …iiihhhh …” Diperlakukan begitu aku cuman bisa pasrah saja, tidak jarang Sherly tanpa malu-malu malah sampai meremas pantatku dgn gemas …. He …he .. coba saja berani pegang batang pelirku … dijamin langsung ngaceng … mungkin malah aku mau-mau aja kalo Sherly sampai meng-onaninya sekalian he…he…

Terus terang pula semenjak 2 bulan ini Sherly maupun Erna kerap menelponku kerumah agar aku mau mengantarnya ke diskotik atau sekedar menemaninya nonton ke bioskop, tetapi kebetulan sekali karena kesibukanku menyusun skripsi aku pura-pura tidak bisa memenuhi permintaan mereka, aku curiga pada akhirnya nanti mereka mengajakku untuk nge-sex, padahal aku nggak biasa dgn hal seperti itu. Seandainya kalo Silvy yg menelepon pasti aku langsung oke-oke saja, karena aku tahu Silvy selain paling muda dan paling cantik ia juga lebih pendiam dan sopan. Menurut pengamatan Agus, Silvy menurutnya masih perawan dan belum pernah dijamah laki-laki….
entahlah aku tidak ahli dalam hal ini dan entah kenapa juga aku percaya dengan omongannya soal yg satu ini. ” Heh …. dik Ery ini kok ngelamun lagi … nanti jadi kebiasaan lho …hik…hik …” Ucapan mbak Marissa ini cukup mengagetkan juga dan sekaligus menyadarkanku kembali dari lamunan. Aku tersenyum malu, dan kulihat ia membawa nampan berisi 2 cangkir kopi panas untuk kami berdua. Wajahnya yg cantik seolah semakin cantik saja didalam ruangan ini, entah mungkin karena aku sendiri yg sedang terpesona oleh kerupawanan wajah bidadarinya itu atau mungkin karena gaun yg sedang dikenakannya yg membuatnya jadi semakin mempesona. Saat itu aku baru menyadari kalo ternyata mbak Marissa mengenakan gaun tidur panjang berwarna coklat susu sampai kemata kakinya. Bisa kubilang kain gaunnya itu cukup tipis sekali sehingga tidak heran apabila BH dan celana dalamnya secara samar terlihat cukup jelas.

Namun karena kebetulan BH dan Celana dalamnya juga sewarna dengan gaun tidurnya maka kalo dilihat sepintas seperti menjadi satu dengan gaun tidurnya itu. Sejenak mataku terpaku pada gundukan kembar didadanya yang kelihatan besar membukit. Uuggh … aku jadi teringat peristiwa di kamar Agus tadi, ketika buah dada Farida yg besar montok dengan putingnya yg berwarna coklat kemerahan diremas-remas gemas oleh Agus dari sebelah belakang sementara ia menggoyang pinggul maju mundur mengeluar masukkan batang penisnya yg hitam menggesek lubang vagina Farida yang sempit. Fiiuuh …. Kubayangkan betapa asyik dan nikmatnya seandainya aku dapat melakukannya bersama mbak Marissa ini, aku akan senang melepas keperjakaanku bersamanya. ” Mbak kok repot-repot sih …”, ujarku
pelan, sembari terus memandangi kedua bulatan payudaranya yg besar menantang itu penuh nafsu, ketika ia menaruh nampan berisi 2 cangkir kopi itu didepanku otomatis ia duduk setengah berlutut dan sedikit membungkuk mau tidak mau gaun tidurnya yg sebelah atas agak tersingkap kebawah persis dibagian bawah lehernya. Uupss … aku berujar lirih setengah melongo saat menyaksikan dua gumpalan besar dari balik gaun tidurnya yg tersingkap itu. Walaupun masih tertutup BH namun karena payudaranya yg putih mulus dan montok itu begitu besar, sehingga seolah kubah BH nya jadi tak cukup untuk membungkus payudara raksasa milik mbak Marissa itu. Waahh … pokoknya sampe menuh-menuhin bungkusnya deh … ” Kamu lihat apa Er …?”, kembali tiba-tiba mbak Marissa menyadarkanku kembali dari lamunan dan pikiran ngeresku. ” Eeeh … a…ng ..nggak papa kok mbak….”, sahutku gugup. Aku benar2 tidak mengira ia mengetahui semua perbuatanku.

Malu sekali rasanya saat itu. ” Ehem … ada yg salah dengan pakaianku Er …”, tanyanya lagi kepadaku. Pandangan matanya yg ditujukan kearahku seakan menyelidik meskipun sama sekali tidak kelihatan marah. ” Ngg … nggak kok mbak….?”, sahutku makin gugup. ” Terus tadi mbak perhatikan kamu kelihatan serius ngeliatin mbak …?”, tanyanya terus mengejar. Aku berusaha sedapat mungkin menenangkan perasaanku yg kalang kabut tak karuan. Bagaimanapun aku risi juga bila ia mengetahui ketidak jujuran ucapanku. ” Mmm … nggak ada apa-apa kok mbak … cuman …mm ….mbak Marissa kelihatan sangat cantik sekali malam ini …”, ujarku spontan.

Lebih baik aku memujinya daripada harus berterus terang hal yg bukan-bukan. ” Iiiih … kamu bisa aja Er …. makasih deh ..”, katanya pelan. Eits … untung ternyata ucapanku manjur juga. Pipinya yg putih mulus itu bersemu merah menambah kecantikan wajahnya yang alami. Aku jadi semakin berani. ” Bener kok ….mbak Marissa kelihatan cantiik sekali … andai saja saya punya pacar seperti mbak … “, ujarku kemudian semakin percaya diri. ” Iiiihhh …. hik…hik.. kamu ini … bisa juga yaa ngerayu … memangnya masa kamu belum punya pacar sih ..” ”
Sekarang sih lagi pendekatan mbak ….” ” Oh ..yaaa ….” ” Iyaa .. orangnya cantiik sekali seperti mbak Marissa …..” ” Masaa … mbak boleh dikenalin nanti ….” ” Boleh … namanya Esmeralda …” ” Haahh ..” Semula mbak Marissa kelihatan agak bingung namun sejenak kemudian ia ketawa setengah ngakak. Sambil mengambil duduk persis disebelahku jemari tangannya yg halus lentik mencubit gemas pinggangku. Aku tak sempat menghindar dan cubitannya benar2 sakit sekali. Aku menggeliat dan memekik kesakitan sambil berusaha melepaskan diri dari cubitannya, namun mbak Marissa sama sekali tak mau melepaskannya sembari terus tertawa makin keras.

Baru kali ini aku melihatnya bisa tertawa lepas bahagia seperti itu. ” Auuuwwww …. sakit mbak …”, teriakku keras. ” Hik …hik ….biarin … tau rasa kamu … ngebohongin mbak ..” Sial … cantik sekali mbak Marissa ini. Saat itu begitu dekat sekali mukaku dengan wajah bidadarinya itu, sampai hembusan nafasnya yg harum bahkan bau badannya yg wangi begitu memabokkan perasaanku. Darah perjakaku seakan bergolak, nafsu birahiku spontan naik ‘over voltage’, alat vitalku tanpa dikomando langsung menegang keras …NGACENG !!… , Duh Gusti … apa yg sedang terjadi padaku ini, aku terbuai sudah dengan segala kesempurnaan yang ada pada diri mbak Marissa .. kecantikan wajahnya, keseksian tubuhnya, keharumannya …. seakan lupa diri saat tanpa dapat kucegah lagi kedua tanganku meraih pinggangnya yang seksi itu lebih dekat kearahku. Tak kuhiraukan lagi betapa sakit cubitan jemari tangannya tadi. ” Mbak …kau cantik sekali …”, bisikku tanpa sadar.
Sejenak Marissa sedikit kaget menyadari apa yg sedang kulakukan terhadapnya. ” Eehh .. Ery … ada apa …”, bisiknya pula seakan tak mengerti. Pelukan kedua tanganku ke tubuhnya semakin bertambah erat. Ooouuhh …. Bisa kurasakan betapa halus dan mulusnya kulit tubuhnya dari balik gaun tidur tipis yg tipis. Seakan begitu cepat dan ringan saja ketika kedua tanganku yg kekar telah meraih tubuhnya dan dalam sekejab telah berada diatas pangkuanku. Kedua bulatan pantatnya yang montok seksi itu mendarat persis diantara kedua pahaku. Batang penisku yg ngaceng seakan tergencet nikmat diantara sela-sela belahan pantatnya yang padat dan lunak. Oooouggghh ….nikmatnya …. ” Erryyyy …. ada apa …”, pekiknya kaget melihat dirinya telah berada didalam pelukanku. ” Mbak ….. aku menyukaimu ….a..ku …ingin bercinta denganmu ….”, bisikku tanpa sadar. Seakan nafsu telah menutup semua akal sehatku. ” Iiiiiihhhh …. apaa …. gilaa kamu Er “, …..dan plaaakk … Sebuah tamparan keras tangan kanannya mendarat telak dipipiku. Anehnya aku seolah tak merasakan apa-apa …

aku cuman menoleh sekilas lalu kembali memandang wajah cantiknya yg kini hanya berjarak tak lebih dari 20 centi saja. Pandangan matanya tampak berapi-api … bibirnya tampak bergetar seolah menahan kemarahan … hidungnya mendenguskan nafas yg sedikit memburu …. What the hell …. apa yg terjadi …terjadilah … sudah terlanjur … dan aku tak akan mundur, bahkan pikiran gilaku mengatakan untuk memperkosanya saja jika perlu. ” Aku mencintaimu Marissa …. Sungguh …”, bisikku pelan seakan membela diri. Sedetik … dua detik … sampai mungkin hampir satu menit … kami berdua hanya saling berpandangan satu sama lain. Tidak ada gerakan … tidak ada perlawanan darinya. Tubuhnya masih berada dalam pelukanku. Wajah cantiknya itu terlihat sedikit pucat dan pandangan matanya tak segarang tadi. Bibirnya yg begitu indah merah merona tanpa lipstik kini terkatup rapat. ” Maafkan aku Marissa …. aku sungguh ingin bercinta denganmu …” ” Ka …kamu gila Ery … sadarkah kamu … aku sudah bersuami Er … dan … k ….kau …. ingin bermain cinta …sadarkah kamu Ery …”, bisiknya lemah. Dari sikap dan ucapannya itu seolah aku bisa menduga apapun yg aku lakukan terhadapnya tampaknya ia sudah siap menerima.

Terlihat semenjak pertama kali aku memeluk tubuhnya sampai membawanya kedalam pangkuanku Marissa sama sekali tidak melakukan perlawanan sedikitpun. Itu berarti ia sebenarnya mau saja kusetubuhi. What the hell … ia bersuami atau tidak … ada orang yg tahu atau tidak, yg penting aku akan menggelutinya malam ini sampai puas, aku akan menyenggamainya seperti ketika Agus menyetubuhi Farida, akan kumuntahkan air maniku sepuasnya kedalam tubuh mbak Marissa ini. Malam ini akan kulepas status perjaka ting-ting ku. ” Apapun yg terjadi Marissa … aku mohon lupakanlah suamimu untuk malam ini …. anggaplah aku suamimu malam ini …. jadilah istriku malam ini Marissa … “, bisikku semakin ngelantur terbawa oleh nafsu. ” Ja … jangan Ery ….”, bisiknya semakin lemah. Aku tersenyum penuh kemenangan mendengarnya … I wanna fuck you Marissa … and I wanna fuck you until you pregnant ….. Secepat kilat kudekatkan mukaku ke wajah cantiknya … oh .. Esmeralda-ku … sekali lagi tidak ada perlawanan sedikitpun ketika mulutku menyentuh bibir merahnya yang terasa begitu hangat dan lunak. Mmmm …. Aku mulai mengulumnya sepenuh perasaan .. menikmati kelembutan kedua belah bibirnya yang hangat.

Kedua hidung kami saling bersentuhan mesra. Dengusan nafasnya yang harum sedikit memburu. Sejenak aku terbuai dalam alam kenikmatan yang baru pertama kali ini kurasakan. Kukecup kedua belah bibirnya sebelah atas dan bawah secara bergantian. Terasa ada balasan walaupun sedikit ragu. Aku tahu mbak Marissa mengiginkan belaian dan cumbuan lelaki. Ketika lidahku yang panas kujulurkan masuk kedalam mulutnya yang indah, akhirnya ia pun membalasnya mengulum mesra penuh perasaan dengan kedua belah bibirnya yang hangat lunak. Mmmmm …. terasa nikmat …. aku semakin terbuai ke alam sorga … Sejenak kemudian kulepaskan kecupan dan cumbuan mulutku dari bibir Marissa. Kupandangi wajah cantiknya yg kini kelihatan seolah semakin cantik, tidak ada rona kemarahan di wajahnya, bibirnya yang basah sehabis kukulum tadi kini tersenyum manis sekali …, kedua bola matanya yang indah kini menatapku malu-malu.

Aku tersenyum penuh gairah … ” Jangan menyembunyikan keinginanmu yang terpendam Marissa … aku tahu kau merindukan belaian laki-laki … kau butuh pemuasan sex yg selama ini tidak pernah kau dapatkan … aku akan memuasimu malam ini Marissa …”, ujarku perlahan sok tahu. ” K.. kau sudah gila Er …”, sahutnya sambil tersenyum sedikit ragu. Duh .. cantiknya dia. ” Sudahlah sayang ….. Kita nikmati saja malam yang dingin ini …”, bisikku semakin edan.
Perlahan kurenggangkan pelukanku pada tubuh Marissa lalu kuangkat dan kurebahkan tubuhnya yang montok seksi itu diatas karpet tebal miliknya itu bersandarkan sebuah bantal untuk menyangga kepalanya. Rambutnya yang panjang terurai kukecup mesra dan sekali lagi kukecup kembali bibirnya yang indah menawan, kali ini Marissa membalasnya dengan kecupan yang tak kalah mesra. Akhirnya kami berdua tertawa kecil menikmati suasana indah nan romantis yang tak ternyana ini. Lalu aku berdiri dihadapan tubuh mbak Marissa yang masih tergolek pasrah diatas karpet.

Wajahnya yang rupawan bak bidadari itu tersenyum kecil, kedua matanya menatapku dalam-dalam seakan mengagumi ketampanan wajah dan tubuhku yang atletis. Dengan perlahan tapi pasti jemari tanganku mulai membuka kancing kemejaku satu persatu sampai terbuka lalu dengan cepat kulepas dan kulempar sekenanya kebelakang. Marissa tersenyum geli melihatku. ” Aku tidak menyangka sama sekali Er … kalo malam ini ada laki-laki yang telah begitu beraninya telah menyentuh tubuhku … bahkan malah nekat hendak menyetubuhiku … suamiku sendiri sudah lebih dari 4 tahun ini Er ….tak pernah kuijinkan lagi menyentuh tubuhku …” ” Kenapa Marissa …?”, tanyaku heran, sembari melepas kaos singletku. ” Aku tak mau disetubuhi laki-laki mandul …”, ujarnya terdengar sedikit serius. Gilaaa …pikirku. Mungkin mbak Marissa ini sudah kebelet ingin punya anak. Aku tersenyum. ” Saya bisa membuatmu hamil Marissa … saya bisa memberimu keturunan …”, sahutku gemas.

Marissa tersenyum makin manis. Edaan … perasaanku wajahnya kelihatan makin cantik saja. ” Baiklah … lakukanlah Ery … hamili aku …”, bisiknya penuh gairah. ” Siapa yg akan bertanggung jawab Marissa …”, tanyaku sedikit khawatir juga kalo sampai membuatnya hamil dan ia akan menuntutku. ” Hamili saja aku Ery … itu anakku dan suamiku … sejujurnya ia sendiri yg mengusulkan ide gila ini setahun yg lalu … agar aku tidur dengan laki-laki yang kusukai …. hehhh … sejak semula kurasa memang laki-laki itu kamu Ery …”, ujarnya semakin bergairah. Waaah …. edan juga suaminya ini, bisa-bisanya dia menyuruh isterinya tidur dengan pria lain hanya demi untuk sekedar mendapatkan anak… gilaaa … Aaaah … sekali lagi what the hell …. Kini aku telah bertelanjang dada dan kulihat mbak Marissa menatap kagum bentuk tubuhku yg atletis bahkan lenganku yang besar kelihatan berurat karena terlalu banyak latihan beban yang berlebihan.

Dengan tak sabar segera kubuka sabuk celana dan ritsleting celana katun coklatku. Lalu dengan cepat kuplorotkan kebawah sampai lepas dan kulempar sekenanya kebelakang. Marissa tersenyum makin geli melihat tingkahku. ” Iiiihh … kamu nafsu sekali Ery … hik…hik…”, katanya setengah tertawa kecil. Namun sejenak kemudian wajahnya langsung memerah ketika celana dalamku mulai kuplorotkan ke bawah sehingga batang penisku yang sudah sangat ngaceng sepanjang 16,5 centi itu langsung mengacung keluar dengan gagahnya. Wuuushhhhh …… toooiiing …..lalu manggut-manggut naik turun. ” Woowww … hik ..hik .. “, Marissa memekik kecil melihat adik kandungku yang sangat perkasa ini. Rruaar biaasaa …. ,kebetulan sudah sebulan ini aku tidak melakukan onani … dan aku tidak bisa membayangkan sudah berapa banyak air maniku yang tersimpan dalam kantung zakarku.

Tetapi yang jelas dari kebiasaan onaniku yang paling tidak seminggu sekali bisa menyemburkan sampai 12 kali muncratan air mani atau mungkin sekitar 1 lepek kecil. Jadi kalo sebulan yaa…. bayangin sendiri saja … Setengah malu-malu Marissa menatap alat kejantananku yang sudah siap untuk mengoyak-oyak liang kemaluannya. Aku jadi makin tambah ngaceng saja membayangkan enaknya dijepit liang vagina mbak Marissa ini. ” Saya masih perjaka mbak ….”, bisikku terus terang kepadanya. Mbak Marissa tersenyum setengah malu-malu. Kedua pipinya masih bersemu merah. ” Mmm … aku tau Ery … aku percaya kamu masih perjaka …”, sahut Marissa setengah serak. ” Mbak tau ….bagaimana?.. “, tanyaku heran juga. Marissa hanya tersenyum kecil. ” Itu salah satu rahasia wanita …dan tidak semua orang tahu Ery ..”, katanya lagi setengah menggoda. ” Ajari saya bermain cinta mbak ….”, pintaku makin bernafsu.

Marissa tersenyum lebar lalu ia bangkit dari tidurnya dan berdiri sekitar 2 meter dari hadapanku. ” Oke … aku akan membuatmu menyesal tidak melakukan hal ini sejak dulu Ery … aku akan memberimu kenikmatan sorga dunia yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya ….mmmm …. Sekarang berbaringlah di karpet Er … aku akan mengajarimu bermain cinta …mmm …”, sahutnya pelan setengah berbisik, wajahnya yang cantik itu kini sekarang seolah ingin menelanku. Wuuuiiiikkk … mendengar ucapannya yang tak kunyana dan sangat merangsang itu batang penisku yang sudah ngaceng jadi semakin gerah tak karuan … montang-manting tak bisa diam … urat-urat disekujur batang kontolku itu sampai menyembul keluar semua, bahkan kepalanya yang sebesar sawo manis itu sampai merah kepingin segera masuk ke sarang perawan eh … Melihatku masih belum juga rebah, mbak Marissa jadi gemas ia maju selangkah lalu dengan cepat ditamparnya alat vitalku yang sedang ngaceng cukup keras …. Plokk … sebelum akhirnya ia mendorong tubuhku sampai rebah terlentang diatas karpet. Pasrah … dan ngaceng …!!! ” Aawww … mbak … sakiit dong …”, bisikku lemah seolah tak bertenaga melihat batang penisku yg baru ditamparnya itu sampe merah dan montang-manting tak karuan.

Selanjutnya aku hanya bisa mendelik makin ngaceng melihat mbak Marissa secara perlahan-lahan mulai membuka kancing gaun tidurnya sebelah atas. Hanya 3 buah kancing ketika dengan gayanya yang menggairahkan ia mulai melepas pelan-pelan dan begitu gaun itu terlepas dari pundaknya yang putih mulus secepat itu pula gaunnya runtuh ke bawah …sruuttt …. ” Woooowwww…..”, aku mendesah kaget lalu melongo terkagum-kagum menyaksikan keindahan tubuhnya yang begitu putih bersih, mulus dan seksinya luar biasa. Buah dadanya yang juga putih montok terlihat begitu sangat besar tersembunyi dibalik BH mungilnya yg berwarna coklat susu. Seperti mau meledak saja payudara mbak Marissa ini saking besarnya. Begitu montok dan sama sekali tak terlihat kendor.

Aku tak sanggup membayangkan nikmatnya seandainya batang penisku kujepitkan diantara kedua buah payudara raksasanya itu lalu kugesekkan sampai air maniku keluar. Waaah … aku harus melakukannya nanti. 3 detik kemudian dengan perlahan mbak Marissa mulai membuka tali pengait BH nya diantara kedua kubah penutup gunung kembarnya itu dan sst … Mataku melotot serasa hendak loncat keluar ketika secara nyata telah terpampang sudah dua bulatan besar payudaranya setelah Bh nya dilepas. Ooooouuhh ….begitu besar, begitu putih mulus, montok, kelihatan padat dengan kedua puting-puting susunya yang berwarna coklat muda kemerahan. Indahnya …eemaaaakkk ….

Aku tak tahan dan sontak berdiri menghampiri tubuh mbak Marissa yang sudah hampir telanjang bulat. Dengan cepat jemari kedua tanganku telah meraih dua bulatan payudara montoknya kedalam genggamanku. Seakan kesetrum dan seolah terasa begitu kecil jemari tanganku membelai dan mulai meremas kedua buah dada mbak Marissa yang begitu padat dan kenyal itu. Sumpah … baru kali ini aku memegang dan meremas buah dada seorang wanita Oohh. ….enaknya …. ambooiiiii ….. Mbak Marissa yang tak menyangka aku akan berbuat begitu, namun akhirnya ia hanya pasrah dan membiarkan kedua jemari tanganku bermain-main, memegang dan meremas-remas dua gumpalan besar payudaranya sepuasnya. ” Besar sekali mbak …”, bisikku seakan tak percaya dengan penglihatanku saat ini. ” Hik…hik… kamu nakal sekali Ery … aawww … pelan-pelan sayang ….mmmm …aawww …iiihhh … nafsu sekali kamu Er…. Aaawww ….hik..hik… mmm”, pekik mbak Marissa keenakan setiap jemari tanganku dengan gemas memuntir dan meremas-remas kedua buah payudaranya yang kiri dan kanan berulang kali. Tak puas sampai disitu kudekatkan muka dan mulutku ke buah dadanya sebelah kanan lalu dengan rakus mulutku mulai menghisap dan mengulum puting susunya dengan sepenuh perasaan. Kupejamkan kedua mataku menikmati pengalaman pertama dalam hidupku ini. Aku menyesal tidak melakukan hal seperti ini dari dulu-dulu. ” Oooowww … Eryy … geli ahh …mmmm … aduuuhh … putingku jangan digigit dong … awww ….iiihhhh …. nakal …mmmm …uuhhhh ….ih..geliii …”, pekik Marissa kegelian. Jemari kedua tangannya kini mengerumasi rambut kepalaku sampai awut-awutan, terkadang malah ditekannya kepalaku kedepan sampai muka dan mulutku yang sedang menyusu sampai ikut tertekan menikmati kelembutan dan kelunakan buah dadanya yang besar. Aku semakin bernafsu … cepok …cepok ketika akhirnya secara bergantian mulutku mulai menghisap puting payudaranya sebelah kiri dan dengan dibantu lidahku bibirku mulai mengenyot dan menyusu buah dadanya itu dengan harapan air susunya keluar. ” Oowwww …. aduuuh ….Erryyy ….geliiii ..mmmmm ….aaahhhh …..iihhhhh ….mmmm ….aduuuuhh ..putingku sakit Eryyy …”, pekik mbak Marissa semakin keras. Sementara aku sem

Makin asyik mengenyot dan menghisap puting-puting buah dada montoknya secara bergantian dan sementara mbak Marissa semakin asyik merintih keenakan ….. jemari kedua tanganku mulai bergerak menyusuri sekujur tubuh mulusnya yang seksi, mulai dari punggungnya yang halus mulus terus bergerak kebawah ke pinggulnya yang bulat aduhai begitu menggemaskan. Aku meremas pelan … dan semakin lama semakin kuat saking gemasnya. Begitu kenyal dan padat. Mulus lagi. Batang penisku yang ngaceng semakin menggila bergerak naik turun makin cepat seperti piston, kurasakan sudah berkali-kali cairan madziku menetes keluar menandakan sudah saatnya untuk melakukan senggama. Namun jemari tanganku masih belum berhenti menjamah tubuh mbak Marissa yang merangsang ini, dengan cepat jemari tangan kiriku merambah kesela-sela pahanya yang terasa hangat dan lunak, kurasakan sebuah lekukan kecil lubang duburnya yang sempit sekali, dengan gemas jari telunjukku langsung kutusukkan memasuki lubang duburnya itu. Sekali tusuk langsung ma

suk setengahnya …. Woww … begitu sempitnya dan rasanya panas sekali telunjukku didalam situ. ” Aaawwww ……aduuuhhh … duburku sakiiit …Eryy …aawww …”, pekik mbak Marissa kesakitan. Aku tak peduli, kini giliran jemari tangan kananku yang merambah selangkangannya dari arah depan. Ooohhhhh … sambil terus kukenyot dan kuhisap puting susunya sebelah kiri, kini kurasakan jemari tanganku telah mengelus-elus bukit kemaluannya yang ternyata tidak memiliki sehelai rambutpun. Aku agak heran juga sejak kapan mbak Marissa melepas celana dalamnya but peduli setan. Bukit kemaluannya itu ternyata juga cukup besar karena aku dapat menggenggamnya dengan seluruh telapak tangan kananku. Terasa begitu lunak dan hangat dan saat jari tengahku kuselipkan diantara labia mayoranya yang besar langsung kutusukkan pula menembus liang vaginanya yang ternyata juga sangat sempit sekali. meskipun aku sudah berusaha menekan namun kurasa yang masuk paling cuman 1,5 centi saja. Astaga …. Sempit sekali ….. gimana penisku yang besar dan panjangnya 16,5 centi bisa masuk kalo sempit begini. ” Aaaawwwww …… aduuuuuhhh …. sakiiiit Eryyy …..”, pekik mbak Marissa kesakitan.

Kucabut jariku dari liang vaginanya, akhirnya bukit kemaluannya hanya kuremas-remas saja dengan perasaan gemas. Aku memang tidak ada pengalaman secuilpun tentang senggama karena aku memang belum pernah melakukannya, tetapi yg jelas aku harus bisa memasukkan batang penisku sepanjang 16,5 centi ini sampai kandas kedalam liang vagina mbak Marissa. Sampai disitu aku tak mampu menahan diri lagi, nafsu sex-ku sudah diubun-ubun dan aku ingin segera menyetubuhi mbak Marissa. Cepookk ….. Kulepaskan mulutku dari puting-puting buah dadanya lalu dengan tak sabar segera kupegang batang penisku yang sudah ngaceng nggak karuan lagi itu untuk segera kumasukkan ke dalam liang vagina mbak Marissa. ” Aaah …. mbak …ngghh …sudah nggak tahan nih …gimana caranya nih …”, pintaku bernafsu setengah rada bloon juga. ” Iiiiih … kamu ini Er … jangan terlalu bernafsu begitu sayang … nanti air manimu terlalu cepat keluar sayang … kamu bisa enjakulasi dini …iiihh …hik..hik… penis sebesar itu lagian mana cukup masuk ke lubang kemaluanku Er … hik …hik…”, bisik mbak Marissa sembari mengerling setengah genit menggodaku. ” Aduuh …. mbak …udah nggak tahan nih …..”, pintaku lagi setengah memohon. ” Iiiih …udah ah ….. penismu jangan dipegang-pegang gitu … nanti isinya keluar lho ….hik..hik..” ” Ya …ampuun … mbak Marissa genit aah ….”, sahutku sembari menahan nafsu. ” Semua laki-laki itu memang sama … kalo udah maunya … dasar laki-laki … sudah rebah sana …”, katanya sambil mendorong tubuhku kembali rebah terlentang diatas karpet.

Begitu aku rebah tidur, mbak Marissa pun lalu mengikutiku dan lansung mengangkangi tubuhku. Aku kembali terkagum-kagum menyaksikan keindahan tubuh mulusnya yang sangat sempurna ini. Ooohhh … baru kulihat sekarang bukit kemaluannya yang agak berwarna kecoklatan dibanding bagian tubuhnya yang lain itu tampak besar membentuk sebuah bukit kecil indah dan merangsang. Sebuah belahan memanjang vertikal yang membelah labia mayoranya itu terlihat tebal dan tertutup rapat seolah menyembunyikan lubang vaginanya yang sangat terlarang. Duh … merangsangnya bukit kemaluan milik mbak Marissa ini. Tak tahan menyaksikan pemandangan indah itu jemari tangan kananku mulai meremas batang penisku yang ngaceng lalu kuusap-usap pelan dengan rasa nikmat sembari memandangi keindahan tubuhnya. Mbak Marissa tersenyum kecil melihat ulahku, dengan gayanya yang aduhai, pantatnya yang seksi dan bahenol itu langsung menduduki kedua belah pahaku. Aahhh …lututku sampe gemetaran saking gugupnya merasakan kehalusan dan kemulusan kedua bulatan pantatnya yang sangat merangsang birahi itu. ” Mbak … aahhh …”, bibirku seolah ikut tergetar menyaksikan kesemua itu.

Seakan mimpi rasanya melihat seorang bidadari cantik bertelanjang bulat dengan segala keindahan tubuhnya yang begitu sempurna kini malah menduduki tubuhku. Marissa makin tersenyum manis melihatku bertambah gugup. Dipegangnya tanganku yg masih menggenggam batang penisku yang ngaceng lalu dengan mesra dibawanya kedadanya membelai kemontokan buah dadanya yang besar menantang.

Tanpa dikomando kedua jemari tanganku langsung kembali bergerilya membelai dan meremasi kedua buah payudara montoknya dengan gemas. Begitu kenyal dan padat. ” Er …. sebelum kita bersetubuh ada syarat yg harus kamu penuhi dulu …”, bisiknya mesra padaku. ” Apapun itu mbak … akan saya kerjakan ….”, sahutku pasrah. ” Mmm …. kau harus memuasiku lebih dulu Er … maksudku aku ingin kamu mencumbu …. mmm … kemaluanku dulu … aahhh …”, bisiknya malu dan setengah ragu. ” Katakanlah mbak … pasti akan saya lakukan …”, ujarku semakin bernafsu, agak heran juga hatiku mendengar permintaannya yg menantang itu. ” Ngghh … dulu mbak selalu melakukannya bersama suami …nggh..”, katanya lagi setengah ragu. ” Katakanlah mbak … jangan kuatir … pasti Ery lakukan …apa itu mbak ….?” ” Mmmm … Ery kamu mau khan meminum cairan kemaluanku …”, katanya lalu menunduk malu.

Aku tersenyum menahan geli mendengar pengakuan polosnya itu, aku pikir mbak Marissa ini ada sedikit kelainan sex juga. Ada-ada saja. Masa aku disuruh minum cairan lendir orgasmenya … jangankan setetes dua tetes … satu gelaspun akan kuminum dengan senang hati seandainya mbak Marissa bisa mengeluarkan sebanyak itu. ” Saya mau sekali mbak …..”, kataku penuh gairah. Marissa tersenyum manis walaupun kutahu ia sedikit malu juga harus berterus terang seperti itu. ” Makasih Ery ….”, katanya pelan setengah berbisik. Sejenak lalu diangkatnya tubuhnya kembali, pinggul dan kedua paha mulusnya yang sejak tadi duduk mengangkangiku kini dengan cepat bergerak menuju ke arahku. Aku begitu takjub dan kagum menyaksikan keindahan bukit kemaluan miliknya yang besar dengan lekukan labia mayoranya yang merangsang. Tidak ada sama sekali gelambir kecil yg biasa sering kulihat pada film2 porno menandakan mbak Marissa ini jarang sekali bersenggama.

Bahkan labia mayoranya yang besar dan tebal itu selain mulus karena bulu kemaluannya telah dicukur habis, ternyata masih menutup rapat satu sama lain menyembunyikan clitoris dan lubang vaginanya. Bau alat kemaluan milik mbak Marissa terasa mulai menusuk hidungku begitu kedua paha mulusnya dengan cepat telah berada diatas mukaku dan mengangkangiku. Alamak …..alat vitalku semakin ngaceng saja melihatnya. ” Mmmmm …. bau kemaluanmu enak sekali Marissa …”, bisikku setengah serak. Aku tak bisa melihat wajahnya karena mukaku sudah hampir tertutup dengan bukit kemaluannya yg besar. Hanya kurang dari 10 centi jaraknya dari mukaku ketika akhirnya kudengar ia berkata. ” Ery …. cumbui clitorisnya sampai cairanku keluar sayang …”, bisiknya pelan terdengar bernafsu. Habis berkata begitu tiba-tiba saja pandanganku menjadi gelap, mukaku seakan tertimpa sebuah daging hangat dan lunak. Mmmbbfff … mbak Marissa telah menekankan seluruh bukit kemaluannya yang montok itu ke mukaku. Semula digesek-gesekkannya seluruh bukit kemaluannya yang empuk itu ke mukaku. Bau alat kemaluannya itu terasa menyengat namun entah mengapa aku begitu menyukai bau khasnya itu.
Hidungku yang terselip diantara belahan labia mayoranya menggesek clitoris dan celah vaginanya yang mulai sedikit basah. Mulut dan lidahku tak mau kalah mulai ikut mengecup, mencumbu dan menghisap nikmat bibir-bibir kemaluannya yg tebal. Begitu empuk dan lunak. Gemas rasanya lidah dan mulutku menjilat dan menghisap daging terlarangnya itu. Kupejamkan kedua mataku menikmati pengalaman indah pertamaku ini, mencumbu bagian terlarang bidadari cantikku ini. Kuremas lembut kedua belahan pantat mbak Marissa yg menduduki pundakku. Aku kira mbak Marissa begitu sangat menikmatinya. Berulang kali mulutnya memekik kecil lalu mengerang panjang keenakan sambil menggeliatkan pinggulnya memutar menikmati jilatan dan sedotan mulutku pada bibir-bibir kemaluan dan clitorisnya. ” Oouuh yaahh …Ery …. ooouuhh …yaahhh … terus sayang …. ouuuuhh yaaaahhh …mmmm ….Eryyyy …. uuhhhhhh …nikmatnya ….nngggghhhh …” Cukup lama sekali kukira aku mencumbu alat kelaminnya itu, mungkin sekitar 10-15 menitan, sampai akhirnya saat kuhisap dan kugigit gemas daging clitorisnya yang sebesar kacang tanah itu tiba-tiba mbak Marissa mengangkat pinggulnya keatas. ” Eryyyyy …. buka mulutmu sayang …aduuuuhhhh … aku mau keluar sayang ….. uuuuuhhhh …… oouuuuuugghhhh …..”, pekiknya keras.

Rupanya mbak Marissa sudah hampir sampe ke puncak orgasmenya. Sambil pinggulnya diangkat, jemari tangan kirinya menyibakkan bibir labia mayoranya yg sudah basah habis kujilati sedang jari telunjuk kanannya menggosok-gosok daging clitorisnya dengan cepat. Dapat kulihat jelas dari jarak sekitar 10 centi liang vaginanya yg mungil dan sudah basah itu sedikit membuka. Melihat pemandangan merangsang itu segera kubuka mulutku lebar-lebar menunggu cairan orgasme tumpah keluar.

Dan 5 detik kemudian ….. Pruutt …… cpruuutttt …….. Wow …. Tiba-tiba saja beberapa semprotan bening dari liang kemaluan mbak Marissa tumpah keluar langsung nyelonong masuk ke dalam mulutku … mmmm ada rasa asin, amis dan gurih bercampur jadi satu … langsung kutelan nikmat semuanya. Baru sekali ini aku melihat seorang wanita juga mampu menyemburkan cairan orgasme. Mbak Marissa mengerang dan merintih panjang menikmati puncak orgasmenya. Pinggulnya yang seksi aduhai sampai menggeliat-geliat hebat saking enaknya. Wuuffff ….. indah sekali. ” Nnnggggggggggggghhhh …….uuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhh”
Kudekatkan mulutku ke lubang kemaluannya yg masih meneteskan cairan kenikmatannya itu …. Kuhisap dan kusedot sekuatnya sampai kurasakan tidak ada sisa lagi cairan yg keluar. Lidahku mengecap sedap menikmati lendir orgasme mbak Marissa sebelum akhirnya kutelan habis. ” Uuuuuuhhhh … Eryyyy …. oouhhh …. makasih sayang ….uuuhhh ..nikmatnya tadi sayang …”, bisik mbak Marissa letih setelah orgasmenya berakhir. Kedua belah pantatnya dihempaskan ke dadaku yang bidang. Lemas.

Kini dapat kulihat kembali wajah cantiknya yang tampak berkeringat basah. Namun rona-rona kepuasan dan kebahagian terpancar diwajahnya. Sejenak kubiarkan ia mengatur nafasnya yang sedikit memburu. Kubelai-belai mesra kedua pahanya yang putih mulus sembari kupandangi alat kemaluannya yg kini tampak semakin merangsang sehabis orgasme. Uh … aku sudah tak sabar ingin segera merasakan jepitan liang vaginanya. Seakan mengerti mbak Marissa lalu menggeser tubuhnya kebawah tubuhku kembali. Wuuiiih … enak rasanya saat kulit dada dan perutku bergesekan dengan kedua paha mulusnya itu. ” Mmmm … Er kamu siap kehilangan keperjakaanmu sayang …”, bisik mbak Marissa lembut. Wajahnya yang cantik itu nampak sedikit berkeringat. Dan ouuuuhh … aku merintih nikmat dan seakan tak percaya ketika dengan penuh kelembutan jemari lentik mbak Marissa yang halus itu lalu memegang sembari memberi sedikit remasan gemas pada batang penisku yang sudah ‘over ngaceng’ dan membawanya ke celah bukit kemaluannya yang sangat merangsang birahi kelelakianku. Ooouhhh … aku kembali meremas-remas dan memuntir gemas kedua buah dadanya yang montok dan kenyal itu sambil berbisik dalam hati. ” Selamat tinggal perjaka …….”. Ooouuhhh… remasan jemari tangannya membuat air madziku langsung mengalir deras keluar membasahi kepala penisku namun tiba-tiba dengan cepat, jari telunjuk tangan kirinya seolah membendung aliran air madziku yg kental itu sampai menempel di jari telunjuknya. Aku merintih nikmat.

Mbak Marissa tersenyum manis lalu membawa jari telunjuk kirinya yang sudah basah oleh cairan madziku yg kental itu ke mulutnya dan sambil memejamkan mata seolah begitu menikmati, mulut dan bibirnya mulai menghisap nikmat cairan kentalku yang menempel di jari telunjuknya. Astagaaa …. Aku terperangah melihat tingkahnya yg menggemaskan itu …… ” Oouuhh … Marissaa … perjakai aku sekarang ….. oouhh …”, bisikku gemetar tak kuat menahan nafsu. Mbak Marissa membuka kedua belah matanya kembali sambil tersenyum manis memamerkan deretan gigi putihnya. Duh … begitu indah bibir merahnya yg menggemaskan itu. ” Aahhh …”, aku kembali merintih nikmat ketika Marissa kembali meremas batang penisku. ” Alat vitalmu besar sekali Er ….”, bisiknya lembut, lalu kemudian mbak Marissa mengangkat pinggulnya keatas dan sedikit digeser keatas pinggangku sehingga bukit kemaluannya yang besar merangsang itu tepat berada diatas batang penisku yang ngaceng. Perlahan lalu ditempelkannya kepala penisku ke belahan bukit kemaluannya dan diselipkan disitu. Uuuhhhh … begitu lunak dan hangat, jemari kedua kakiku seakan gemetaran menyaksikan pemandangan indah ini, sembari terus diremas-remas dan dikocok perlahan batang penisku yang ngaceng mbak Marissa mulai menurunkan pinggulnya kebawah dan sleppss … kurasakan ujung kepala penisku mulai memasuki sebuah lubang sempit diantara dua bibir labia mayoranya …. ” Uuuugghh …”, bibirku tanpa terasa bergetar menahan sejuta rasa. ” Mmmmm ….uuhhh … iihh ….besar sekali penismu Er …aww ..”, rintih mbak Marissa sedikit kesakitan ketika secara perlahan-lahan kulihat kepala penisku yang sebesar sawo manis itu mulai tenggelam menembus ke dalam liang vaginanya.

” Aaahhhh ….Marissa ….ooouuhhhh”. Aku mengerang merasakan kenikmatan saat liang vaginanya menjepit begitu ketat kepala penisku yg besar. Seakan diremas dan diurut oleh daging hangatnya yang lunak itu. ” Aaahhhh terus mbak … perjakai aku ….ouuuhh …teruss ..yaaahhh …eenaaknya Marissa …oouuhh ….”. Aku menggeliat keenakan. Kupejamkan kedua mataku menikmati sensasi sex yang baru pertama kali kurasakan ini. ” Oowww … Ery …..oouuhh …besar sekali sayang …mmmmhhff ….woowwww …..”, rintih mbak Marissa sembari kurasakan ia terus menekan pinggulnya kebawah. Seakan tiada hambatan dan begitu lancar selain rasa ketat dan hangat yang kurasakan pada separuh batang penisku yang telah berhasil memasuki lubang vaginanya.

” Aaaahhhh …. terus Marissa ….. aaaaahhhh …”, pekikku semakin keenakan. Mili demi mili kurasakan lubang ketat vaginanya semakin dalam menjepit batang penisku. Seakan mencengkeram hebat saking sempitnya. Sekujur tubuhku seolah gemetaran menikmati sensasi sex ini. Kukonsentrasikan seluruh perasaan nikmatku pada jepitan hangat lubang kemaluan mbak Marissa yang secara terus menerus mili demi mili menenggelamkan seluruh alat vitalku. ” Uuuuuuh ….. mmmm … alat vitalmu keras sekali Er …. uuuuh…….” Akhirnya dengan satu hentakan kuat ….amblas sudah seluruh batang alat vitalku tenggelam kedalam liang vaginanya yang sangat ketat dan hangat. Selesai sudah penetrasi pertamaku ini … dan hilang sudah keperjakaanku …mbak Marissa telah merenggutnya dariku …. Aku merintih nikmat merasakan batang penisku sepanjang 16,5 centi itu terjepit begitu hebat …. Seakan diremas, diurut dan dikenyot oleh daging lubang vaginanya yang hangat. ” Woooowww …. Luar biasa sekali Er … penismu benar-benar besar dan panjang sekali sayang …. Uuuuh … ” ” Ooouuhhh …. Marissa ….nikmaat sekali ….. aaaahhhhh …….”, erangku keenakan. Lutut dan sekujur kakiku sampai gemetaran menahan rasa nikmat yg baru pertama kali ini kurasakan. Aku benar-benar tidak menyangka jepitan hangat liang vagina milik mbak Marissa ini sampai membuat jiwaku seakan melayang-layang ke awang-awang. ” Mmmmm … kamu sudah bukan perjaka lagi Ery … “,bisiknya lembut sambil dielusnya pipiku mesra. ” M…mbak …..”, bisikku gemetar keenakan.
” Nggak pa-pa Ery …. wajar untuk pertama kali … mungkin air manimu akan cepat keluar … mmm …kenapa sayang … sempit yaaa …lubang vagina mbak …hik..hik …”, bisiknya mesra setengah menggoda. Aku tak sanggup menjawab lagi selain hanya meram melek keenakan. Sambil setengah tertawa kecil direbahkannya tubuh bugilnya ke badanku sehingga kedua buah dadanya yang sebesar melon itu menekan dan menempel ketat di dadaku yang bidang. Uugghhh …. Nikmat sekali rasanya. Kupeluk gemas tubuhnya yang mulus dan montok itu. Wajahnya yang cantik menunduk ke arahku dan sejenak kemudian kami berdua kembali asyik saling bercumbu bibir. Sementara itu kurasakan kedua paha mulusnya yang mengangkangiku kini menjepit pinggangku dengan ketat.

Aku menggelinjang keenakan merasakan otot-otot daging vaginanya yang menjepit batang penisku seakan memlintir dan meremas begitu ketat. Kupejamkan kedua mataku dan sejenak kemudian kurasakan pinggulnya mulai bergerak turun naik menyetubuhiku. ” Aaahhhh …. ” Aku mengerang-erang keenakan diantara cumbuan bibir mbak Marissa saat liang vaginanya yang sempit dan hangat itu mulai menggesek batang penisku keluar masuk. Woooowwwww ….. rasanya membuat badanku adem panas saking ueeeenaknya. ” Ooouuuhh …. Marissa …….ooouuuuuhhhh …..yaaaaahhh ……ooouuuuhh..”, erangku nikmat. Begitu hebatnya mbak Marissa menggoyang pinggul turun naik tanpa mengenal lelah sedikitpun … Menit demi menit berlalu … waktu serasa begitu panjang dan lama sekali. Kami berdua bercumbu mesra sembari saling mendesah keenakan menikmati pergesekan luarbiasa pada alat kelamin kami yang telah menyatu.

Entah sudah tak terhitung berapa puluh kali liang vagina mbak Marissa menggesek keluar masuk batang penisku yang seolah telah luluh lantak … dijepit, diremas, dipilin-pilin dan dikenyot seperti permen. Begitu hebatnya pinggul mbak Marissa bergerak naik turun menghunjam-hunjamkan seluruh alat vitalku sepanjang 16,5 centi itu ke dalam lubang kemaluannya. Terkadang cepat … terkadang begitu lambat …. bahkan terkadang digerakkan memutar dari kiri ke kanan dan sebaliknya membuat batang penisku seolah diplintir-plintir tak karuan. ” Nnnggghhhh. ….Marissa…..ooouuuuuhhhh ……nikmaat sekali ……aahhh…” ” Uuuhhh …. Eryy …nnnnggghhhh … ” Semakin lama mbak Marissa bergerak semakin cepat menaik turunkan pinggulnya membuat alat vitalku semakin hebat menggesek keluar masuk ke dalam lubang kemaluannya. Buah zakarku sampai terguncang-guncang saking kuatnya mbak Merisa menghentak kebawah. Aku merasa tak ada lagi batang penisku yang tersisa diluar karena begitu mbak Marissa menghentakkan pinggulnya kebawah seluruh batang penisku serasa dicengkeram hebat oleh daging hangatnya sampai kandas.

Jiwaku seakan berkelojotan merasakan nikmatnya senggama yg sangat luar biasa ini. Sambil saling berpelukan erat kurasakan mbak Marissa merintih dan mengerang semakin keras. ” Oooooouuuuuuhhhh ….Eryyyy ….. oooouuuuuuuhhhhh …… oouuuuuuhhhhhh….” Aku menduga mbak Marissa sebentar lagi akan orgasme ….. wooooowwwww ……. Benar saja…. Semenit kemudian kurasakan otot-otot daging vaginanya tiba-tiba menjepit alat vitalku dua kali lebih hebat membuatku sampe merem melek keenakan. Sekujur tubuhku sampe gemetaran menahan rasa nikmat yang tak terkira. Setengah menit kemudian tiba-tiba tubuh mbak Marissa terasa kaku dan kedua pahanya yang mulus itu diluruskan kesamping kiri dan kanan sambil mengejan kuat berulang kali. Aku sendiri ikut-ikutan kelojotan seperti cacing kepanasan merasakan liang vaginanya bagaikan mesin penjepit yg luar biasa kuatnya … seakan diremas-remas dan dikenyot habis-habisan alat vitalku yang sudah ‘over heat’ itu. Mbak Marissa mengerang panjang sambil mengejan-ngejan nikmat berulang-ulang … sejenak kemudian kurasakan seluruh batang penisku seperti disiram cairan hangat banyak sekali. Wooowwww … ambooi rasanya. ” Ooouuhhhh Eryyyyy ….. oooouuuuuhhhhhh ……….”, pekiknya nikmat di puncak orgasme keduanya.

Beberapa detik kemudian mbak Marissa akhirnya terdiam kelelahan. Lubang kemaluannya masih menjepit batang penisku sampai kandas. Panas rasanya alat vitalku dijepit dan digesek seperti tadi. Kupeluk dan kubelai mesra pinggang dan punggungnya yang putih mulus menetramkan perasaannya yg baru terpuaskan. ” Kau puas Marissaku …..”, bisikku penuh kasih sayang. Ia mengangkat wajahnya yang tampak basah berkeringat dan letih. Bibirnya yang merah tersenyum manis penuh kepuasan yg tak terkira. ” Ery …. oohh ….. kau kuat sekali Ery …. kamu sendiri belum juga keluar sayang …ohhh ….kau hebat Ery … mmm .. cupp …cuppp ..”, katanya pelan sambil mengecup bibirku penuh kemesraan. Aku tersenyum bangga, aku sendiri juga tak mengira dapat mengimbangi bahkan lebih tahan lama saat bersenggama dengannya tadi. Padahal jepitan dan gesekan liang vaginanya luar biasa ketat dan nikmatnya. ” Fiiiuuhhh .. Marissa …. ulangi seperti tadi lagi … biar kusemprotkan air maniku ke lubang kemaluan … mmbbfff..”. Mbak Marissa membungkam mulutku yg ngeres itu dengan jemarinya yang lentik. ” Iiiiihh …. Kamu Ery …..ngomongnya kok kotor begitu …?”, katanya protes. ” Eee … tadi mbak Marissa khan juga ngomong jorok …”, sahutku juga protes. ” Masa iya …sayang …”, bisiknya tak percaya.

Kami berdua ketawa cekikikan sampe akhirnya mbak Marissa kembali menggoyang pinggulnya turun naik menyetubuhiku. Menghunjam-hunjamkan kembali seluruh batang alat vitalku ke dalam liang vaginanya yang hangat dan sempit. Aku kembali merem melek dan mengerang-erang keenakan. Sebaliknya mbak Marissa yg sudah terpuaskan kini hanya tersenyum sambil memandangiku yg sedang mendesah nikmat. ” Uuuuhh .. Ery … keras dan panjang sekali penismu sayang ….uuuuhhhh …. ayo sayang … keluarkan air manimu ….uuuuhh …..”, bisiknya penuh gairah nafsu. Aku masih sempat tersenyum geli diantara desah kenikmatanku mendengar ucapannya. ” Aaaahh … Marissa-ku ……teruss …sayang ….ooohhhgg ….aaaahhh …..yaaaahhh ….. terus … Marissa-ku …mmmm ….oouuhhhgg … nikmat sekali sayang ….mmm”, erangku keenakan.

Begitu sabar dan hebatnya mbak Marissa menggoyangkan pinggulnya naik turun memuaskan nafsu kelelakianku yang belum tuntas. Digoyangkannya pinggulnya kekiri dan kekanan sambil dibawa turun naik membuat alat vitalku seakan dihisap, dibetot, dikenyot dan diplintir-plintir hebat oleh liang vaginanya itu. Uughh ….. Aku menggeram menahan rasa nikmat dan kurasakan juga akhirnya air maniku yg mulai bergerak naik hendak muncrat keluar. Sekujur tubuhku yang sedang disetubuhinya mulai menggelepar pertanda puncak kenikmatan enjakulasi sudah dekat. ” Oooouuuhh ….. terus Marissa-ku …. yaaahhh …. sedikit lagi sayang …ngggggghhh ….ooooouuhhhh …. yaaahh … Marissa-ku …. k..kau hebaat sayang …nggghh ..yaaahh ….sedikit lagi air maniku kek …ke …luar sayang ….ooouuuhhhh ……” Mbak Marissa semakin bersemangat melihatku mulai hendak enjakulasi, pinggulnya digerakkan semakin ganas naik turun sambil digoyangkan memutar seolah hendak memlintir dan memerah alat vitalku yang sudah hendak muncrat.

Begitu hebatnya jepitan liang vaginanya mengocok batang penisku sampai-sampai aku sendiri tak sanggup menanggung rasa nikmatnya yang sangat luarbiasa. ” Uuuuuhh ….ayo Ery ….. keluarkan air manimu sayang ….uuhhhh ….”, bisiknya genit sambil sesekali mengecup bibirku gemas. ” Ooouhhh … yaaaahhhh ….. mau keluar nih Marissaa ….aaaaahhhhh ……”, teriakku keras sekali. Segera kupeluk erat pinggul montok aduhai-nya yg masih terus bergerak turun naik menyetubuhiku lalu secepat kilat segera kugulingkan tubuhnya kesamping sehingga kini gantian badanku yang menindih tubuh montoknya. Mbak Marissa memekik kecil kaget melihatku begitu perkasa dan ganti menindihnya, dengan mesra kedua pahanya yang sangat mulus itu diangkat keatas dan menjepit pinggangku kuat. Seluruh batang penisku seakan tertancap kandas kedalam lubang kemaluannya yang masih menjepit dengan hebatnya. ” Uuuuhhhh kau kuat sekali Er ….mmm ….benar-benar laki-laki idaman …uuuuuw …”, bisiknya manja.

Mbak Marissa tidak tau kalo air maniku sebenarnya sudah berada dileher kepala penisku siap untuk kusemburkan keluar, namun aku sengaja masih menahannya sejenak sekuat tenaga. ” Aaaahhh …Marissa-ku sayang …. kau ingin anak laki atau perempuan …?”, bisikku gemas menahan rasa nikmat. ” Iiiihhhh …. hik …hik … kau ini ngomong apa sih …. mmmm …. laki-laki saja Ery sayang …. supaya tampan seperti kamu …mmm..”, bisiknya mesra. Aku mendelik nikmat saat tiba-tiba kurasakan liang vaginanya sedikit menyempit, alat vitalku yang sedang diujung enjakulasi itu langsung collaps … Dan Craatttttt …….. ” Aaaaaaaaaaaagggghhhh ………..”. Aku menggeram nikmat ke puncak enjakulasi. Kukecup bibir mbak Marissa lembut lalu bersamaan dengan itu mulai kusemburkan air maniku ke dalam lubang kemaluannya yang menjepit nakal batang penisku itu.

Mbak Marissa memekik kaget saat dirasakannya air maniku menembak dengan kuat ke dalam rahimnya yang sangat terlarang. Kedua jemari tangannya langsung mengusap-usap dan meremas-remas pantatku agar aku lebih nikmat memuntahkan air mani kedalam lubang kemaluannya. Craaattt ….. cruuuuutttt ……. Cratttt ………. Crruutttt…….. cruuuuutttttt …….. Semburan demi semburan kuat air maniku mulai keluar memenuhi liang vagina mbak Marissa. Sungguh tak terperikan rasa nikmat yg kurasakan. Jiwaku seakan ditarik keatas awang-awang terbang ke dalam sorga kenikmatan yang luar biasa. ” Ooowww ….Eryy … iiihhh …. ooowww ……banyak sekali sayang … mmmm ….uuuuuhhh …terus sayang ….mmmm …. aaahhh kental sekali air manimu sayang ….mmmmm …”, bisiknya penuh gairah. Gantian kini pinggulku yang kugerakkan turun naik menyetubuhi mbak Marissa.
Kuhunjam-hunjamkan secara perlahan alat vitalku yang sedang enjakulasi kedalam lubang kemaluannya yang hangat dan sempit. ” Oouuhh…. Marissa-ku ……nggghhhhhggghhh …. nikmatnya sayang …ngggggghh…..”, erangku melepas rasa nikmat yang tak terkira. Begitu hebatnya liang vagina mbak Marissa menjepit alat vitalku … memerah air maniku yang terus menyembur-nyembur tak henti-hentinya. Saking banyaknya air maniku yang keluar sampai pergesekan batang penisku dengan liang vaginanya jadi bertambah licin dan mantap. Kukecup dan kukulum bibirnya yang merahnya sepenuh perasaan. ” Nnnnghh … Ery … banyak sekali air manimu sayang … uuhhh … yaaahhh … terus sayang … uuhhh … semburkan lagi sayang …. uuuhh ….”, bisiknya manja menikmati tubuhnya yang sedang kusemai dengan bibit-bibit calon manusia itu. ” Oouuuuhhhh ……. Marissaa ……”, keluhku nikmat merasakan alat vitalku masih juga terus menyemburkan air mani. Crreeetttttt …..crrretttttttt………..c retttrrrrt …………

Aku tak tahu lagi sudah berapa semburan yang kutumpahkan kedalam liang rahimnya, yang kurasakan hanyalah betapa kenikmatan yg sedang melanda tubuhku itu seakan membuat jiwaku seakan ringan saja terbang ke atas sorga. Secara teratur dengan ritme tetap aku masih menaik turunkan pinggulku terus menyetubuhi mbak Marissa. Begitu nikmat mengeluar masukkan alat vitalku yang masih memuntahkan cairan sperma itu menggesek daging liang vaginanya. Begitu ketatnya lubang kemaluan mbak Marissa mengocok-ocok batang penisku dan menyedot spermaku keluar. ” Ooouuhhh … sudah .. Marissa sayaang … air maniku jangan disedot lagi ….”, bisikku ditelinganya sembari meringis nikmat. Marissa ketawa cekikikan … ” Iiiihhh …. nakal .. siapa yang nyedot … penismu aja yang ngocor terus …hik ….hik … uuuuhh … banyak sekali sih Er …. hik..hik… kamu minum apa sayang bisa sebanyak ini …”, sahutnya manja. ” Sperma Tarzan …..”, ujarku sekenanya. ” Iiiiihh …. jorok aahh …. hik ..hik …”, pekiknya kaget. Akhirnya kurasakan ludes juga air maniku disedot lubang kemaluan mbak Marissa.

Namun pinggulku masih terus bergerak turun naik menyetubuhinya seakan tiada rasa puas dalam hatiku untuk terus menggeluti tubuh mbak Marissa yang montok dan bahenol ini. Ia sampai merintih-rintih kecil melihatku seolah semakin bertambah ganas mengeluar masukkan alat vitalku yang masih over voltage menggesek liang vaginanya sampai kandas. ” Aduuh …. Ery … sudah ah …. berhenti dong …. masih belum puas juga sih … mbak bisa pingsan nih .. kecapekan ..hik …hik ..”, keluhnya manja. Enjakulasiku berakhir sudah. Begitu luar biasa nikmatnya. Perasaanku sekarang seolah begitu ringan. Seolah tiada beban. Begitu tentram dan damai. ” Nnnnngghhhh ….. Marissaku …. Isteriku …. nnnggghh ….pinggulku nggak bisa berhenti nih …. remnya blong ….”, bisikku gemas. ” Iiiiihhhh …. Ery …. sudah ah ….hik …hik …. nakal sekali kamu sayang …. aduuh … kemaluanku sakiit Er …”, rintihnya kesakitan. Jemari tangannya dengan gemas mencubit pantatku yang masih bergerak turun naik menyetubuhinya. ” Eryyyyy ….. udah dong …. hik …hik … aawwww ….. sakit sayang …. jangan cepat-cepat masukinnya sayang …. aaawwww …”. Mbak Marissa semakin merintih kesakitan. Aku tak peduli karena aku semakin gemas dan bernafsu mendengar rintihannya yang merangsang itu. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang kurang lengkap dalam tubuhku.

Alat vitalku terasa masih sedikit gatal-gatal dan masih ngaceng seolah masih menyimpan keinginan yang terpendam. ” Aduuuhh … Eryyy …. iiiiihhhh … udah ah sayang …. nnggggghhhhhhh ….”, bisiknya lirih. Namun diakhir ucapanya itu aku merasa mbak Marissa mulai merasakan kenikmatan lagi. Mmmmm …. Aku semakin bersemangat menggoyangkan pinggulku yang sebenarnya sudah ‘letoy’ itu turun naik dengan mantap. Bagaimanapun aku juga tak ingin terlalu terbawa ego-ku sendiri. Kuatur gerakan pinggulku turun naik dengan kecepatan sedang sehingga hunjaman alat vitalku ke dalam lubang kemaluannya yang sempit itu tidak terlalu membuatnya sakit namun sebaliknya memberinya rasa nikmat. ” Marissa-ku … air maniku mau keluar lagi ni ….”, bisikku mulai merasakan kenikmatan senggama itu kembali. ” Ooouuhhh … Ery …. k …kau luar biasa sayang …. nnnggngggghhh … terus sayang … jangan berhenti ….oouuhhh ….”, bisiknya sembari menikmati genjotan alat vitalku yang mulai menggelitik clitorisnya ke sorga kenikmatan. Kedua pahanya yang mulus kembali menjepit pinggangku erat.

Kedua tangannya memeluk tubuhku mesra dan jemari tangannya mengelus mesra punggungku yang berkeringat basah. Bagaikan seekor kuda liar tanpa mengenal lelah sedikitpun aku terus menggoyang pinggul turun naik menyenggamai bidadari cantik mbak Marissa. Begitu nikmat dadaku yang bidang menindih kedua bulatan payudara raksasanya yang kenyal dan padat itu. Kedua puting susunya terasa keras dan runcing menusuk kulit dadaku. Geli-geli rasanya. Kami saling bercumbu bibir sembari menikmati rasa nikmat pergesekan alat kelamin kami yang saling beradu untuk mencari kenikmatan sorga dunia. ” Eryyy …aahh …cupp …cuppp … oouuhhhh …. terus sayang ..jangan berhenti …. sedikit lagi ….ooouhhh…. yaaahh …nggggghhh …..ooowwww …”, rintih mbak Marissa nikmat. Akupun demikian, aku mulai merasakan kenikmatan sex yang luar biasa. Dan kali ini ternyata berlangsung begitu lama. Mungkin sekitar setengah jam-an lebih karena kami berdua sudah sama-sama terpuaskan tadi, tetapi justeru terasa jauh lebih nikmat. Kami berdua bisa sama-sama berkonsentrasi dan merasakan secara lebih mendalam dan lebih menjiwai persenggamaan ini.

Setiap mili alat kelamin kami saling menggesek, kami bisa merasakan nikmatnya itu sampai ke tulang sumsum. Sehingga tidak heran kalo persenggamaan ini berlangsung sangat lama, karena mbak Marissa semakin keenakan bila alat vitalku kukeluar masukkan secara perlahan kedalam liang vaginanya. Ia sampai melenguh panjang keenakan ketika kubenamkan secara perlahan batang penisku kedalam lubang kemaluannya sampai kandas, begitu pula ketika kutarik batang penisku itu pelan-pelan keluar dari lubang kemaluannya sampai-sampai ia menggigit pundakku karena gemas. ” Aaahhh … Eryyyy …. nnggghhh …. nikmaatnya sayang …. terus sayang ….ulangi lagi …..aaaahh …..uuuuhhhh ……yyaaaaahhhh ..mmmm …”, rintihnya. ” Marissa-ku …aaahhh … kita keluarkan sama-sama ……”, bisikku menahan rasa nikmat yang sudah mulai memuncak. ” Nnnggghhh …. i..iyaaa…. sayang …. aaahhh ….aku sudah mau keluar …nggghhh …..lekas Eryyyyy …..”, bisik mbak Marissa ke telingaku ketika dirasakannya puncak orgasmenya sudah sampai. ” Aaaaahh ….tung .. gu sebentar Marissa …….eegggghhh …..aaaaaaahhhhhh …. ayo Marissaa …sekaraaaannggggg ……”, erangku nikmat ketika enjakulasi-pun akhirnya terpuaskan untuk kedua kalinya. Kali ini agak
kupercepat goyangan pinggulku agar alat vitalku dapat menggesek liang vaginanya lebih hebat, sehingga puncak kepuasan sex itu lebih terasa nikmat. Dan …sambil berpelukan mesra, akhirnya kami berdua saling mengerang-erang dan menggeliat-geliat melepas puncak kenikmatan itu bersama-sama. Tubuh kami berdua saling mengejan saking tak kuatnya merasakan rasa nikmat yang luar biasa. Otot-otot liang vagina mbak Marissa menjepit alat vitalku dua kali lebih ketat membuat air maniku sontak kembali menyembur-nyembur keluar dengan hebatnya. Crrrettt ….. cccrrrooot ……… crreeeeettttt ……….. Crrreeeettttt ……… ” Marissaaaaaaaaaaaaa …………………aaaaagggh hh ” ” Eryyyyyyyyyyyy ………… nngggghhhhh ” Kami berdua sama-sama memekik-mekik nikmat. Seakan terbang saja jiwaku terhempas kedalam pusaran kenikmatan yang tiada tara. Cairan lendir mbak Marissa terasa menyembur lemah membasahi dan menghangati seluruh alat vitalku yang terbenam kandas dalam liang kemaluannya. Cruuuoooottttttt ………..crreeetttt ….. Air maniku kurasakan mulai menyembur lemah dan akhirnya terasa ludes tak tersisa lagi. Kantong zakarku seolah kopong karena isinya telah terkuras, disedot kemaluan mbak Marissa. Tak terasa begitu cepat sekali rasa nikmat itu berakhir, pinggulku terhempas lunglai diatas tubuh mbak Marissa. Alat vitalku seakan terbenam dalam lautan air mani didalam liang vaginanya. Kurasakan
batang penisku itu mulai bergerak menyusut didalam situ. Loyoo. Mbak Marissa menciumi bibirku dengan gemas. Berkali-kali mulutnya mengulum bibirku sampai lama sekali. Dari wajahnya terbayang betapa sangat puasnya dia malam ini. Begitu terlihat cantik dan alami meski tampak basah berkeringat. Kedua matanya yang kelihatan sedikit letih memandangku mesra. ” Ooh …Eryy …. aku benar-benar puass sekali … kau jantan sekali sayang … mmmbbff ….cupp …cuupp ….”, katanya gemas. ” Aku juga Marissa …. begitu nikmat sekali ….mmm …. indah sekali Marissa …..”, bisikku letih. Lima menit kemudian aku melungsur keluar dari tubuh mbak Marissa dan tergeletak lemas disamping tubuh bugilnya. Malam itu aku menginap di tempat Mbak Marissa sampai pagi, namun sebelum tidur aku masih sempat mengintip lagi ke kamar si Agus dan benar saja kulihat mereka memang sedang tertidur lelap kecapekan dan masih telanjang bulat, hanya edannya kulihat alat vital si Agus yang sudah loyo itu ternyata masih menancap di lubang dubur Farida. Mungkin mereka sempat maen ( sodomi ) lagi ketika kutinggal tadi.

Dari sela-sela paha Farida yg putih mulus kulihat leleran cairan kental berwarna putih ( seperti buih ) banyak sekali. Mungkin air mani si Agus yg tumpah keluar dari dalam liang kemaluan Farida. Sampai sekarang hubungan sex ini masih tetap berlangsung. Dan seperti yg telah saya duga sebelumnya mbak Marissa saat ini telah menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Entahlah bagaimana selanjutnya aku masih bingung,hanya saja mbak Marissa mengatakan supaya aku jangan khawatir mengenai kehamilannya karena ini katanya sudah menjadi tanggung jawabnya bersama suaminya nanti ( edaan nggak ), tapi entah bagaimana reaksi suaminya. Ketika sahabatku Agus kuceritakan tentang hub.sex ku ini, semula ia tak percaya sama sekali dan menuduhku ngayal. Namun suatu malam yg telah kurencanakan, ia kusuruh mengintipku dan baru benar-benar percaya ketika kusetubuhi mbak Marissa untuk ke-29 kalinya. He…he… katanya ia sampai sempat onani segala melihat tubuh mbak Marissa yg begitu indah mulus dan montok, bahkan gilanya ia masih sempat merekam adegan persetubuhan kami itu dgn handycam-nya selama kurang lebih 10 menit. Ada kejadian lucu pada beberapa hari yg lalu ketika suatu siang sehabis pulang dari kampus, aku benar-benar tak dapat menahan kerinduanku pada mbak Marissa, sambil sedikit setengah memaksa, aku meminta mbak Marissa memenuhi keinginan sexualku.

Meski pada mulanya ia menolak karena sikon yg tak memungkinkan disaat kegiatan salonnya yg sedang ramai namun akhirnya ia mau juga, mbak Marissa mengajakku melakukannya di dapur saja daripada di kamarnya dan ia menyuruhku melakukannya dengan cepat karena takut ketahuan pegawai salon. Ketika kami melakukan persetubuhan itu, masih dengan pakaian lengkap. Mbak Marissa hanya menarik turun celana jeans dan CDnya sebatas paha, begitu pula denganku hanya kuplorotkan sebatas paha pula. Mbak Marissa menyuruhku agar melakukannya dari sebelah belakang, dan ia lalu berdiri agak setengah membungkuk membelakangiku diatas sebuah meja di dapur. Alat vitalku yang sudah sangat ngaceng itu kuselipkan diantara kedua belah paha mulusnya dan menembus labia mayoranya yang tebal merangsang. Hanya kurang dari 10 detik, seluruh batang penisku sepanjang 16,5 centi itu telah kubenamkan seluruhnya kedalam liang kemaluannya yang hangat dan sempit. Sambil kuremas gemas kedua belah payudara montoknya dari belakang, aku mulai asyik menggoyang pinggul menyetubuhi mbak Marissa. Namun kenyataan berkata lain, 20 menit kemudian yang kebetulan sekali saat itu kami berdua sudah hampir sampai ke puncak kenikmatan secara hampir bersamaan. Ketika tiba-tiba salah satu pegawai mbak Marissa yaitu Sherly nyelonong masuk ke dapur hendak mengambil gelas untuk minum. Kami berdua terhenyak kaget, begitu pula dengan Sherly.

Begitu kagetnya mbak Marissa sampai lubang vaginanya mengerut mengecil menjepit alat vitalku yg saat itu sedang mendekati klimaks-nya, prrttt .. rasanya jepitannya yg luarbiasa membuat alat vitalku langsung muncrat memuntahkan air mani kedalam lubang kemaluannya. ” Eeeehhh … mbak …. Maaf …!!”, pekik Sherly kaget setengah ketakutan melihat kami berdua sedang berhubungan intim. ” Sherlyy ..!!!”, pekik mbak Mbak Marissa pula. Sebaliknya aku malah meram melek keenakan merasakan air maniku yg menyembur-nyembur hebat kedalam liang kemaluan mbak Marissa. Rasa nikmatnya membuatku seakan tak peduli dengan kejadian mengejutkan itu. ” Ma … maaf m ..mbak …. Saya mau ambil gelas …..”, seru Sherly masih kaget. Sejenak mbak Marissa akhirnya dapat menguasai keadaan. ” Ya sudahlah … Sherly .. lekas ambil sana …”, ujar mbak Marissa setengah ketus.

Sherly langsung ngibrit keluar begitu benda yg dicarinya sudah didapat. Kami berdua saling ketawa cekikikan mengingat kejadian lucu tadi, lalu melanjutkan lagi permainan sex kami yg sempat terganggu 1 ronde lagi. Sejak kejadian itu Sherly semakin berani menggodaku dan hampir tiap hari ia menelpon mengajakku pergi menemaninya ke diskotik. Saya tahu ia pasti punya hasrat lain selain hanya sekedar pergi ke diskotik. Aku masih belum mengiyakan permintaannya, berhubung sebenarnya saya sedang naksir pada Silvy yaitu salah satu pegawai mbak Marissa yg lain, orangnya setahun lebih tua tetapi masih imut2 dan manis seperti Deyana Lomban ( atlet badminton ) dan saat inipun hubungan kami sudah dapat dibilang pacaran, hanya saja sedikit ngeri juga mengingat kejadian ketika Sherly memergokiku sedang bersetubuh dgn mbak Marissa. Aku khawatir Sherly mengadukan soal ini kepada Silvy. Kadang terpikir olehku untuk mengiyakan saja kemauan Sherly menemaninya ke diskotik atau menggagahinya sekalian untuk sekedar tutup mulut ( kalo perlu ) … ha …ha….

image hosted by ImageVenue.com

Yu Neem Pembantuku

111
Filed under Setengah baya

AKU terjaga saat kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakiku.
Gusbangun, sudah sore. Mandi dulu. Ayo. bangun. Aku terbangun. Yu Nem berdiri di ujung tempat tidurku. Tangan kanannya mengguncang-guncang kakiku. Aku meliukkan badan, dan mataku terpejam lagi.
Heeeh. ayo bangun. Mandi dulu, Yu Nem kembali mengguncangkan kakiku.
Aku membalikkan badan. Enak sekali tidurku. Rasanya masih ingin tidur lagi. Kulirik jam dinding menunjuk pukul 4 sore lebih.
Bu Lik sudah pulang, Yu? tanyaku. Yu Nem menggeleng, dan kembali memintaku mandi. Oh ya, umurku waktu itu masih 12 tahun, masih kelas 6 SD. Yu Nem adalah salah satu pembantu kami
Umurnya sekitar 30 tahun. Dia sudah lama ikut kami. Dia satu dari tiga pembantu kami. Yu Nem bertugas melayani keperluanku dan keperluan Bu Lik. Mulai dari mempersiapkan keperluan mandi, makan, apa saja. Karena itu aku lebih dekat dengan Yu Nem daripada dengan Mbah Karso atau Yu Parmi.
Bu Lik kok belum pulang to Yu? tanyaku. Yu Nem duduk di tepi ranjang.
Mungkin sampai malam. Kan kulakannya ke Praci.
Bu Lik adalah pedagang hasil bumi. Selain menerima setoran hasil bumi dari para petani, seringkali Bu Lik hunting dagangan sampai ke kota-kota kecamatan. Sesekali aku diajak.
Ayo mandi dulu Gus, kata Yu Nem. Aku pun beranjak. Yu Nem mengangsurkan handuk, dan aku menuju kamar mandi. Yu Nem mengikutiku.
Kok sepi? tanyaku.
Mbah Karso sama Parmi lagi nagih.
Mbah Karso dan Yu Parmi adalah dua pembantu kami lainnya. Beberapa pengrajin tempe dan tahu seringkali ambil kedelai dari Bu Lik, dan bayarnya beberapa hari kemudian. Para pembantu kami seringkali yang disuruh menagih.
Selesai mandi, ini yang tak aku sangka-sangka, Yu Nem bertanya, Kangen sama Ibu ya? Ibu yang dimaksud perempuan itu adalah Bu Lik. Pertanyaan Yu Nem bernada menyelidik, sedikit meledek. Dia tersenyum penuh arti. Aku menyambar koran, dan duduk di bangku teras. Aku paling sedang komik serial Tarzan. Biasanya sore begini aku membaca bersama Bu Lik. Yu Nem di sebelahku.
Ayo cerita dong Gus, katanya.
Cerita apa?
Cerita Gus sama Ibu. Aku terperanjat. Yu Nem tahu kok Gus. Mbah Karso, Parmi juga tahu. Tapi tenang saja, rahasianya aman.
Aku benar-benar mati kutu. Rupanya perzinaanku dengan Bu Lik sudah diketahui ketiga pembantuku.
Kalau sudah tahu ya sudah. Napa suruh cerita, sahutku agak kesal. Yu Nem tersenyum.
Pengin denger saja. Sudah pinter ya Gus?
Apaan sih? aku terus menatap koran, tapi pikiranku agak kacau.
Ehh tapi jangan bilang ke Ibu yaa kalau kami sudah tahu. Aku diam saja. Bener lho jangan bilang. lalu Yu Nem pergi.
Malamnya, aku belajar ditunggui Yu Nem. Dari dulu memang begitu. Kalau Bu Lik kecapekan dan tak bisa menunggui belajar, disuruhnya Yu Nem menungguiku. Waktu kelas satu sampai kelas dua SD perempuan itu malah kerap membantuku mengerjakan PR atau membantuku membetulkan cara membaca. Tetapi setelah kelas enam, dia mulai tidak bisa mengikuti pelajaranku. Maklum, dia cuma sekolah sampai kelas empat SD.
Sekitar jam 9 aku mulai ngantuk dan menyudahi belajar. Yu Nem membantu mengemasi buku-bukuku. Aku pun beranjak ke kamar.
Mau ditemani bobo ndak Gus? tiba-tiba Yu Nem bertanya. Dulu waktu masih umur 7-8 tahun aku sering tidur dikeloni Yu Nem. atau Bu Lik Tapi semenjak kelas lima, aku sudah tidur di kamar sendiri. Entah kenapa, rasanya pengin juga seperti dulu, tidur ditemani Yu Nem. Beda dengan Bu Lik, Yu Nem kalau ngeloni suka sabar. Sering mendongeng sambil mengusap-usap penggungku, dan aku memainkan ujung sikunya. Sampai tertidur.
He-eh kataku.
Aku merebahkan tubuh di ranjang. Yu Nem juga rebahan di sebelahku. Kami tidur satu bantal karena memang hanya ada satu bantal di tempat tidurku. Aroma perempuan ini belum berubah. Rambutnya berbau minyak cem-ceman. Minyak ini terbuat dari minyak kelapa dicampur daun pandan dan rempah-rempah lain. Dia mengenakan kemeja lengan pendek, dan jarik yang digulung sebatas pusar. Semua pembantuku kesehariannya ya begitu. Jariknya sedikit di bawah lutut.
Yu Nem meraih tubuhku, dan mengelus-elus punggungku.
Sudah lama ya Gus, ndak bobo sama Yu Nem. Wajahku hanya beberapa inci dari wajahnya. Terasa lembut nafasnya. Bau nafasnya gurih. Rasanya amat menenteramkan.
He-eh, sahutku pendek sambil memejamkan mata.
Berapa kali gituan sama Ibu? pertanyaan itu menyentakkanku, menghilangkan kantuk. Ndak pa-pa cerita sama Yu Nem. Dia menunggu reaksiku. Tangannya masih mengelus-elus punggungku. Sudah ndak kehitung ya? Ati-ati ya Gus, nanti kayak Gus Bambang, ketahuan terus diusir. Semua kena malu.
Memangnya Mas Bambang juga gituan sama Bu Lik? tanyaku ingin tahu. Aku memang mendengar selentingan kasus itu. Tapi karena umurku yang belum cukup mampu mencerna pembicaraan orang, aku tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Iya. Dasarnya Gus Bambang ndak bisa menjaga rahasia, jadi yaa rahasianya kesebar. Lalu Yu Nem bercerita panjang lebar tentang skandal Bu Lik dengan Mas Bambang, sepupuku yang berarti juga masih keponakan Bu Lik. Yu Nem juga bercerita bagaimana Mas Bambang pun pernah meniduri Yu Nem dan Mbah Karso.
Yu Nem kok mau?
Yaa ndak berani nolak to Gus, jawabnya.
Berapa kali Yu?
Ahh banyak. Lalu Yu Nem memintaku bercerita tentang perzinaanku dengan Bu Lik.
Malu Yu ahh, sahutku.

Kok malu, Yu Nem juga sudah cerita. Lama aku terdiam.
Ayo cerita. Yu Nem mencubit hidungku. Pertamanya dipaksa ya?
He-eh, sahutku. Yu Nem tertawa kecil.
Lama-lama Gus yang minta?
Ndak. Ndak berani to Yu.
Disuruh cium-cium anunya Ibu juga?
Ihhh kok Yu Nem .
Dulu Gus Bambang suka cerita kok. Aku heran, kok Mas Bambang bisa cerita ke Yu Nem. Pantesan affairnya dengan Bu Lik terbongkar dan menggegerkan keluarga besar Bu Lik.
Gus ketagihan ndak? Kalau pas pengin gimana? Kan ndak berani minta ke Ibu?
Ya diem. Ditahan. Yu Nem terkikih.
Minta sama Yu Nem to, kayak Gus Bambang.
Idiih. Yu Nem tertawa kecil.
Sekarang lagi pengin ndak? Aku diam tak menjawab.
Mumpung ada Yu Nem Kalimat itu membuatku tergetar.
Yu Nem mau kok Gus. Tiba-tiba kurasakan elusan Yu Nem terasa aneh. Membuat bulu-bulu di tubuhku meremang. Darahku berdesir. Dan tak kuduga, Yu Nem mencium bibirku. Lembut. Lidahnya menerobos ke dalam mulutku, mencari-cari. Dihisapnya bibirku, dicarinya lidahku. Kami berpagutan. Tangan Yu Nem berpindah ke perutku, mengusap, meremas, dan menerobos masuk ke celana.
Sama Yu Nem ya Gus?
Tanpa menjawab aku membuka kancing baju Yu Nem, dan mengeluarkan sepasang tetek dari dalam kutangnya. Aku menghisapnya, memilin dan menggigitnya. Yu Nem mendesah-desah. Tangannya meremas penisku. Disingkapnya jariknya hingga menampakkan paha yang padat dan mulus. Dia lepas CD-nya, dan meraih tanganku, dibawanya ke selangkangan. Lalu dilepasnya celanaku.
Terasa penisku masuk ke dalam mulut hingga terdengar bunyi yang menggairahkan. Crop.cropp.
Yu Nem memutar tubuhnya, mengarahkan vaginanya tepat di depan mulutku. Lalu ditekannya pinggul, hingga vagina itu menempel di mulutku. Refleks lidahku terjulur. Yu Nem mengerang keras. Di tekan lagi, dan digoyangkannya pantat bulat itu. Aku coba menghindar karena nafasku jadi sesak. Tapi Yu Nem kembali menekan sambi terus melumat penisku dengan rakus.
Perempuan itu adalah janda yang sudah lama cerai dari suaminya. Mungkin dia memang sangat butuh sentuhan seperti halnya Bu Lik. Bedanya, Bu Lik bisa melampiaskan ke aku atau Mas Bambang, dan mungkin ke lelaki lain. Sedangkan Yu Nem, mana bisa. Kini di hadapannya ada aku. Lelaki kencur tapi sudah mahir bersenggama.
Yu Nem mengangkat pantatnya, dan Gus digigit itilnya. Aku menggigit lembut itil itu. Aromanya memang tidak sewangi vagina Bu Lik. Tapi sangat terasa lubangnya masih sempit. Vagina yang belum pernah mengeluarkan bayi. Yu Nem kembali mengerang. Penisku disedot kuat-kuat. Aku lap vaginanya yang basah lendir bencampur ludahku dengan ujung jariknya, lalu kujilat-jilat lagi. Nafsuku sudah sampai di ubun-ubun. Yu Nem membalikkan badan. Dipegangnya penisku dan diarahkan ke lubang vaginanya. Samar-samar aku lihat wajahnya meringis seperti menahan sakit. Dia berhenti sejenak, lalu mencoba menekan vaginanya. Ujung penisku mulai masuk. Dia kembali mendorong sehingga seluruh penisku masuk. Aku tidak tahu kenapa vagina Yu Nem begitu sempitnya, sampai-sampai penisku yang sebenarnya tidak besar pun sulit masuk. Maklum umurku masih 12 tahun, dan belum disunat.
Begitu seluruh penis tenggelam dalam vaginanya, Yu Nem menggereng. Seperti suara kereta api. Dia mencengkeram lenganku. Ditekannya tubuhnya seolah ingin menelan habis tubuhku. Digoyang-goyang tubuhnya.
Ahh Yu Nem memang tidak semahir Bu Lik. Ketika dengan Bu Lik, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa sehingga cepat sekali keluar. Seringkali ketika ronde kedua baru Bu Lik mencapai puncaknya. Kini Yu Nem sepertinya sudah sampai di puncak, sedangkan aku belum apa-apa. Perempuan itu lemas di atas tubuhku.
Gus belum keluar?
Belum.
Dia membalikkan badan, telentang, dan memintaku menaiki tubuhnya.
Pelan-pelan ya? katanya sambil mengarahkan penisku ke lubang vaginanya. Aku menekan penisku. Yu Nem merintih menahan sakit. Dia memintaku pelan-pelan. Belakangan baru aku tahu, rasa sakit itu dikarenakan dia sudah lama tidak gituan, sehingga lubang vaginanya seperti menyempit.
Ketika seluruh penisku berada dalam cengkeraman vaginanya, akupun mulai memompa. Mula-mula dia terlihat pasif. Tetapi lama-lama kurasakan dia kembali terangsang dan mengimbangiku. Keringatnya bercucuran, menimbulkan aroma yang menyengat. Dalam kondisi normal mungkin aku muak dengan bau itu. Tetapi di tengah nafsu yang menjeratku, aku sangat menikmati aroma itu. Bahkan kemudian kuangkat tangannya sehingga nampak sepasang ketiak yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat. Aromanya benar-benar menyengat tajam. Aku benamkan wajahku ke ketiak itu. Dia menggelinjang menerima jilatanku. Aku terus menggenjot dengan hebat.
Ohhh Gus Yu Nem ndak tahan lagi.
Beberapa saat kemudian aku mengejang.
Buang di luar Gus. kata Yu Nem. Sepertinya dia tahu apa yang akan terjadi. Nanti Yu Nem hamil. Buang di perut.
Aku tarik keluar penisku, aku tempelkan di perutnya, dan aku tekan dengan kuat, merasakan semprotkan maniku. Creettt.crettt.
Aku dipeluknya dengan erat, dan diciumnya wajahku, bibirku, kupingku. Aku jatuh telentang di sebelahnya. Tanpa kuduga, dia hampiri penisku, dan dihisap-hisapnya sisa-sisa maniku. Juga sebagian yang ada di perutnya.
Malam itu aku tertidur pulas. Aku terbangun oleh suara Bu Lik, memintaku segera mandi. Sekilas kulihat wajah Bu Lik menegang. Mungkin kecapekan dari bepergian. Tetapi memang ada yang ganjil. Suaranya amat berat. Dia seperti menghardikku
Pulang sekolah barulah semuanya terjawab. Yu Nem menyeretku dengan wajah tegang.
Jangan cerita ke Ibu bahwa Gus sama Yu Nem gituan, katanya. Perempuan itu bercerita bahwa pagi tadi dia dipanggil Bu Lik, diinterograsi. Ditanya kenapa Yu Nem tidur di kamarku. Mula-mula Yu Nem mengelak. Tapi Bu Lik bilang, bantalku beraroma minyam cem-ceman. Satu-satunya yang dituduh adalah Yu Nem karena dia yang paling dekat denganku. Akhirnya Yu Nem mengaku bahwa dia memang tidur di kamarku karena aku yang minta ditemani. Tidur biasa, tidak ngapa-ngapain.
Bener ya Gus, jangan bilang. Pokoknya jangan ngaku. Wajah Yu Nem benar-benar tegang. Aku sendiri merasa sangat takut. Takut gagal membohongi Bu Lik.
Malamnya, di kamarku Bu Lik menanyaiku. Karung bantal sudah tak beraroma cem-ceman lagi. Sudah diganti.
Kenapa Yu Nem tidur di sini tadi malam? tanya Bu Lik.
Saya takut Bu Lik. Sepi sekali tadi malam ndak ada Bu Lik, jawabku berbohong dengan kecemasan yang seakan hendak membunuhku.
Ndak boleh. Gus ndak boleh tidur dengan pembantu. Ngerti?! Aku mengangguk.
Gituan sama Yu Nem ya? tanyanya. Aku memang sudah menduga akan ditanya begitu. Tapi tetap saja aku amat takut, berdebar-debar. Ngeri.
Ndak kok Bu Lik. Saya ndak mau to.

Sumpah?
Iya sumpah Bu Lik. Perempuan itu menarik nafas, lalu mencium pipiku.
Bu Lik ndak mau kamu gituan sama perempuan lain. Sama Bu Lik saja. Dia memagut bibirku. Malam itu aku disetubuhi Bu Lik.
Sejak peristiwa dengan Yu Nem, aku memang sangat ingin mengulangi. Kesempatan kecil selalu kami gunakan. Kadang-kadang di dalam kamar Yu Nem di tengah malam buta. Tapi seringnya di gudang, di antara tumpukan karung-karung palawija, dalam kegelapan. Setelah selesai, kami menyelinap keluar, persis maling

image hosted by ImageVenue.com

Istri Kakakku Yang Kesepian

155
Filed under Setengah baya

Sebut namaku Dede, semasa kuliah aku tinggal bersama kakakku Deni dan
istrinya Dina. Aku diajak tinggal bersama mereka, karena kampusku
dekat dengan rumah mereka, daripada aku kost. Usiaku dengan Kak Deni
selisih 5 tahun dan Dina 2 tahun lebih tua dariku.

Karena Kak Deni bertugas di kapal, ia sering jarang di rumah. Sering
kulihat Dina kelihatan kesepian karena ditinggal kakakku. Kuhibur dia
dan akhirnya kami sering bercanda. Lama-lama Terkesan kalau Dina
lebih dekat ke aku dibanding Kak Deni. Karena Kak Deni jarang pulang
akhirnya kami sering keluar jalan-jalan. Dan terkadang kami nonton
bioskop berdua untuk menghilangkan rasa sepi Dina. Sering Dina dikira
pacarku, tentu aku jadi bangga jalan dengannya. Seluk beluk di
dirinya membuat mata terpikat dan tak lepas melirik. Keesokan harinya
sepulang kuliah kulihat rumah sepi. Sesaat aku bingung ada apa dan
kemana Dina. Sesaat kulihat di celah pintu kamarnya ada cahaya TV.
Segera kucek apa ia ada di kamar. Kubuka pintunya, sesaat kuterdiam,
terlihat di TV kamarnya adegan yang merangsang, sekilas kulihat Dina
sedang terlentang dan ia kaget akan kehadiranku. “Maaf Mbak!” sahutku
dengan tidak enak.

Lalu kututup pintu kamar dan keluar. Sekilas teringat yang sekilas
kulihat tadi. Dina sedang asyik memainkan buah dadanya yang besar dan
daerahnya yang indah dengan sebagian kulit yang tak tertutup sehingga
memamerkan beberapa bagian tubuhnya. Sesaat beberapa lama di dalam
kamar. Rasanya kuingin menonton yang Dina tonton tadi. Lalu kusetel
CD simpanan di kamarku. Tampaknya birahiku muncul melihat adegan-
adegan itu, sesaat terlintas yang dilakukan Dina di kamarnya.
Tubuhnya merangsang pikiranku untuk berkhayal. Akhirnya seiring
adegan film aku berkhayal bercinta. Kukeluarkan penisku dan
kumainkan. Sesaat aku kaget, Dina masuk ke kamarku. Rupanya aku lupa
mengunci pintu. Ia terlihat terdiam melihat milikku. Wajahnya tegang
dan bingung. Sesaat kami sama-sama terdiam dan bingung.

“Ma.. maaf, ganggu ya,” tanya Dina dengan matanya yang menatap
milikku.
“Eh.. enggak Mbak, a.. ada apa Mbak,” sahutku dengan tanganku yang
masih memegang milikku.
“Nggak, tadi ada apa kamu kekamar?” tanya Dina dengan bingung karena
kejadian ini.
“Oh itu, sangkain aku rumah kosong, aku nyari Mbak,” sahutku sambil
kumasukkan milikku lagi.
“Kamu nonton apa?” tanya Dina lalu melihat film yang kusetel.
“I.. itu.. sama yang tadi,” sahutku dengan isyarat yang ditonton Dina
di kamarnya.
Dina terdiam sesaat sambil melihat film.
“Maaf Mbak, boleh pinjem yang tadi nggak?” tanyaku dengan malu.
“Boleh, kenapa enggak?” jawab Dina.
“Mau minjem Mbak… apa mau nonton di sini?” tawarku kepada Dina.
“Sekalian aja deh, biar rame,” jawabnya.

Adegan demi adegan difilm kami lewati, dan beberapa kali kami
mengganti film. Kami juga berbincang dan mengobrol tentang yang
berhubungan di film. Mungkin karena kami sering berdua dan bicara
dari hati ke hati akhirnya kami merasakan ada kesamaan dan kecocokan.
Kami tidak canggung lagi. Rasanya kami sama-sama menyukai tapi kami
sadari Dina milik kakakku. Kami akhirnya biasa duduk berduaan dengan
dekat. Sering dan banyak film kami tonton bersama. Kami akhirnya
mulai sering melirik dan bertatapan mata. Sesaat saat film berputar
tanpa kami sadari, tatapan mata kami membuat bibir kami bersentuhan.
Tampaknya gairah kami sama dan tak bisa dibendung dan kami tergerak
mengikuti iringan gairah dan birahi. Aku pikir ciuman tak apalah,
akhirnya bibir dan lidah kami saling bersaing. Nafsu membuat kami
terus berebutan air liur.

Beberapa lama kami nikmati kejadian ini, kemudian kami tersadar dan
berhenti. Kami hanya bisa diam dalam pelukan. Mata kami tak sanggup
bertatapan. Rasanya bingung. Cukup lama kami berpelukan sampai
akhirnya kami duduk biasa lagi. Kehangatan tubuh dan sikap Dina
memancing birahiku. Beberapa lama kami tak bisa mengeluarkan kata-
kata. Perlahan kubuai rambut panjang Dina. Tampaknya ia menyukainya.
Perlahan tanganku mengelus pundaknya. Sesaat kami bertatapan lagi.
Wajahnya dewasa dan cantik, kurasakan wajah yang mengharapkan
sentuhan dan kehangatan. Kurasakan isyarat dari Dina untuk berciuman
lagi. Tanpa basa-basi kulahap bibirnya, ahh nikmat rasanya. Bibirnya
terasa lembut di bibirku. Lalu dada kami saling berhadapan. Sekilas
kulihat buah dadanya yang besar. Lalu kupeluk Dina dengan maksud
ingin menyentuh dan merasakan miliknya.

Sesaat kurasakan miliknya di dadaku, besar, empuk dan besar. Perlahan
tanganku mengelus-elus pahanya yang lembut dan halus. Sebagai
penjajakan kuelus selangkangannya, tampaknya ia menikmatinya.
Kurasakan tanganku ia elus sebagai tanda ia menyukainya. Tanpa
menunggu aku segera meraba-raba daerah sensitifnya. Sesaat tanganku
ia raih dan ia giring ke dadanya. Ahh, akhirnya kurasakan buah dada
yang besar di dekapan tanganku. Sesaat kurasakan milikku didekap
tangan Dina, ahh rasanya aku menikmatinya. Perlahan tangannya
memainkan, nikmat rasanya. Perlahan kulepaskan tangan Dina dari
milikku. Kubuka sebagian celanaku sehingga milikku menghunus tegap.
Kuraih tangannya dan kuarahkan ke milikku. Sesaat tangannya mendekap
milikku, ia mainkan lalu beberapa lama kemudian wajahnya menuju ke
milikku dan ia hisap. Ah, lembutnya mulut Dina. Rupanya ia suka
menghisap milikku. milikku keluar masuk di mulutnya secara perlahan
seiring tangannya yang mengayun-ayun milikku.

Perlahan kuangkat kaosnya sehingga terlihat buah dada yang tertutup
bra. Kuraih kaitannya dan kulepas. Perlahan tanganku menyusup di
branya lalu meraba dan meremas buah dadanya yang besar, halus dan
lembut. Kurasakan putingnya yang kenyal mengeras, dadanya pun
mengeras. Lalu tanganku menuju celana pendeknya dan kubuka bersama
celana dalamnya. Ahh, indah tubuhnya bila tanpa pakaian dan sangat
merangsang. Pinggangnya yang ramping dan pinggul yang lumayan,
kulitnya putih bersih dan mulus. Kuelus-elus bokongnya yang halus dan
lembut. Pahanya kuraba lalu bulunya dan tonjolan sensitifnya. Seiring
hisapannya kumainkan bibir vagina yang sudah basah perlahan jariku
masuk ke liang vaginanya. Kurasakan lembut di jemariku, nikmat
rasanya.”Dede.. oouuhhh…” ucapnya seiring jariku yang tertancap di
liangnya. Sesaat kemudian kurasakan gerakan mulut dan nafasnya tambah
cepat. Kurasakan air liur Dina membasahi milikku.

Cukup lama mulutnya bermain sampai ku tak tahan menahan
maniku. “Mmmhhh…” ucap Dina seiring semburanku di dalam mulutnya.
Kurasakan mulutnya tetap menghisap milikku, lalu maniku dan terus
sampai beberapa lama. Kemudian bibirnya selesai bermain. “Udah De?”
sahutnya dengan isyarat apakah aku puas. Aku tersenyum melihat wajah
cantiknya yang memucat dan merangsang. Rasanya milikku belum puas
masuk di mulutnya. Kemudian ia terbaring dengan jariku yang masih
masuk di liangnya. “Mbak yang ini belom,” sahutku dengan isyarat
jariku yang keluar masuk di liangnya.”Emang kenapa?” tanyanya dengan
isyarat wajah yang menanyakan apa keinginanku. Kemudian kubuat posisi
bersetubuh. Kaki Dina mengangkang lebar dan terangkat seakan siap
bermain. Bibir vagina yang agak merah terlihat jelas olehku. Milikku
yang terhunus akhirnya menyentuh bibir vaginanya yang lembut yang
sudah basah. Perlahan kumasukkan dan akhirnya hilang tertelan di
liang Dina yang lembut.

“Mmhhh….” desah Dina dengan dagunya yang perlahan terangkat dan
telapak kakinya memeluk pinggulku. Milikku keluar-masuk diliangnya
dan dada Dina membusung seakan tidak kuat merasakan kenikmatan
sentuhanku. “Ooouuhh… ooouuhhh…” berulang desahan itu Dina
keluarkan. Beberapa lama kurasakan nikmatnya tubuh Dina. Perlahan
kurasakan pinggul Dina bergerak sehingga mempercepat gesekan penis
dan liangnya. Sessat ia dekap tubuhku. Tubuhnya menegang. “Dede…”
ucapnya dengan getaran kenikmatan. Aahhh Kurasakan penisku didekap
kuat liang Dina. “Ooouuuhh,” desah nikmat Dina. Kulihat Dina mulai
melemas pasrah. Melihat ini gairahku meningkat seakan tubuhnya
santapanku. Nafsuku membuat milikku keluar masuk dengan cepat. Ahh,
puncakku disaat penisku masih di dalam liang Dina. Aku tak dapat
menahan semburanku karena nikmatnya tubuh Dina. “Ooouuuhhh…” desah
Dina mengiringi setiap semburanku. Milikku kubiarkan tertancap terus.
Tampaknya Dina tak menolaknya. Tubuhku belum puas menikmati tubuhnya.
Terkadang tanganku menikmati dada dan putingnya. Dan beberapa kali
kami berciuman lagi. Aku tak peduli walaupun bibirnya bekas milik dan
maniku karena benar-benar nikmat.

Sampai tenaga kami pulih, kurasakan dekapan liang Dina yang agak
mengering basah lagi. Lalu kami bermain lagi. Ini terus kami lakukan
sampai kami tak kuat dan tidur kelelahan. Esoknya kami tersadar dan
kami mandi bersama. Tampaknya kami menyukai kejadian kemarin. Rasa
bersalah hilang karena Kami rasakan kecocokan, dan kami teruskan
hubungan ini. Karena kakakku jarang di rumah kami sering berdua,
tidur bersama dan mandi bersama dengan sentuhan-sentuhan yang nikmat.
Ini menjadi rahasia kami berdua seterusnya. sampai aku memiliki istri
dan sama-sama mempunyai anak kami terus berhubungan.

Permainan Terlarang

81
Filed under Setengah baya

Ini pengalamanku sekitar 5 tahun yg lalu. Saat ini aku sudah berusia 38 tahun dan bekerja di salah satu instansi pemerintahan. Dan aku menikah sejak 9 tahun yg lalu dgn 2 anak. Aku berasal dr salah satu kota di Kalimantan dan kuliah di salah satu kota di Jawa. Selepas kuliah aku sempat kerja di perusahaan swasta setahun dan akhirnya diterima di instansi pemerintahan tempat aku bekerja skrg. Tuntutan pekerjaan membuat aku harus beberapa kali pindah kota dan pada 5 tahun yg lalu aku sempat ditempatkan di salah satu kota di propinsi asalku di Kalimantan yg berjarak sekitar 1-1,5 jam dari kota asalku. Pada saat itu istri dan anakku tidak ikut serta karena istriku harus bekerja dan terikat kontrak kerja yg tidak memperkenankannnya mengundurkan diri atau bermohon pindah sebelum 5 tahun masa kerjanya. Sehingga jadilah aku sendiri di sana dan tinggal di salah satu rumah orang tuaku yg mereka beli untuk investasi. Krn kebutulan aku pindah ke sana maka aku tinggal sendiri. Rumah tersebut berada di kompleks perumahan yg cukup luas namun cenderung sepi krn kebanyakan hanya menjadi tempat investasi alternatif saja, dan kalau ada yg tinggal adalah para pendatang yg mengontrak rumah di sana. Jadi lingkungan relatif apatis di sana.
Pada beberapa kesempatan aku kadang-kadang berkunjung ke tempat nenekku yg tinggal di suatu kabupaten (sekitar 4 jam dari kota tempat aku tinggal sekarang) utk sekedar silaturahmi dengan famili di sana. Pada salah satu kunjungan saya ke sana, saya sempat bertemu dengan salah seorang yg dalam hubungan kekerabatan bisa disebut nenekku juga di rumah salah satu famili, sebetulnya bukan nenek langsung. Persisnya ia adalah adik bungsu dari istri adik kakekku (susah ya ngurutnya). Usianya lebih tua sekitar 8-9 tahunan dariku. Profil mukanya seperti Yati Octavia (tentu Yati Octavia betulan lebih cantik), dengan kulit cenderung agak gelap, dan badannya sekarang sedikit agak gemuk. Walaupun terhitung nenekku, ia biasanya saya panggil bibi saja krn usianya ia risih dipanggil nenek. Pertemuan tsb sebetulnya biasa saja, tapi sebetulnya ada beberapa hal yg sedikit spesial terkait pertemuan tersebut. Pertama, saya baru tau kalau suaminya baru meninggal sekitar 1 tahunan yg lalu. Ia yg berstatus honorer di sebuah instansi pemerintah sedikit mengeluhkan kondisi kehidupannya (untung ia hidup di kota kabupaten yg kecil) dengan 2 anak perempuannya yg berusia 12 dan 8 tahun. Saat itu aku bilang akan mencoba utk membantu memperbaiki status honorernya dgn mencoba menghubungi beberapa relasi/kolegaku. Hal spesial yg lain adalah sedikit pengalamanku di masa lalu dgn dia yg sebetulnya agak memalukan bila diingat (saat itu saya berharap ia lupa). Wkt saya masih di bangku SMA, ia dan kadang bersama famili yg lain sering berkunjung ke rumahku krn ia pernah kuliah di kota kelahiranku namun kost di tempat lain. Ia kadang2 menginap di rumahku. Pada waktu ia nginap dengan beberapa famili yg lain, aku sering ngintip mereka mandi dan tidur. Sialnya sekali waktu, saat malam2 aku menyelinap ke kamarnya (di rumahku kamar tidur jarang di kunci), dan menyingkap kelambunya (dulu kelambu masih sering digunakan). Saya menikmati pemandangan di mana ia tidur telentang dan dasternya tersingkap sampai keliatan celana dalam dan sedikit perutnya. Saat itu saya mencoba mengusap tumpukan vaginanya yg terbungkus celana dalam dan pahanya. Setelah beberapa kali usapan ia tiba2 terbangun dan saya pun cepat2 menyingkir keluar kamar. Sepertinya ia sempat melihat saya, hanya saja ia tidak berteriak. Hari2 berikutnya saya selalu merasa risih bertemu dia, namun iapun bersikap seolah2 tdk terjadi apa2. Sejak saat itu saya tdk pernah coba2 lagi ngintip ia mandi dan tidur. Hal itu akhirnya seperti terlupakan setelah saya kuliah ke Jawa, ia menikah dan sayapun akhirnya menikah juga. Inilah pertemuan saya yg pertama sejak saya kuliah meninggalkan kota kelahiran saya.
Beberapa wkt kemudian pada beberapa instansi ada program perekrutan pegawai termasuk yg eks honorer termasuk pada instansi nenek mudaku tersebut. Pada suatu pembicaraan seperti yg pernah saya singgung sebelumnya, nenek mudaku tersebut sempat minta tolong agar ia bisa diangkat sbg pegawai tetap dan akupun kasak-kusuk menemui kenalanku agar nenek mudaku tersebut dapat dialihkan status honorernya menjadi pegawai. Aku beberapa kali menelpon nenek mudaku tersebut untuk meminta beberapa data dan dokumen yg diperlukan. Entah karena bantuan kenalanku atau bukan, akhirnya ia dinyatakan diterima sebagai pegawai. Nenek mudaku itu beberapa kali menelponku utk mengucapkan terima kasih, dan aku yg saat itu memang tulus membantunya juga ikut merasa senang.
Beberapa bulan kemudian aku mendapat telpon lagi dari nenek mudaku tersebut yang mengabarkan bhw ia akan ke kota tempatku bertugas karena ia harus mengikuti pelatihan terkait dengan pengangkatannya sebagai pegawai di salah satu balai pelatihan yang tempatnya relatif dekat dengan rumahku. Waktu itu ia menginformasikan akan menginap di balai pelatihan tersebut namun akan berkunjung ke rumahku juga.
Pada suatu hari Sabtu sore ia tiba di rumahku dengan membawa koper dan oleh2 berupa penganan khas daerahnya tinggal dan buah2an. Ia mengatakan hari pelatihannya dimulai hari Senin namun ia takut terlambat dan akan segera ke balai pelatihan tersebut malamnya. Aku tawarkan untuk istirahat dulu dan menginap satu malam. Namun karena kekahwatiran tersebut ia menolak untuk menginap dan hanya beristirahat saja. Maka ia kutunjukkan kamar tidur yang ada di samping kamar tidurku utk istirahat sejenak.
Tidak ada kejadian apa2 sampai saat itu, dan pada malam harinya ia kuantar ke balai latihan. Namun di balai latihan tersebut suasananya masih sepi dan baru 3 orang yang melapor itupun masih keluar jalan2. Melihat keraguan untuk masuk ke balai latihan tersebut kembali aku tawarkan untuk menginap di rumah dulu dan nanti Senin pagi baru kembali. Ia langsung menerima tawaranku sambil menambahkan komentar bahwa ia dengar balai pelatihan tersebut agak angker. Malam minggu ia menginap dan tidak ada kejadian yg spesial kecuali kami mengobrol sampai malam dan ia menyiapkan makanan/minumanku. Sampai saat itu belum terlintas apa2 dalam pikiranku. Namun ketika ia selesai mencuci piring dan melintas di depanku yaitu antara aku dan televisi yg sedang aku tonton ia berhenti untuk melihat acara televisi sejenak. Saat itu aku melihat silhuote tubuhnya di balik daster katunnya yang agak tipis diterobos cahaya monitor televisi. Saat itulah pikiranku mulai mengkhayalkan yang tidak2. Maklum aku jauh dari istri dan kalau ngesekspun dengan orang lain juga kadang2 (aku pernah ngeseks dengan PSK yg agak elit dan beberapa mahasiswi tapi frekuensinya jarang krn biaya tinggi). Saat itu ia saya suruh duduk dekat saya utk nonton TV bersama2. Kami pun ngobrol ngalor ngidul sampai malam dan ia pun pamit utk tidur. Malam Seninnya juga tidak terjadi apa2 kecuali saat ngobrol sudah mulai bersifat pribadi tentang masalah-masalahnya seperti anaknya yg perlu uang sekolah dan lainnya. Aku katakan bahwa aku akan bantu sedikit keuangannya dan iapun berterima kasih berkali2 dan mengatakan sangat berhutang budi padaku.
Senin paginya ia kuantar ke balai pelatihan tersebut dan dengan membawakan kopernya saya ikut masuk ke kamarnya yang mestinya bisa untuk 6 orang. Dengan menginapnya ia di sana, maka buyarlah angan2 erotisku pd dirinya dan akupun terus ke kantorku utk kerja seperti biasa. Namun pada sore hari aku menerima telpon yang ternyata dari nenek mudaku tersebut. Ia mengatakan bahwa agak ragu2 menginap di balai pelatihan tersebut krn ternyata semua teman2 perempuannya tidak menginap di situ, tapi di rumah familinya masing2 yg ada di kota ini sehingga di kamar yg cukup utk 6 orang itu ia tinggal sendiri kecuali jam istirahat siang baru beberapa rekan perempuannya ikut istirahat di situ. Dgn bersemangat aku menawarkan ia menginap di rumah lagi sambil melontarkan kekhawatiranku kalau ia sendiri di situ (sekedar akting). Ia terima tawaranku dan aku berjanji akan menjemput dia sepulang kantor.
Akhirnya iapun menginap di rumahku dan rencananya akan sampai sebulan sampai pelatihan selesai. Angan2ku kembali melambung namun aku masih tdk berani apa2 mengingat penampilannya yg sdh sangat keibuan, kedudukannya dalam kekerabatan kami yg terhitung nenek saya, dan sehari2nya kalau keluar rumah pakai kerudung (tapi bukan ******). Aku betul2 memeras otak namun tdk pernah ketemu bagaimana cara bisa menyetubuhinya tanpa ada resiko penolakan. Aku sedikit melakukan pendekatan yg halus. Sekedar utk memberi perhatian dan sedikit akal bulus sempat aku belikan ia baju dan daster. Utk daster aku pilihkan ia yg cenderung tipis dan model you can see. Hampir setiap malam ia aku ajak keluar makan malam atau belanja (walupun pernah ia sekali menolak dgn alasan capek). Kalau ada kesempatan aku kadang2 mendempetkan badanku ke badannya bila lagi jalan kaki bersama atau duduk makan berdua di rumah makan. Aku juga sering keluar kamar mandi (kamar mandi di rumahku ada di luar kamar tidur) dgn hanya melilitkan handuk di badan. Selain itu aku juga kadang menyapa dan memujinyaa sambil memegang salah satu atau kedua pundaknya bila ia memasak sarapan pagi di dapur. Dari semua itu saya belum bisa menangkap apakah responnya positif terhadap aku. Dan setelah hampir 1 minggu, yaitu pada hari Sabtu pagi iapun pamit pulang ke kotanya untuk menengok anaknya yg agak sakit dan akan kembali minggu malamnya. Iapun pulang dan aku yg sendirian di rumah akhirnya juga keluar kota ke kota kelahiranku yg jaraknya cuma 1 jam dr kota tinggalku utk main2 dgn teman2 masa SMAku serta silaturahmi ke rumah orang tuaku.
Saat bertemu teman2 lamaku aku agak banyak minum bir dan waktu tidurku agak kurang. Sore menjelang Maghirib akupun pulang ke kota di mana aku tinggal, terlintas sebuah rencana utk menggauli nenek mudaku yg saya perkirakan akan lebih duluan sampai di rumahku (ia kukasihkan kunci duplikat rumah utk antisipasi seandainya aku tdk ada dirumah bila ia datang).
Sayapun sampai di rumah dan memang benar ia sudah ada di rumah. Ia bertanya kepadaku kenapa aku pucat dan keringatan dan saat ia pegang dahi dan tanganku ia bilang agak hangat (mugkin krn pengaruh begadang). Aku hanya berkomentar bhw aku mau cerita tapi tdk enak dan minta agar malam ini makan malam di rumah saja krn aku tdk enak badan. Ia tdk keberatan dan tanya aku mau makan apa, aku bilang aku cuma mau makan indomie telur dan iapun setuju. Seperti kebiasaannya ia selalu buatkan aku kopi dan teh utk dirinya, tak terkecuali malam itu.
Melihat aku masih pucat ia menawarkan obat flu tapi aku bilang aku tdk flu dan tdk bisa cerita sambil pergi dengan pura2 sempoyongan ke kamarku dan bilang aku mau istirahat. Aku masuk kamar dan membuka baju dan berbaring di tempat tidur dgn hanya pakai celana pendek. Iapun menyusulku ke kamarku dan dgn iba bertanya kenapa dan apa yg bisa ia bantu. Dalam hatiku aku mulai tersenyum dan mulai melihat suatu peluang. Ia bahkan menawarkan utk memijat atau mengerik punggungku, tapi aku mau langsung ke sasaran saja dengan mempersiapkan sebuah cerita rekayasa.
Akhirnya aku menatap ia dan menanyakan apakah ia mau tau kenapa aku begini dan mau menolong saya. Ia segera menjawab bahwa ia akan senang sekali bisa menolong saya krn saya sudah banyak membantunya. Iapun kusuruh duduk di tempat tidur dan dengan memasang mimik serius dan memelas sambil memegang salah satu tangannya akupun bercerita. Aku karang cerita bhw aku baru saja kumpul2 sama teman2ku waktu ke luar kota tadi sore. Terus ada salah satu temanku yg bawa obat perangsang yg aku kira adalah obat suplemen penyegar badan. Karena tdk tau, obat itu aku minum dan skrg efeknya jadi begini di mana aku kepingin ML dgn perempuan. Aku karang cerita bhw bila tdk tersalur itu akan membahayakan kesehatanku sementara istriku tdk ada di sini. Aku juga mengarang cerita bhw aku sudah mengupayakan onani tapi tdk berhasil dan tdk mungkin aku mencari PSK krn tdk biasa. Aku katakan bhw dgn terpaksa dan berat hati aku mengajak ia bersedia utk ML denganku utk kepentingan kesehatanku.
Mendengar ceritaku ia terdiam dan menundukkan wajahnya, tapi salah satu tangannya tetap kupegang sambil kubelai dengan lembut. Melihat itu, aku lanjutkan dgn berkata bhw kalau ia tdk bersedia agar tdk usah memaksakan diri dan aku mohon maaf dgn sikapku krn ini pengaruh obat perangsang yg terminum olehku. Selain itu kusampaikan bahwa biarlah kutanggung akibat kesalahan minum obat tersebut dan aku katakan lagi bhw aku sadar kalau permintaanku itu tdk pantas tapi aku tdk bisa melihat jalan keluar lain sambil minta ia memikirkan solusi selain yg kutawarkan. Ia tetap diam, namun kurasakan bhw nafasnya mulai memburu dan dengan lirih ia berkata apa aku benar2 mau ML sama dia padahal ia merasa ia sudah agak tua, tdk terlalu cantik, agak sedikit gemuk dan berasal dari kampung. Aku jawab bahwa ia masih menarik, namun yg penting aku harus menyalurkan hasratku. Ia diam lagi dan aku duduk dikasur sambil tanganku merangkul dan membelai pundaknya yg terbuka karena dasternya model you can see. Kulitnya terasa masih halus dan sedikit kuremas pundaknya yg agak lunak dagingnya. Mukanya pucat dan bersemu merah berganti2, ia juga terlihat gelisah.
Sedikit lama situasi seperti itu terjadi tapi aku tdk tau entah berapa lama, sampai aku mengulang pertanyaanku kembali (walaupun aku sudah yakin ia tdk akan menolak) dan akhirnya ada suara pelan dan lirih dari mulutnya. Aku tdk tau apa yg ia katakan tapi instingku mengatakan itu tanda persetujuan dan dengan pelan aku dekatkan mukaku ke wajahnya. Mula2 aku cium dahinya, setelah itu mulutku menuju pipinya. Ia hanya memejamkan mata, namun gerakan wajahnya yg sedikit maju sudah menjadi isyarat bhw ia tdk keberatan. Sedikit lama aku mencium kedua pipinya dan aku sejenak mencium hidungnya (di situ kurasakan desah nafasnya agak memburu) lalu akhirnya aku mencium bibirnya yg sudah agak terbuka sejak tadi. Sambil melakukan itu kedua tanganku juga beraksi dengan halus. Tangan kananku merangkulnya melewati belakang kepalanya kadang di bahu kanannya dan kadang di tengkuknya di belakang rambutnya yg terurai. Sedang tangan kiriku merangkul punggungnya dan mengusap paha kanannya secara bergantian.
Ciuman bibir mulai kuintensifkan dengan memasukan lidahku ke mulutnya. Ia gelagapan namun tangan kananku memegang tengkuknya untuk meredam gerakan kepalanya. Ternyata ia tidak biasa dicium dgn memasukan lidah ke mulut yg kelak baru saya ketahui belakangan.. Tangan kiriku terus bergerilya, aku menarik bagian bawah dasternya yg ia duduki agar tangan kiriku bisa masuk ke sela2 antara daster dan punggungnya. Berhasil, tanganku mengusap punggungnya yg halus namun masih kurasakan tali BH nya di situ. Dengan pelan2 kubuka tali BH nya. Terasa ada sedikit perlawanan dari dia dengan menggerak2an punggungnya sedikit. Iapun hampir melepaskan mulutnya dari mulutku. Namun bibirku terus mengunci bibirnnya dan tugas tangan kiriku membuka pengait BH nya dibelakan sudah terlaksana. Tangan kananku langsung berpindah dengan menyelinap di balik daster bagian depan dan menuju BH nya yg sudah terbuka. Aku biarkan BH tsb dan tangan kananku menyelinap di antara BH dan payudaranya. Aku elus2 dan cubit2 pelan payudara di sekitar putingnya beberapa saat sebelum akhirnya menuju puting sampai akhirnya payudara yang memang sudah tidak terlalu kencang tapi cukup besar itu kuremas2 bergantian kiri dan kanan. Saat itu mulutnya menggigit bibirku, aku terkaget2, dan dengan cepat kutanggalkan daster dan BHnya dan ia kutelentangkan dikasurku. Ia rebah di kasurku dengan hanya mengenakan celana dalam yg sudah tua dan sedikit lubangnya di bagian selangkangannya. Aku langsung menggumulinya dengan mulutku langsung menuju mulutnya. Ia sempat melenguhkan suara yg sepertinya menyebut namaku. Aku tidak peduli. Mulutku bergeser ke lehernya dan kudengar ia berkata dgn tidak jelas …. ?aduh kenapa kita jadi begini??. Aku tdk peduli dan mulutkupun bergeser ke payudaranya secara bergantion. Akhirnya suaranya yg awalnya seperti keberatan menjadi berganti dengan lenguhan dan desahan yg lirih.
Aku bangkit dr badannya sejenak utk melepaskan celanaku sampai akupun telanjang bulat. Kulihat ia sedikit kaget dan matanya terbuka melihatku seolah2 tak rela aku melepaskan tubuhnya. Namun secepat kilat setelah aku telanjang bulat aku kembali menggumulinya dan melumat bibirnya habis2an. Kedua tanganku merangkulnya dengan memegang erat bahu dan belakang kepalanya. Kupeluk ia erat2 dan iapun membalas ciuman bibirku dengan hangat bahkan liar. Matanya terpejam dan kedua tangannyapun memeluk diriku dan kadang megusap punggungku. Mulutku beralih ke payudaranya. Sekarang aku baru bisa melihat jelas bentuk payudara dan tubuhnya yg lain. Memang bukan bentuk yg ideal sebagaimana umumnya diceritakan di cerita2 saru lainnya. Payudaranya memang besar (aku tidak tau ukurannya) tapi sedikit turun dan tdk kencang. Tubuhnya masih proporsional walaupun cenderung gemuk dengan adanya lipatan2 lemak di pinggangnya dan perut yg kendur karena bekas melahirkan (mungkin), namun kulitnya begitu halus. Mulutku lalu melumat puting payudaranya yg kiri dan tangan kiriku meremas payudara yg kanan. Sedang tangan kananku bergerilya ke selangkangannya dan mengusap2 bagian yg masih terbungkus celana dalam tersebut. Jari2 tanganku menemukan lubang pada robekan celana dalamnya yg sudah tua sehingga jari2ku tsb bisa mengakses ke bagian selangkangannya yang mulai lembab pd rambutnya yg kurasakan cukup lebat. Jari2 kananku memainkan klitorisnya dan kadang2 kumasukkan ke dalam lubangnya sambil menggesaek2annya. Kurasakan desahan dan lenguhannya sedikit lebih keras menceracau. Sekilas kulihat kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan pelan tapi mulai liar. Tangan kirinya dia angkat sehingga jarinya ada didekat telinga kirinya sambil meremas2 seprai dan ujung bantal tidak karuan. Tangan kanannya mengusap kepala dan menarik2 rambutku.
Akupun mulai tdk bisa menahan diri lagi karena penisku sudah berdiri tegak sejak tadi. Ukuran penisku biasa2 saja (sebetulnya aku agak heran dgn ceritaa erotis yg bilang sampai 20 cm, aku tdk pernah mengukur sendiri). Kutarik celana dalamnya sampai lepas. Kemudian aku melepaskan tubuhnya dan mengambil posisi di antara dua pahanya. Waktu kulepas tubuhnya sejenak tadi ia sempat tersetak dan matanya terbuka seolah2 bertanya kenapa. Tapi begitu melihat aku sudah dalam posisi siap mengeksekusi dirinya iapun mulai memejamkan matanya lagi. Sambil kuremas2 payudaranya sebelum memasukan rudalku ke liangnya aku sedikit berbasa basi dan menanyakan apa ia ikhlas aku setubuhi malam ini. Dengan lirih ia mempersilakan dan bibirnya sedikit tersenyum. Kedua tangannya menarik badanku dan akupun mulai memasukkan penisku ke lubangnya. Walaupun sudah lembab dan ia pernah melahirkan, ternayata aku tdk bisa langsunga memasukkan penisku. Sampai2 tangan wanita yg telah lama menjanda dan kehidupan sehari2nya begitu kolot ini ikut membantu mengarahkan rudalku ke lubangnya. Rupanya nafsunya sudah membuat ia terlupa.
Di luar terdengar hujan mulai turun dengan lebat menambah liarnya suasana di kamarku dan pintu kamarku masih terbuka krn aku yakin tdk ada siapa2 lagi di rumah tipe 60 milik orang tuaku ini. Ujung rudalku mencoba merangsek kelubangnya scr pelan2 dgn gerakan maju mundur dan kadang2 berputar di area mulut lubangnya. Tidak terlalu lama rudalku mulai menembus liang senggamanya. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan. Matanya merem dan kadang setengah terbuka. Tangannya ke sana kemari kadang meremas seprai dan ujung bantal, kadang meremas rambutku dan kadang mengusap punggung dan bahkan mencakar punggung atau dadaku. Pinggulnya kadang menyentak maju menuju rudalku seolah2 sangat ingin agar rudalku segera masuk. Akhirnya rudalku yg sudah masuk sepertiganya ke liang senggamanya kucabut tiba2. Terlihat ia kaget dan membuka matanya. Ia memanggil namaku dengan suara yg sudah dikuasai birahi dan bertanya ada apa. Namun sebelum selesai pertanyaannya aku langsung dengan cepat dan sedikit tekanan menghujamkan rudalku ke liangnya yg walaupun sedikit seret tapi akhirnya bisa masuk seluruhnya ke dalam lubangnya dan aku memeluknya dengan mukaku begitu dekat dengan mukanya sambil menatap wajahnya yg penuh kepasrahan namun juga dikuasai birahi yg kuat.
Ia tersentak dan melenguh keras ………….. aaaaaaaahh …. sejenak aku mendiamkannya dengan posisi seperti itu. Ia mencoba menggerakkan pinggulnya maju dan mundur dengan ruang gerak yg terbatas. Aku pun mulai menggerakkan pinggulku ke belakang dan ke depan dengan gerakan pelan tapi pasti. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya dengan liar. Ia menceracau dan terus mendesah dan pinggulnya mencoba utk membawa diriku menggoyangnya lebih cepat lagi. Entah beberapa kali namaku ia sebut. Ia juga menceracau ia sayang dan mencintaiku. Dan aku yg sudah terbawa gelombang birahipun tidak memanggil ia ?bibi? lagi (ia sebetulnya terhitung nenekku, namun krn usianya tdk terlalu tua maka ia sering dipanggil bibi). Ya … dalam keadaan birahi tsb aku juga kadang menceracau memanggil namanya saja. Seperti tdk ada perbedaan usia dan kedudukan di antara kami.
Entah berapa lama aku menggoyangnya dengan gerakan yang sedang2 saja, tiba2 kedua tangannya merangkul tubuhku utk lebih merapat dengan dia. Aku pun melepaskan payudaranya dan juga akan merangkul tubuhnya. Kurasakan betapa lunak dan empuk tubuhnya yg agak gemuk dan memang sudah tidak terlalu sexy itu ketika kudekap. Semua bagian tubuhnya tidak ada yg kencang lagi. Namun kelunakan tubuhnya dan kehalusan kulitnya ditambah pertemuan dan gesekan antara kulit dadaku dgn kedua payudaranya membawa sensasi yg luar biasa bagi diriku. Irama gerakan pinggulku dan pinggulnya tetap stabil. Tiba2 ia mendesah dengan suara yg agak berbeda dan kedua matanya memejam rapat2. Ia mempererat dekapannya dan mengangkat pinggulnya agar selangkangannya lebih rapat dengan selangkanganku. Setelah itu kedua kakinya mencoba mengkait kedua kakiku. Gerakan bibir dan raut mukanya menunjukan kelelahan tercampur dengan kenikmatan yg amat sangat. Rupanya ia sudah orgasme. Ia membuka matanya dan wajahnya ia dekatkan ke wajahku sambil bibirnya terbuka dan memperlihatkan isyarat utk minta aku cium. Bibirkupun menyambar bibirnya dan saling melumat. Ketika lidahku masuk kemulutnya, ternyata ia sudah bisa mengimbangi walaupun dengan terengah2. Terbayang reaksinya waktu orgasme tadi maka gairahku menjadi meningkat. Walaupun tau ia sudah orgasme beberapa saat setelah itu aku mulai meningkatkan kecepatan irama gerakan pinggulku utk membawa rudalku menghujam2 liang senggamanya.
Walaupun sambil berciuman aku tetap mempercepat gerakan pinggulku. Awalnya pinggulnya mencoba mengikuti gerakan pinggulku. Namun tiba2 ia melepaskan mulutku dan kepalanya bergerak kekiri dan diam dengan posisi miring ke kiri sehingga aku hanya bisa mencium pipi kanannya. Matanya merem melek. Dekapan tangannya ketubuhkupun ia lepaskan dan ia angkat ke atas sehingga jari2 kedua tangannya hanya meremas2 seprai di atas kepalanya. Kedua kakinya berubah gerakan menjadi mengangkang dengan seluas2nya. Aku jadi mempecepat gerakan pinggulku. Bahkan gerakan rudalku menjadi lebih ganas yaitu saat aku memundurkan pinggulku maka rudal keluar seluruhnya sampai di depan mulut liang senggamanya namun secepat kilat masuk lagi ke dalam lubangnya dan begitu seterusnya namun tdk pernah meleset. Tangan kiriku kembali meraba payu daranya dan kadang2 ke klitorisnya. Ia menceracau dan kali ini tidak menyebut namaku namun berkali bilang ?aduh …. ampun … sayang …? atau ?kasian aku sayang? dan bahkan ia bilang sudah tidak tahan lagi. Namun aku tau ia terbawa kenikmatan yg luar biasa yang sekian tahun tidak pernah ia rasakan. Malam dingin dan AC di kamarku tdk bisa menahan keluarnya keringat di tubuh kami.
Tiba2 kembali ia melenguh, kali ini lebih keras dan mulutnya maju mencari bibirku. Ya, ia kembali orgasme. Aku tidak menghiraukan mulutnya namun lebih berkosentrasi utk mempercepat gerakan pantatku sambil aku putar. Putus asa ia mencoba mencium bibirku ia rebah kembali, namun pd saat itu akupun mencapai puncaknya dan rudalku menyemburkan sperma yang banyak ke liang senggamanya. Sementara liang senggamanya berdenyut menerima sperma hangatku. Aku terkulai di atas tubuhnya dengan rudalku masih di dalam liang senggamanya. Kami berpelkan dgn sangat erat seolah2 tubuh kami ingin menjadi satu. Kami berciuman dan saling membelai. Berkali2 kami saling mengucapkan sayang. Iapun mengungkapkan betapa bahagianya ia krn selain bisa menolongku menyalurkan libidoku, juga ia merasa terpuaskan kebutuhan yang tdk pernah ia rasakan sekian tahu. Apalagi ketika setelah itu ia semapat bercerita betapa almarhum suaminya begitu kolot dalam bercinta dan sekedar mengeluarkan sperma saja. Ia baru tau bahwa bercinta dengan laki2 dapat lebih nikmat dibanding yg pernah ia rasakan.
Kami tertidur sambil berpelukan. Paginya ketika terbangun jam 8 pagi kami bercinta lagi dengan sebelumnya menelpon ke tempat diklatnya utk memberitahukan bahwa ia tdk enak badan. Ia adalah tipe wanina yg juga agak kolot. Beberapa variasi ia lakukan dgn kikuk. Ia sering tdk bersedia bila vaginanya aku oral dgn alasan tdk sampai hati melihat aku yg banyak menolongnya mengoral vaginanya. Tapi ia mau mengoral penisku kadang2. Biasanya ia mau kalau ia sudah tdk bisa mengimbangi permainanku sedang aku masih mau bercinta.
Selama sebulan ia tinggal di rumahku dan kami sudah seperti suami istri …. bahkan percintaan kami sering lebih panas. 2 hari setelah percintaan kami yg pertama aku malah sempat mengantar ia ke dokter utk pasang spiral agar tdk terjadi hal2 yg tdk diinginkan. Hal yg kusuka darinya adalah ia ternyata pandai menyembunyikan hubungan kami. Jadi bila ada tamu atau famili datang ke rumahku, sikap kami biasa2 saja. Memang aku sempat mendoktrin dia bhw hubungan kami ini adalah hubungan terlarang, namun krn awalnya menolongku maka tdk apa2 dilanjutkan krn ia harus mengerti dgn kebutuhanku sbg laki2 drpd aku kena penyakit bercinta di luaran maka ia tdk perlu tanggung2 menolongku. Selain itu hal yg kusukai dr dia adalah sikapnya yg berbakti kepadaku bila kami berdua saja. Hampir semua permintaanku mau ia terima selama ia anggap permainan normal. Ia bilang itu ia lakukan krn aku banyak menolongnya.
Kadang2 aku memutarkan kaset video BF utk memperlihatkan beberapa variasi padanya. Aku bahkan sempat melakukan penetrasi di anusnya. Sebetulnya kesediaannya utk disodomi itu dilakukan dgn terpaksa krn pd saat kami melakukan foreplay ternyata ia menstruasi. Melihat aku sudah di puncak birahi ia mencoba melakukannya dengan tangan dan mulut tapi tdk berhasil krn ia mmg tdk terlalu lihay. Akhirnya dengan dibantu hand body cream maka anusnya lah yg jadi sasaranku. Sebetulnya aku kasian juga melihat ia menitikan airmata waktu aku mulai menusukan rudalku ke anusnya. Tapi karena aku sudah berada di ujung kenikmatan maka aku tetap melakukannya.
Krn di rumah hanya kami berdua maka kami melakukannya di mana saja, bisa di kamar mandi, bisa di depan TV, dan lainnya. Hal yg paling mengesankan adalah suatu hari pada saat saya pulang jam istirahat siang, ternyata iapun baru pulang juga utk istirahat di rumah krn ada informasi instrukturnya akan datang terlambat sekitar setengah atau satu jam. Mendengar penyampaiannya itu aku langsung mutup pintu rumah dan menyergapnya. Aku baringkan ia di atas hambal di ruang tengah depan TV. Ia gelagapan dan berteriak2 senang sambil berpura2 protes. Aku hanya menurunkan celana tidak sampai lepas dan iapun cuma kusingkapkan rok panjangnya dan melepaskan celana dalamnya. Baju PNS nya hanya kubuka kancingnya dan menarik BHnya ke atas. Kerudungnya aku biarkan terpasang. Sehingga kamu bercinta dgn tdk sepenuhnya telanjang. Mungkin krn agak tegang permainan kami menjadi lebih lama dr permainan biasanya. Akhirnya kami istirahat di rumah dengan hanya makan nasi dan telur dadar krn waktu istirahat tersita utk bercinta.
Pada saat ia kembali ke kotanya kami masih berhubungan sebulan 3-4 kali dalam sebulan. Namun setelah aku pindah ke kota lain hubungan kami jadi sangat jarang. Terakhir ia menikah lagi dengan seorang duda yang usianya 7 tahun lebih tua dari dia. Itupun ia terima setelah aku yg mendorong utk menerimanya wkt ia menceritakan bhw ada orang yg mau melamarnya.
Demikianlah ceritaku. Sebetulnya sampai saat ia bersuamipun aku tau kalau aku datang kepada dirinya dan ia punya waktu maka ia akan bersedia melayaniku. Hanya aku tdk mau mengambil resiko yg lebih tinggi.

Nafsu Mbak Ambar

29
Filed under Setengah baya

Perkenalanku dengan Mbak Ambar berawal dari seringnya aku melakukan kegiatan chatting di internet.

Singkat cerita, wanita tersebut ingin ketemu denganku di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya. Setelah beberapa saat aku duduk sambil meminum sofdrink yang aku pesan, seorang wanita sebaya berjalan menghampiri tempat dudukku.

“Dandy ya..?” sapa wanita tersebut.
“Iya, maaf anda siapa ya?” balasku bertanya.
“Namaku Ambar” kata wanita itu mengenal diri.
“Silahkan duduk Mbak” kataku mempersilahkan wanita tersebut duduk.

Setelah memesan minuman American float, kami berdua terhanyut dalam obrolan-obrolan yang terkadang membuat kami tertawa bersama. Umur 33 tahun tidak memperlihatkan tubuh Ambar mengendur sedikitpun. Tubuh Ambar memang tidak seberapa tinggi, perkiraan aku 165/50. Bibirnya yang sedikit sensual dan dipadu wajahnya yang manis, membuat wanita tersebut kelihatan lebih dewasa. Pinggulnya yang indah dengan style bagaikan gitar spanyol, membuat nafasku naik turun tidak beraturan. Tonjolan bongkahan daging kembar di dadanya yang menurut tebakanku berukuran 34, semakin memperlihatkan sempurnanya wanita tersbut.

“Dandy, kenapa kok bengong?” tanya Ambar.
“Ngg.. nggak kok Mbak, aku cuman terpana aja dengan Mbak” godaku
“Akh kamu bikin aku GR saja” katanya tersenyum.
“Oya Mbak kemarin kok bisa langsung PV nickname aku?” tanyaku.
“Iya ada seseorang yang kasih nickname kamu, kata temanku kamu orangnya asyik aja” jelas Ambar.
“Emang siapa sih Mbak nama teman nya?” tanyaku selidik.
“Sudah deh Dandy, maaf aku nggak bisa kasih namanya. Yang penting aku sudah ketemu kamu sekarang” kata Ambar menjelaskan.

Kami berdua cerita tentang kehidupan kita masing-masing, dan ternyata Ambar termasuk single parent. Itu karena beberapa tahun yang lalu, suaminya pergi entah kemana. Dengan wajah yang sedikit suram, Ambar menceritakan kisahnya sampai dia harus bercerai dengan suaminya.

Ada guratan kesedihan yang nampak jelas diwajahnya, aku seperti tersihir dengan ceritanya. Sehingga membuat aku sering menarik nafas panjang. Ambar menceritakan kalau di Surabaya ini tinggal dengan kakak perempuannya. Sebut saja kota pinggiran kota Surabaya tinggalnya.

Hampir 1 jam penuh kami ngobrol tanpa terasa, sampai akhirnya aku menawarkan untuk mengakhiri pertemuan tersebut.

“Ambar, sudah malam nih” kataku
“Iya” jawabnya lirih.
“Mas, aku dianter pulang ya?” pinta Ambar.
“Oke, tapi mobilku jelek lho” kataku merendah.
“Jelek-jelek kan beli sendiri, lagian aku butuh orangnya kok” goda Ambar.

‘DEG’ jantungku terasa berhenti seketika walaupun dengan secepat itu pula aku berusaha mengontrol keadaan diriku yang mulai ngeres. Aku berusaha menerjemahkan apa arti sebenernya perkataan Ambar tersebut. Betapa bahagianya diriku jika memang dia mau kencan denganku. Seiring obrolan yang sedikit membuat nafasku sesak, kami berdua suadah berada dalam mobil dan segera meluncur untuk mengantar Ambar. 45 menit kemudian, kami sudah berada di sebuah rumah yang tidak sebegitu besar tetapi view nya sangat mengagumkan.

“Dandy, mampir dulu ya?” ajak Ambar.
“Aduh maaf deh, sepertinya ini sudah malam” kataku.
“Sebentar aja, sekalian aku buatin kopi” pinta Ambar menggebu.

Tangannya yang lentik menarikku supaya turun dari mobil dan akhirnya aku memarkir mobilku di depan rumahnya. Ketika aku masuk ruang tamu, bau semerbak bunga sedap malam menyengat hidungku dan menambah suasana romantis.

“Dandy, silahkan diminum,” kata Ambar.
“Iy–iya..” jawabku gugup.

Entah berapa lama aku menikmati suasana sekeliling, karena tanpa terasa Ambar sudah membawa 2 buah cangkir yang berisi kopi dan teh. Aku langsung meminum kopi hangat yang sudah dihidangkan Ambar.

“Mmm, kok sepi memang kakak kamu dimana?” tanyaku.
“Nggak tahu tuh Dandy, mungkin lagi keluar” jawab Ambar.

Malam itu memang Ambar kelihatan sangat menggairahkan, dengan u can see warna cream dipadu dengan rok mini warna merah muda membuat kakinya yang jenjang semakin nampak indah. Sesekali aku melirik pahanya yang putih mulus sehingga membuat ‘adik kecilku’ mulai berontak.

“Dan, kenapa kok bengong?” tanya Ambar mengagetkan lamunanku.
“Tidak apa-apa kok” kataku.
“Dany, aku mau tanya sesuatu boleh nggak?” tanya Ambar.
“Silahkan Mbak” jawabku.
“Mmm, kata temanku kamu sering menulis pengalaman sex kamu di internet ya?” tanyanya.
“Iy–iya sih Mbak” jawabku dengan wajah memerah.
“Terus apa yang kamu ceritakan itu benar kisah nyata kamu?” tanyanya kembali.
“Iya Mbak, aku sengaja tuangkan di situs itu karena aku belum menemukan sosok yang pas buat aku ajak share tentang masalah sex,” jelasku.
“Apa istri kamu tahu?” tanya menyelidik.
“Ya pasti nggaklah Mbak” jawabku.
“Aku sudah baca semua karya tulis kamu dan aku tertarik dengan style kamu saat bercinta dengan wanita setengah baya. Sepertinya kamu perfect banget dalam urusan yang satu itu” puji Ambar.
“Akh, biasa aja kok Mbak.. ” jawabku datar.

Kami membicarakan hal-hal mengenai sex dengan jelas dan terbuka, sehingga tanpa terasa jam sudah menunjukkan pk.20.30 malam.

“Mbak sudah malam nih, aku mau pulang dulu ya?” pintaku.
“Iya deh dan tapi.. ” Ambar tidak meneruskan pembicaraanya.

Ambar langsung berdiri dan menghadap tepat di depan wajahku dan sesaat kemudian Ambar sudah berada diatas pangkuanku.

“Dandy, aku ingin bukti kehebatan kamu dalam bercinta” pintanya.
“Mbak nanti ada orang.. ” jawabku ragu

Tanpa bisa meneruskan rasa kekhawatiranku, bibir Ambar langsung menyumbat bibirku. Tangannya melingkar di leherku sehingga lumatan bibir Ambar seakan menyesakkan nafasku. Kami berdua saling melumat dan mengadu lidah, sehingga lambat tapi pasti birahiku mulai terusik untuk bangkit. Rok mini Ambar yang tadinya rapi, sekarang sudah terangkat ke atas. Celana berenda warna pink semakin menambah kesempurnaan pinggul Ambar. U can see cream Ambar sudah terlepas semua kancingnya sehingga bra nya yang berwarna pink nampak jelas dihadapanku.

Sesekali tubuhnya meliuk-liuk diatas pangkuanku, seakan-akan memberikan indikasi bahwa dia sudah mulai gatal.

Sesaat kemudian Ambar berdiri dan mengkangkangi wajahku, naluriku segera menggerakan wajahku untuk medekati selangkangannya. Bibirku yang sudah mulai nakal, menjilati lutut, paha dan sampailah di tengah selangkangan Ambar. Aku melihat CD warna pink yang tadinya masih bersih, sudah mulai banjir dengan lendir yang membasahi permukaan nonoknya.

“Ohhk.. Dandy.. teruss..” desah Ambar.

Dengan lihai, tanganku yang kiri mendorong pantat Ambar supaya lebih maju dan tangan kiriku menyibak CD yang dikenakan Ambar. Lidahku dengan mudah mendarat pada lubang nonok Ambar yang tampak rimbun ditutupi oleh rambut-rambut kemaluan yang hitam pekat. Bagaikan menjilat es cream, aku semakin berani mengoyak nonoknya dengan lidahku.

“Aoowww.. Daannddyy.. nikmat sekali sayaangg” desah Ambar.
“Dannddy.. aku.. keeluuarr.. aaakhh” Ambar mendesah panjang dan bersamaan dengan rintihan tersebut, cairan hangat keluar dari lubang nonoknya. Dengan liarnya aku segera menjilati seluruh cairan birahi yang meleleh itu, dan aku segera berdiri dari tempat dudukku semula.

Hanya dengan menyibak rok Ambar, aku membimbing tubuh Ambar untuk setengah menunduk. Tangannya menopang tubuhnya pada sandaran tempat duduk. Sedetik kemudian aku sudah mengeluarkan batang kontolku, hanya aku buka resletingku, kontolku sudah berdiri tegak keluar. Ambar hanya menunduk pasrah dengan apa yang akan aku lakukan. Tanganku segera melorotkan CD Ambar sampai sebatas lutut, aku segera menggesek-gesekan kepala kontolku pada lubang Ambar.

“Uggh.. Danddy.. gelii.. ” rintih Ambar.
“Sudah sayang.. masukkan.. aku nggak tahan.. please” pinta Ambar.

Setelah berkata demikian, Ammbar segera menekan pinggulnya sehingga batang kontolku mulai mengoyal bibir nonoknya.

“Aooaa.. beesaarr seekali Danddy..” kata Ambar.

Hanya sekali tekan saja, seluruh batang kemaluanku sudah terbenam dalam lubang nonoknya, kedua tanganku menahan pinggul Ambar agar mengikuti iramaku.

Aku sengaja tidak menggerakkan keluar masuk kontolku, akan tetapi aku menggoyang pinggulku. Gerakan berputar membuat Ambar menggerinjang hebat. Dengan santainya aku memainkan gejolak birahinya, sehingga beberapa saat kemudian tangan Ambar yang pertamnya menopang tubuhnya pada sandaran tempat duduk, sekarang berganti menekan pantatku untuk tidak melepaskan kontolku saat Ambar mencapai orgasme yang kedua.

“Dan.. teruuss.. jangann berhenti saayanng..” rintih Ambar.

Mendengar rintihan Ambar dan gelagat akan orgasmenya Ambar, aku segera menggoyang cepat pinggulku dan sesekali menekan dalam kontolku pada lubang kewanitaanya.

“Amppunn.. kkaamuu.. memang.. hheebbaatt..” rintih Ambar.

Beberapa saat kemudian.

“Danddyy.. aakuu nggak tahann.. oookkhh.. teruss.. sayang.. Danddyy..” Ambar merintih panjang saat aku merasakan cairan hangat membasahi batang kontolku dan jujur saja hal itu membuat birahiku mendekati pucaknya..

“Ccreekk.. Crekk.. Creekk.. ” suara batang kontolku keluar masuk pada lubang nonoknya yang sudah membanjir.

Tubuh Ambar tidak lagi menunduk, tubuh kamu berdiri berbelakangan. Tanganku menggapit perut Ambar dari belakang, pantat Ambar yang sexy menjorok kebelakang dan mendempet sepenuhnya dengan perutku. Tangan Ambar memainkan kedua belah payudaranya, posisi ini memudahkan aku untuk melakukan ‘tusukan-tusukan’ kontolku yang lebih mentok dalam lubang nonoknya.

“Mbaak.. aku.. mau.. keluar..” rintihku.
“Iyaa.. Danndydyy akuu jugaa maau laagii..” rintih Ambar.
“Mbaak.. kita keluarr.. barengg..” kataku.
“Iyaa.. sayangg.. oookkhh” Ambar semakin panjang rintihannya.

Gerakan kami semakin cepat dan tanpa sadar kami melakukannya di ruang tamu rumah Ambar. Batang kontolku semakin senut-senut menahan semburan pejuku yang sudah berada di ujung kontolku.

“Daanddydy.. aku.. kkeell.. uuuaarr aakhh” rintih Ambbar.
“Iyaa.. aaku juggaa Mbaakk.. ” rintihku panjang.
“Aakkhh.. ” kami berdua merintih panjang saat semburan pejuku dalam nonok Ambar.

“Crrutt.. Crut.. Crut.. Crutt.. ” entah berapa kali semburan pejuku muncrat dalam nonok Ambar. Dan disaat aku masih menikmati sisa-sisa kenikmatan persetubuhan tersebut, Ambar seketika merubah posisinya dan duduk. Wajahnya tepat di depan batang kontolku yang masih mengencang.

“Mmm.. ” bibirnya yang mungil segera melumat batang kontolku. Lidahnya menjilati sisa-sisa tetesan peju yang keluar dari ujung kontolku.

“AAkkh.. Mbaakk.. nikmat sekali.. ” rintihku.

Batang kontolku ditelan habis oleh mulut Ammbar yang sensual, hal itu membuat aku semakin terbang saja dan sedikit demi sedikit kontolku mulai melembek dan ‘tidur’ seperti semula.

“Ihh Dandy, punya kamu memang luar biasa. Apa yang selama ini hanya aku dengar dari teman-teman, sekarang aku sudah buktikan” puji Ambar.

Aku hanya menengadahkan wajahku ke atas langit-langit karena sambil memuji Ambar masih saja mengulum, mengocok dan menjilati kontolku. Dentangan jam dinding berbunyi sepuluh kali, aku segera membenahi pakaianku yang amburadul.

“Mbak sudah malam nih, aku mau balik dulu?” kataku.
“Muuacchh..” Ambar mengecup kontolku dan kembali memasukkan kontolku dalam CD, serta merapikan celanaku.

Ambar bangkit dari duduknya dan berhadapan dengan tubuhku, tangannya merangkul leherku.

“Dandy.. ma kasih ya kamu telah memberikan kepuasan untukku” kata Ambar.
“Sama-sama Mbak.. ” kataku lirih.
“Kapan-kapan bisa kan kita ulangi lagi?” tanya Ambar.
“Bisa Mbak, atur aja waktunya” jawabku pasti.

Bersamaan dengan itu bibir Ambar melumat bibirku, 5 menit lamanya Ambar melumat bibirku. Setelah kecupan romantis tersebut, aku segera beranjak menuju mobil starletku. Sambil kembali memandang Ambar yang berdiri di depan pintu melambaikan tangannya, aku segera menekan gas mobilku untuk meninggalkan rumah wanita tersebut.

Malam itu benar-benar membuat aku tidak bisa melupakan dengan apa yang aku alami, Ambar seorang wanita yang anggun ternyata bisa takluk di atas ranjang oleh keperkasaanku.

Ga enak dong kalo cuman baca doang? klik disini untuk menonton video2 indonesia yang kalah hotnya